1988-04-08 Presiden Soeharto Menerima Presiden Republik Sosialis Rumania

Presiden Soeharto Menerima Presiden Republik Sosialis Rumania[1]

 

JUM’AT, 8 APRIL 1988 Presiden Republik Sosialis Rumania dan Nyonya Elena Ceausescu pagi ini tiba di Jakarta dalam rangka kunjungan kenegaraan selama tiga hari. Ini merupakan kunjungan yang kedua kalinya dari pemimpin Rumania itu ke Indonesia; kunjungan pertama dilakukannya pada tahun 1982. Sebagaimana biasanya, upacara penyambutan kebesaran militer digelar di halaman Istana Merdeka. Setelah itu kedua tamu negara melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden dan Ibu Soeharto di Istana Merdeka.

Pukul 15.00 sore ini, Presiden Soeharto mengadakan pembicaraan resmi dengan Presiden Nicolai Ceausescu selama dua jam di Istana Merdeka. Dalam pembicaraan itu kedua pemimpin telah bertukar pikiran mengenai berbagai masalah bilateral dan multilateral. Dalam bidang multilateral, Presiden Soeharto telah mengemukakan pandangannya tentang keadaan dunia yang sekarang ini masih jauh dari apa yang diinginkan oleh .umat manusia. Dikatakannya bahwa dunia kini masih dicemaskan oleh konflik fisik, masih ditekan oleh situasi perekonomian yang tidak menentu, dimana rakyat di ,negara~negara yang sedang membangun masih harus bergumul melawan kemiskinan dan keterbelakangan., Untuk itu Presiden Soeharto menganggap perlu kedua negara mengambil peranan yang aktif dan bertanggungjawab dalam perjuangan membangun tatanan dunia yang lebih adil dan tenteram, baik di bidang politik maupun ekonomi.

Untuk menghormat kunjungan tamu negara dari Rumania itu, malam ini Presiden dan Ibu Soeharto mengadakan jamuan makan malam kenegaraan di Istana Negara. Dalam acara yang juga dihadiri oleh Wakil Presiden dan Ibu Sudharmono serta sejumlah pembesar lainnya, diadakan tukar menukar cinderamata.

Dalam pidato sambutannya, Presiden Soeharto mengemukakan perlunya Indonesia dan Rumania mengambil peranan yang lebih aktif dan bertanggungjawab dalam perjuangan yang tak boleh mengenal lelah untuk membangun tatanan dunia yang lebih adil dan tenteram, baik di bidang politik maupun ekonomi. Dalam rangka perjuangan membangun tatanan dunia baru itu, Indonesia .memandang pacuan senjata hanya menambah ketegangan dunia dan memboroskan anggaran belanja yang sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk pembangunan di negara-negara yang sedang membangun.

Dikemukakannya bahwa Indonesia juga berpendapat bahwa masalah ekonomi dunia perlu diselesaikan secara global. Untuk itu harus ada keIilauan politik yang sungguh-sungguh dari semua negara, dengan tujuan menyerasikan kepentingan negara-negara maju dan kepentingan negara-negara yang sedang membangun secara menyeluruh. Namun demikian, Kepala Negara menegaskan bahwa nasib suatu bangsa pada akhirnya ditentukan oleh bangsa itu, sendiri. Oleh karena itu, Indonesia terus melanjutkan pembangunannya dengan penuh kesungguhan.

Demikian antara lain dikatakan Presiden Soeharto.  (DTS)

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 21 Maret 1988 – 11 Maret 1993”, hal 15-16. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: Nazaruddin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.