BEBAN DWI-FUNGSI ABRI
BEBAN DWI-FUNGSI ABRI [1]
Oleh:Widya
Jakarta, Angkatan Bersenjata
Kepentingan utama ABRI adalah keselamatan Negara jang berdasarkan Pantjasila, keselamatan dan kesedjahteraan Rakjat. Dengan tekad inilah ABRI akan tampil dibarisan paling depan untuk mengatasi masalah2 Nasional dan terutama dalam pengamanan pembangunan ini.
Presiden Soeharto “Commanders Call”
SEORANG pemimpin politik bertanja, apakah Dwi-Fungsi ABRI itu bersifat sementara ataukah akan terus menerus. Menurut pendapat saja, djawaban atas pertanjaan ini pada waktu sekarang ini hanja mempunjai nilai akademis sadja. Pada waktu ini lebih praktis dan lebih berfaedah persoalan, bagaimana Dwi-Fungsi ABRI dengan kerdjasama jg. baik dengan partai2 dan ormas2 komponen Orde Baru bisa mensukseskan pemetjahan masalah2 nasional jang fundamentil bagi pengamanan dan pembinaan kehidupan Demokrasi Pantjasila jang subur, sehingga bisa dinikmati oleh seluruh Rakjat setjara merata. Tanpa menimbulkan anarki individualisme. Tanpa mengundang diktatur partai atau golongan.
Full-blown Democracy
SALAH satu kekeliruan besar jg. dibuat oleh sementara politisi didalam menilai Dwi Fungsi ABRI ialah gagasan seolah2 negara kita dalam satu atau dua tahun bisa disulap mendjadi suatu “Demokrasi sempurna”, atau dgn memakai istilah LORD 1. BRYCE: a full-blown democracy (The Relations of the Advance and Backward Races of Mankind 1902. II, hal. 517).
Demokrasi sematjam itu menuntut adanja pengabdian dalam bentuk tertinggi terhadap kepentingan kesedjahteraan umum, menuntut self disiplin, rasa tanggung djawab dan rasa kewarganegaraan jg lurus dan tidak hanja pada seorang dua orang sadja, tetapi pada seluruh Rakjat. Seperti dikatakan oleh BRYCE dalam penutup bukunja tersebut diatas: “No government demands so muchfrom the effisien as Democracy, and none gives so much back”. Tidak ada pemerintahan jg menuntut begitu banjak dari penduduk seperti Demokrasi dan tidak ada jang memberi begitu banjak kembali.
Djangan Diforsir
BANJAK negara2 Barat jang gagal dalam usaha, mentjapai Demokrasi Sempurna. Kesesatan dan penjelewengan telah terdjadi. Kemerdekaan individu telah berobah mendjadi anarki dalam arti kebebasan tanpa ikatan sama sekali. Ketaatan pada kepentingan umum telah berobah mendjadi ketaatan pada satu golongan, pada satu partai. Banjak negara2 Barat mundur beberapa tapak dari full blown democracy.
Pemimpin2 politik kita diwindu pertama sesudah selesai perang gerilja kemerdekaan tanpa mengindahkan tuntutan2 diuraikan tadi telah memforsir full-blown democracy dengan meninggalkan kepribadian Pantjasila. Hasilnja: suatu seri pemerintahan2 jang lemah tanpa daja kreasi jang mendjadi bulan2an Parlemen. Bergiliran djatuh dan berdiri menurut humeur Wakil2 Rakjat di Parlemen. Tidak mengherankan, kalau keadaan ini mengundang come-backnja PKI. Dan dalam windu kedua kapal PKI berlajar full-speed menudju kearah diktatur partai, tetapi kemudian hantjur terbentur pada taufan jang ditjiptakan oleh G-30-S/PKl.
Benar peringatan BRYCE: It would be folly to act up full-blows democracy. Adalah sinting untuk memforsir Demokrasi sempurna, bilamana alat2nja belum dipersiapkan sebelumnja.
“Big Boss” – ism
PENGALAMAN pahit diatas tidak menipiskan tekad kita untuk menegakkan Demokrasi. Kita sependapat dengan BRYCE, jg membuat tjatatan: “Though Hons stand in the path which leads the Backward people towards democracy, the movement has begun, and dread of liens will hardly arrest it” (II. hal. 517). Meskipun ada beberapa ekor singa mengantjam ditengah djalan jang menuntun Rakjat jang masih terbelakang ke arah Demokrasi, namun pergerakan telah sekali dimulai dan rasa ketakutan kepada singa2 tak akan menghentikan pergerakan itu sebentarpun djua.
Kita menegakkan Demokrasi sesuai dengan kepribadian kita, jakni Demokrasi Pantjasila, seperti jang dimaksud oleh para sesepuh pedjoang2 kemerdekaan kita, jaitu para arsitek UUD 45. Kita membangun Demokrasi Pantjasila tanpa menimbulkan anarki individualisme dan tanpa mengundang come-back-nja diktatur satu golongan seperti di masa jang lampau.
Pengalaman pahit dimasa lalu memberi petundjuk jang berharga kepada kita. Jakni : selama para pemimpin politik berangan2 dan bertindak lebih banjak sebagai “Big Boss” dari pada sebagai Pendidik bangsa, selama itu Demokrasi tak mungkin ditjapai.
Anti Dwi-Fungsi
BAGI para “die-hards” – politisi jg tetap bersuara keras untuk mengembalikan ABRI kepada kandangnja, perlu dikemukakan sedjarah PERICLES (490-429 B.C.). Sebagai negarawan ulung ia telah mengembangkan demokrasi Junani sampai kepada tingkat jang setinggi2nja. Kekajaan negara digunakan untuk tudjuan2 tertinggi dari peradaban, kesusasteraan, filsafat dan seni. Inilah hari gemilang bagi seni drama Junani. AESCHYLUS, SOPHOCLES, EURIPIDES, ARISTOPHANES. Disinari oleh spirit dari para filosoof ANAXAGORAS, SOCRATES dan muridnja jang brilian PLATO. Athena dibangun oleh PERICLES mendjadi kota jang paling indah dengan mengerahkan pada mutiaranja artis.
Djaman Pericles adalah djaman keemasan demokrasi Junani. Tetapi Pericles membentji Sparta jang berdjiwa militer. Ia membuat persiapan-persiapan buat menghadapi konflik. Ia memantjing-mantjing konflik. Kemudian terdjadilah konflik itu jang terkenal sebagai perang Peloponnesia jang berlangsung dua puluh lima tahun dan berachir dengan runtuhnja demokrasi Athena.
Dwi-Fungsi ABRI bukan militerisme Sparta. Dwi Fungsi ABRI djustru pembela dan pelopor Demokrasi, jakni Demokrasi Pantjasila. Dwi Fungsi ABRI wadjib dibantu oleh partai2 dan ormas2 komponen Orde baru.
Beban Demokrasi
Beban jang dipikul oleh Dwi-Fungsi ABRI pada waktu ini ialah mentjiptakan iklim jang subur bagi perkembangan demokrasi Pantjasila. Mendidik bangsa dalam arti meningkatkan setinggi-tingginja rasa pengabdian warga negara untuk kepentingan kesedjahteraan rakjat banjak dengan meningkatkan self disiplin, dan rasa tanggung djawab.
Beban Jang Berat Tetapi Indah
Bagi anggota ABRI jang memikul beban Dwi Fungsi ini saja ingin memetik dua kalimat terachir dari sadjak Rudyard Kipling mengenai “The Withe man’s Barden” sebagai berikut:
Buall yo ery of whisper, by all yo leave or do, the silent sullen peoples, shall weigh your “Gods and You”. Berdasarkan teriakanmu atau bisikanmu, berdasarkan apa jang kamu abaikan atau perbuat. Rakjat jang menggerutu akan diam-diam menilai imanmu dan pribadimu.
Oleh karena itu setiap pelaksana Dwi Fungsi ABRI harus mendjadi pendidik jang tjinta sama rakjat, sehingga rakjat mempunjai penilaian jang tinggi terhadapnja. (DTS)
Sumber: ANGKATAN BERSENDJATA (03/03/1969)
[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku II (1968-1971), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 341-344.
