PRESIDEN: PERLU PENDEKATAN TERPADU UNTUK TINGKATKAN PRODUKTIVITAS
Jakarta, Antara
Presiden Soeharto mengatakan, untuk meningkatkan produktivitas nasional perlu dilakukan pendekatan secara terpadu dengan melakukan kerjasama seerat-eratnya antara semua pihak yang terlibat dalam semua proses produksi yaitu para pekerja, pemilik perusahaan dan instansi pemerintah.
Dalam sambutannya ketika meresmikan pembukaan kampanye produktivitas nasional 1987 dan konvensi nasional gugus kendati mutu 1987 di lstana Negara, Kamis Kepala Negara menyatakan, peningkatan produktivitas dirasakan sebagai tanggung jawab bersama dan perlu diyakini sebagai kepentingan bersama.
Sebab tinggi atau rendahnya produktivitas tidak saja menyangkut penghasilan pekerja tetapi juga menyangkut hidup atau matinya perusahaan. Dalam skala nasional, kata Presiden, maka peningkatan produktivitas tidak saja menyangkut tingkat produksi tetapi menyangkut pengembangan sumber daya manusia dan pembangunan bangsa dalam arti yang luas.
Ia menegaskan, usaha meningkatkan produktivitas memang harus dilakukan diseluruh bidang pembangunan dan di seluruh kegiatan bangsa Indonesia.
“Kita harus menumbuhkan motivasi pengabdian masyarakat,” tambahnya. Hal ini dengan sendirinya menyangkut sikap mental masyarakat Indonesia, penghargaan yang tinggi terhadap kerja, disiplin diri yang kuat dan semangat berprestasi yang tak pemah kendor,” kata Kepala Negara. “Kita juga harus meningkatkan ketrampilan masyarakat kita agar mereka mampu bekerja dan berprestasi,” tandas Presiden.
Hal ini menyangkut baik kemampuan teknis maupun kemampuan pengelolaan yang sangat diperlukan dalam mengejar berbagai keterbelakangan yang dialami bangsa Indonesia, katanya. Ia menambahkan, hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah terciptanya hubungan kerja yang baik di antara berbagai lapisan dan bidang masyarakat pekerja.
Tanpa hubungan yang baik tidak akan terwujud suasana kerja yang menggairahkan, demikian diingatkan Presiden. Pada bagian lain sambutannya, Presiden menguraikan keberhasilan di bidang tanaman pangan yang pada tahun 1969 produksi beras Indonesia baru 12,5 juta ton dan pada tahun 1981 sudah berswasembada beras.
Produksi beras tahun 1986 sudah mencapai 27 juta ton. Meskipun demikian, kata Presiden, usaha peningkatan produksi di bidang pertanian harus ditingkatkan agar bidang pertanian dapat dikembangkan makin kokoh untuk mendukung pembangunan bidang industri. Presiden menguraikan pula kemajuan yang pesat di bidang industri yang perlu dikembangkan lagi dalam Pelita IV dan Pelita V agar bidang industri benar benar menjadi usaha terpadu untuk memantapkan proses industrialisasi dalam arti yang seluas-luasnya.
Untuk itu semua, “produktivitas nasional kita harus dapat terus kita tingkatkan, sebab peningkatan produktivitas akan meningkatkan hasil produksi secara keseluruhan dan peningkatan hasil produksi akan meningkatkan penghasilan masyarakat dan makin mendorong lajunya pembangunan,” demikian Presiden Soeharto.
Menaker
Sementara itu, Menteri Tenaga Kerja Sudomo dalam laporannya mengatakan peserta yang mengikuti konvensi nasional gugus kendali mutu sebanyak 718 orang sedangkan yang hadir pada pembukaan kampanye ini di istana 350 orang.
Peserta dari luar negeri sekitar 172 orang berasal dari Malaysia, Singapura,Thailand, Taiwan, Korea, dan Jepang, sisanya berasal dari dalam negeri.
Konvensi nasional gugus kendali mutu merupakan kerjasama Departemen Tenaga Kerja dengan Departemen Parpostel dan Perindustrian. Konvensi ini dilakukan tiap tahun sejak 1985. (LS)
Sumber: ANTARA (30/07/1987)
Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 503-504.