MENAG PADA PERESMIAN MADRASAH ALIYAH MAN PK

MENAG PADA PERESMIAN MADRASAH ALIYAH MAN PK

Ciamis, Antara

Menteri Agama H. Munawir Sjadzali, MA meresmikan lima Madrasah Aliyah Program Khusus (MAN-PK) yang pertama di lima daerah yang dipusatkan di Kampus MAN-PK Pondok Pesantren Darussalam Ciarnis, Jawa Barat, hari Kamis.

Madrasah Aliyah Negeri Program Khusus yang pertama dicanangkan itu MAN­PK Darussalam di Ciarnis Jawa Barat, MAN-PK Yogyakarta I di Yogyakarta, MAN­PK Jember di Jawa Timur, MAN-PK Ujung Pandang di Sulawesi Selatan dan MAN­PK Kotobaru di Padang Panjang, Sumatera Barat.

Dalam pidato peresmiannya, Menteri Munawir mengatakan, MAN Program Khusus itu dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di lAIN, karena selama ini keluaran lAIN belum mampu mengisi kekosongan hakim-hakim agama, Kepala KUA (Kantor Urusan Agama) dan Kanwil Agama di seluruh Indonesia serta mubaligh yang berkualitas.

“Suatu kenyataan, banyak keluaran lAIN tidak dapat membaca buku/kitab berbahasa Arab, pengisian hakim agama atau KUA terbentur penguasaan bahasa Arab para pelamar yang sangat minim, sehingga mereka yang diterima sedikit sekali, jauh dari kebutuhan”, kata Munawir.

MAN-PK itu selain mendidik para siswa untuk menjadi muslim yang taqwa, menjadi manusia pembangunan yang berjiwa Pancasila, juga untuk mempersiapkan atau memberi bekal pengetahuan dasar ilmu-ilmu agama dan Bahasa Arab kepada siswa yang akan melanjutkan pendidikannya ke lAIN.

Penyelenggaraan MAN-PK itu akan dikembangkan terus ke seluruh Indonesia, sehingga diharapkan setiap tahun bertambah, sedang tahun depan diharapkan dapat membangun lima MAN-PK lagi, tambahnya.

Kurikulum MAN-PK ini 35 persen umum dan 65 persen agama dengan sistem kredit, mulai dari kelas I sampai III setiap siswa beban mata pelajaran yang harus diselesaikan sebanyak 300 kredit.

Kurikulum kelas I sampai III ini antara lain menekankan bahasa Arab 44 kredit, tafsir dan ilmu tafsir 28 kredit, hadits dan ilmu hadits 28 kredit, fiqih 24 kredit, ushul fiqih 24 kredit dan mata pelajaran sisanya di bawah 20 kredit.

Direktur Pembinaan Perguruan Islam Ditjen Pembinaan Kelembagaan Islam Depag Drs. Aya Sofia, M.ED mengatakan, setiap MAN-PK dalam tahun pertama ini hanya menerima 40 siswa/siswi dengan ketentuan lulus testing dan persyaratan lain yang harus dipenuhi, seperti kemampuan mempelajari ilmu agama berbahasa Arab.

Sistem pendidikan ini sama dengan MAN yang sudah ada, ialah klasikal, namun para siswa/wi diasramakan. Dalam asrama itu juga masih diberikan pelajaran/pengajian, terutama belajar menggali ilmu-ilmu agama dari bahasa aslinya atau bahasa Arab.

Setiap MAN-PK dilengkapi perpustakaan, laboratorium bahasa, musholla dan tempat mengaji.

Pondok Pesantren Darussalam luasnya tiga hektar, selain berdiri bangunan­bangunan asrama, juga sekolah mulai TK sampai Institut Agama Islam Darussalam yang berdiri tahun 1970.

Pondok Pesantren yang pernah dikunjungi Presiden Soeharto tahun 1970 itu diasuh oleh KH. Irfan Hielmy. Jumlah siswa/santri sampai akhir Juni 1987 sebanyak 1.488 orang terdiri dari 928 laki-laki dan 560 perempuan. Di antaranya 211 mahasiswa, terdiri 126 laki-laki dan 85 wanita.

Sumber: ANTARA (30/07/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 675-676

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.