PAK HARTO 71 TAHUN Oleh: Abdul Gafur

PAK HARTO 71 TAHUN Oleh: Abdul Gafur[1]

Jakarta, Pelita

MENYAKSIKAN acara tatap muka antara Presiden dan rakyat kecil di Banda Aceh tanggal 27 Mei bulan lalu ( setelah peresmian proyek raksasa Krueng Aceh), suatu tradisi komunikasi timbal balik yang berlangsung sejak Orde Baru di introduser oleh Pak Harto sendiri, muncul kesan khusus dan terselip di dalamnya makna dalam yang sulit diterangkan dengan kata-kata.

Mungkin karena suasana nasional, atau suasana regional di Aceh, mungkin pula karena suasana bathin (saya sedang berkampanye di Maluku pada hari dan tanggal tersebut, setelah putaran pertama berkampanye di daerah Aceh bersama Pak Bustanil Arifin SH), maka dari layar kaca TV tampak wajah Presiden yang di dampingi Ibu Tien Soeharto begitu jernih, gembira dan bahagia. Senda gurau dan humor mengundang gelak tawa baik Pak Harto sendiri maupun seluruh hadirin, sehingga benar-benar terasa tercipta jalinan sambung rasa yang mesra antara Pemimpin Bangsa/Bapak Pembangunan dengan rakyatnya. Pada gilirannya rakyat Aceh (yang diwakili dalam acara itu dengan segala harapan dan permohonan mereka yang sederhana-sederhana saja seperti listrik untuk desanya, kapan Pak Harto mengunjungi lokasi transmigrasi mereka dan lain-lain sebagainya) mereka makin mengerti apa yang dijelaskan oleh Pak Harto dan dari wajah mereka terefleksi kebahagiaan hati yang tak dapat dinilai dengan apapun juga karena mereka dapat langsung bertatap dan bertanya dengan pemimpinnya yang mungkin terjadi hanya sekali dalam seumur hidup mereka.

Wajah Pak Harto yang jernih dan segar memancarkan suasana bathin dan kondisi kesehatan fisik yang prima. Dalam usia 71 tahun yang menurut ukuran orang Indonesia sudah ‘senja’ lazimnya tampak pada kelelahan fisik, wajah yang tidak segar­ bugar, berkurangnya frekuensi kunjungan kerja ke daerah-daerah, dilonggarkannya acara-acara yang padat dan lain-lain. Hal ini ternyata tidak berlaku bagi Pak Harto dilihat dari kegiatan dan aktivitas beliau akhir-akhir ini.

Mantan Presiden Richard Nixon (selama karir politiknya telah mengunjungi lebih dari 80 negara) dalam buku terakhirnya In ThArena, ia menegaskan pandangannya tentang usia senja. Menurut Richard Nixon tidak ada usia senja bagi seseorang sepanjang orang itu selalu melatih otaknya untuk berpikir, mengunjungi banyak daerah, negara, bertemu dan bertukar pikiran dengan orang atau pernirnpin-peminlpin lain.

Hari ini, 8 Juni 1992 genaplah 71 tahun usia Pak Harto. Penampilannya pada pagi yang masih remang tanggal 1 Oktober 1965 untuk menumpas dan menghancurkan pemberontakan PKI melalui apa yang mereka namakan Gerakan 30 September kemudian pada tahun 1967 MPRS memilih dan mengangkat beliau sebagai Pejabat Presiden selanjutnya Sidang Umum MPRS 1968 memilih kembali beliau sebagai Presiden. Fase ini dapat kita katakan sebagai fase konsolidasi Orde Baru. Berangkat dari tekad: melaksanakanPancasiladan Undang-UndangDasar 1945 secaramumi dan konsekwen, Pak Harto lalu mengambil langkah-langkah strategis yaitu pembangunan bangsa di segala bidang termasuk di dalamnya reformasi dan restrukturisasi politik dalam kerangka penataan segi-segi kehidupan bangsa.

Pemilu tahun 1971 (pertama kali dalam sejarah Orde Baru) melahirkan MPR yang tidak lagi menggunakan embel-embel sementara. Tahun 1973 MPR hasil pemilu 1971 bersidang, GBHN ditetapkan, juga TAP-TAP MPR lainnya yang memberikan landasan kokoh dan kuat bagi perjuangan Orde Baru selanjutnya kemudian Pak Harto dipilih kembali oleh MPR sebagai Presiden/Mandataris MPR.

Sidang-sidang Umum MPR berikutnya (dalam kerangka makin memantapkan mekanisme kepemimpinan nasional lima tahunan), Pak Harto selalu memperoleh kepercayaan rakyat dan ABRI dan melalui fraksi-fraksi mereka dalam Lembaga Tertinggi Negara itu beliau selalu dipilih kembali. Sampai pada Sidang Umum MPR 1988 Pak Harto tetap memperoleh kepercayaan yang besar dari rakyatnya, oleh karenanya beliau kembali dipilih sebagai Presiden Republik Indonesia untuk keempat kalinya. Dengan demikian dilihat dari perjalanan sejarah kepemimpinan nasional telah lebih dari dua dasa-warsa Pak Harto telah memimpin bangsa dan negara kepulauan terbesar ini dengan segala suka dan duka, onak dan duri, tapi berkat kerja keras, sabar dan selalu tawakal kepada Tuhan yang Maha Esa ditunjang partisipasi seluruh rakyat maka pembangunan Indonesia telah demikian jauh majunya kalau tidak dikatakan dahsyat kendati di sana-sini masih terdapat kekurangan-kekurangan di berbagai bidang .

Pemilu adalah tugas yang dipikulkan oleh MPR kepada Mandatarisnya. Maka bila besok pagi tanggal 9 Juni 1992 seluruh rakyat Indonesia yang telah punya hak pilih berbondong-bondong ke TPS untuk memberikan pilihannya, dan sehari sebelumnya yakni tgl 8 Juni-hari ulang tahun ke 71 Bapak Presiden Mandataris MPR-dari satu sudut pandang dapat kita simbolkan sebagai kado rakyat Indonesia dan tanda syukur bangsa ini kepada pemimpinnya yang sedang berulang tahun diiringi doa yang tulus semoga Allah swt senantiasa menganugerahkan kekuatan lahir dan batin, kesehatan jasmani dan rohani, diberikan panjang umur untuk memimpin bangsa ini dan menghantarkan rakyatnya ke gerbang pembangunan jangka panjang yang kedua. Amin ya rabbul alamin. Sambil membaca surah AI Fatihah kami semua mengucapkan: “SELAMAT HARI ULANG TAHUN.”

 Sumber : Pelita (08/06/1992)

_________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 703-705.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.