PRESIDEN RESMIKAN PAMERAN INDUSTRI KERAJINAN
Jakarta, Antara
Hubungan ”bapak angkat" dengan industri kecil dan industri kerajinan tidak berarti hubungan antara yang kuat dan yang lemah, karena hubungan semacam itu tidak sejalan dengan semangat kekeluargaan dalam perekonomian bangsa Indonesia.
Hubungan itu harus mempunyai semangat sebagai hubungan antara kekuatan kekuatan yang saling memerlukan, saling menghormati dan saling mengisi, demikian ditegaskan Presiden Soeharto ketika membuka Pameran Industri Kerajinan Indonesia Dalam Interior 1988 di Balai Sidang Senayan Jakarta, Kamis sore.
"Dengan semangat yang demikian, landasan perekonomian kita akan sangat luas dan kukuh," kata Kepala Negara.
Tumbuhnya "bapak angkat" bagi industri kecil dan industri kerajinan merupakan wujud lain perekonomian berdasar atas asas kekeluargaan.
Presiden mencatat bahwa "bapak angkat" bagi industri kecil dan industri kerajinan tersebut semakin lama semakin bertambah banyak, baik dari kalangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun swasta.
"Pengalaman tahun-tahun terakhir ini makin menyadarkan kita bahwa kerja sama yang sehat antara yang besar dan yang kecil ternyata memberi manfaat yang sebesarbesamya kepada semua pihak," katanya.
Menurut Kepala Negara, dalam kerangka yang lebih luas, kerja sama itu membuat ekonomi Indonesia memiliki daya tahan terhadap berbagai gejolak ekonomi dari luar, bahkan dalam beberapa hal telah menghasilkan terobosan-terobosan baru.
Partisipasi "Bapak Angkat"
Pameran yang diselenggarakan atas kerja sama Yayasan Bhakti Nusantara Indah dengan Departemen Perindustrian itu menyajikan berbagai jenis barang kerajinan dan industri kecil yang bersifat khas untuk keperluan interior (tata mang).
Ketua umum pelaksananya, Ny. Siti Hardiyanti Rukmana, dalam laporannya menjelaskan bahwa peserta pameran tersebut terdiri atas 200 pengrajin berbagai jenis barang dari 23 propinsi, di samping beberapa "bapak angkat" yang telah berhasil mendorong berkembangnya industri kecil dan kerajinan.
Tujuan penyelenggaraan pameran itu antara lain untuk menunjukkan kepada masyarakat hasil-hasil pembinaan industri kecil dan kerajinan yang selama ini dilakukan dengan metode pendekatan "bapak angkat".
Sementara itu, Menteri Perindustrian Hartarto dalam laporannya menyatakan bahwa untuk mendorong perkembangan industri kecil yang dewasa ini berjumlah sekitar 1,5 juta unit, masih diperlukan adanya partisipasi "bapak-bapak angkat."
Ia juga melaporkan bahwa ekspor komoditi industri kecil meningkat pesat karena daya saingnya sangat kuat. Pada tahun 1987, katanya, nilai ekspor komoditi industri kecil mencapai sekitar 615 juta dollar AS, berarti meningkat 91,1 persen dibanding tahun 1986.
…
Jakarta, ANTARA
Sumber : ANTARA (26/05/1988)
…
Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 310-311.