STRATEGI PEMBANGUNAN: DI BIDANG KEPENDUDUKAN HASILKAN PENGHARGAAN PBB

STRATEGI PEMBANGUNAN: DI BIDANG KEPENDUDUKAN HASILKAN PENGHARGAAN PBB

 

 

Jakarta, Suara Pembaruan

PENGANTAR Redaksi:

Dalam rangka pemberian penghargaan kependudukan PBB kepada Presiden Soeharto, di bawah ini wartawan Pembaruan menurunkan tulisan mengenai strategi pembangunan nasional. Keberhasilan Strategi Anak Desa Kemusuk, Argomulyo Godean Yogyakarta itu mendapat pengakuan dari dunia internasional. Hari ini, 8 Juni 1989, Presiden RI, Soeharto, tepat pada hari ulang tahunnya yang ke 68, menerima penghargaan dari Lembaga Kependudukan Dunia yang diserahkan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Javier Peres de Cuellar di Markas Besarnya di New York Amerika Serikat

PENGHARGAAN berupa “United Notions Population Award 1989” itu diberikan kepada Soeharto, Presiden Republik Indonesia, karena gagasan-gagasan dan usahanya dinilai PBB berhasil menekan pertumbuhan penduduk dan mengendalikan kelahiran termasuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak.

Untuk kedua kalinya Bapak Pembangunan ini tampil di forum badan dunia atas keberhasilannya. Yang pertama tanggal 14 November 1985, Presiden Soeharto mewakili negara-negara sedang membangun yang berhasil di bidang pembangunan peningkatan produksi pangan untuk memaparkan pandangannya di Roma, Italia. Presiden Soeharto diminta untuk tampil berpidato di sana, bertepatan dengan hari ulang tahun ke-40 badang pangan dunia FAO (Food and Agriculture Organization).

Direktur Jenderal FAO Edouard Souma mengundang Kepala Negara berbicara di sana memaparkan pandangan, usaha serta keberhasilan Indonesia dalam bidang pangan, sedang dari negara maju diwakili Presiden Perancis Francois Mitterand.

Mengapa harus Soeharto? Jawabnya, Indonesia di bawah kepemimpinannya telah mampu mengubah dirinya dari negara pengimpor beras terbesar di dunia menjadi negara swasembada beras sebagai makanan pokok masyarakatnya. Sebelumnya Indonesia mengimpor beras dua juta ton setahun, di mana produksi beras tahun 1969 hanya 12,2 juta ton dengan swasembada pada tahun 1984, produksi bersih mencapai 25,8 juta ton.

Negara berkembang lainnya sebenarnya ada juga yang berhasil di bidang pertanian, akan tetapi tanah pertanian dimiliki para “tuan-tuan tanah”, sedang di Indonesia dimiliki oleh petani itu sendiri.

Dirjen FAO Edouard Souma menyebut Presiden Soeharto sebagai “Lambang Perkembangan Pertanian lnternasional”dengan menyerahkan penghargaan berupa medali emas FAO bertuliskan “Presiden Soeharto-Indonesia” dan “From Rice Importer to Self-Stiffuciency.”

 

Kesederhanaan

Soeharto yang dilahirkan di desa dan dari keluarga petani, pasangan suami isteri Ibu Sukirah dan Bapak Kertosudiro 8 Juni 1921 itu hidup dan dibesarkan dalam kesederhanaan dan keterbatasan kalau tidak bisa dibilang kekurangan. Keadaan yang serba minim masa itulah, yang menempa kepribadiannya untuk mengenal dan menyerap budi pekerti serta filsafat hidup yang berlaku di lingkungannya, baik agama maupun cara hidup Jawa.

Keadaan itu pulalah yang mengajarinya untuk mengenal hidup dan kehidupan masyarakat secara mendalam, serta bagaimana meningkatkan taraf hidup, mensejahterakan masyarakat, dan bagaimana meningkatkan harkat dan martabat bangsa.

Sebagai seorang militer sejati, sejak masa mudanya telah biasa dan diharuskan mempunyai kemampuan untuk menetapkan strategi dalam menghadapi lawan. Kebiasaan dan kemampuannya dalam menetapkan strategi ini, dalam perjuangan merebut, memperoleh dan mempertahankan serta mengisi proklamasi Kemerdekaan 15 Agustus 1945, membawanya dari suatu keberhasilan yang satu ke keberhasilan berikutnya.

Apalagi setelah dipercaya bangsa Indonesia melalui Majelis Pemusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) yang mengangkatnya menjadi Pejabat Presiden tanggal 12 Maret 1967 kemudian diangkat menjadi Presiden Republik Indonesia yang ke dua tanggal 27 Maret 1968, Soeharto sudah memulai strateginya dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, di mana di pundaknya terletak nasib masyarakat, bangsa dan negara Republik Indonesia.

 

Pegangan Hidup

Dengan pegangan hidup yang diwarisinya yaitu “tiga aja?”: “aja kagetan, aja gumunan, aja dumeh” (jangan kaget, jangan heran dan jangan mentang-mentang), ia memikul tugas itu dengan pasrah dan bertekad untuk bekerja keras. la dan keluarganya tidak kaget, juga tidak heran menerima jabatan sebagai Orang Nomor Satu di Republik ini serta tidak mentang-mentang atau menerima kepercayaan itu tidak hanya sebagai kehormatan tetapi sebagai tugas berat yang harus diemban.

Setahun kemudian, 1 April 1969, dimulailah Pembangunan lima Tahun I (Pelita I), sekaligus menempatkan para ahli dari universitas kombinasi dengan ABRI duduk di kabinet sebagai pembantunya. Sebagai awal dari suatu era bagi kehidupan bangsa Indonesia, ditetapkan, kabinet tersebut bertugas pokok untuk stabilitas politik termasuk pelaksanaan politik luar negeri, pemilihan umum, pengembalian ketertiban dan keamanan, penyempurnaan dan pembersihan aparatur negara dan stabilitas ekonomi serta pembangunan lima tahun.

Semula pembangunan itu ialah pembangunan pertanian dengan industri yang mendukungnya dengan sasaran yang sangat sederhana, yaitu cukup pangan, cukup sandang, cukup papan, cukup lapangan pekerjaan, dan meningkatkan pendidikan dan kebudayaan dengan kemampuan.

Strategi Soeharto itu dibarengi prinsip, kita melaksanakan pembangunan dengan kekuatan sendiri.Karena keterbatasan kemampu an, maka untuk mempercepat proses pembangunan nasional harus dimanfaatkan prinsip kerja sama dengan bangsa-bangsa lain. Namun bantuan luar itu hanya sebagai pelengkap dan selalu berjaga-jaga agar tidak menyengsarakan rakyat di kemudian hari.

 

Stabilitas

Di Pelita I, sebagai mandataris yang dibekali beberapa Ketetapan MPRS, Soeharto mengawali strategis tersebut dengan berbagai stabilitas di bidang politik, keamanan, dan sosial ekonomi yang satu dengan yang lain saling mengait dan mempengaruhi. Bagaimana mungkin membangun ekonomi bila gejolak politik terus berkecamuk. Tidak mungkin masyarakat dapat diajak berpartisipasi dalam pembangunan negara bila dihantui perasaan tidak aman dan tidak tertib.

Untuk membangun ekonomi dalam kemampuan yang serba terbatas, itu perlu bantuan dan kerja sama yang saling menguntungkan dengan negara lain, bila tidak ditumbuhkan kepercayaan. Kerawanan politik akan selalu timbul bila kelaparan selalu membayangi masyarakat.

Mengolah tanah dengan kemampuan yang tradisional dan lahan persawahan yang terbatas bagaimana mencukupi pangan. Kalau kebutuhan pangan tidak terpenuhi ,juga sandang dan papan, akan menimbulkan kesulitan. Karena itu pertumbuhan penduduk harus ditekan dengan mengendalikan kelahiran dan penduduk perlu disebar agar tidak menumpuk di suatu wilayah.

Tetapi bagaimanapun baiknya perencanaan kalau tidak didukung oleh aparatur yang tangguh, loyal dan jujur, hasilnya akan nihil. Untuk itu perlu penertiban aparatur, pemberantasan korupsi dan penyelewengan serta penyalahgunaan jabatan.

Strategi pembangunan nasional yang tertuang dalam Repelita I itu terus ditingkatkan dari tahun ke tahun sampai pada Pelita ke Pelita, di mana saat ini sudah memasuki tahun I Pelita V yang merupakan Pembangunan Jangka Panjang 25 Tahun Pertama dan akan dilanjutkan lagi dengan Pembangunan Jangka Panjang 25 Tahun Kedua.

 

Terus Ditingkatkan

Sesuai dengan kemampuan yang semakin bertambah dari ke tahun ke tahun dan dari Pelita ke Pelita, maka pembangunan pun terus ditingkatkan di segala bidang.

Di bidang politik, Orde Baru telah melaksanakan Pemilihan Umum empat kali setelah diadakan penyederhanaan partai dari 10 peserta Pemilu di tahun 1971 menjadi tiga di tahun 1977. Tahun 1978 MPR juga telah menetapkan Eka Prasetya Panca Karsa (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila-P4) sebagai suatu pola untuk meningkatkan kesadaran politik masyarakat. Setelah itu, telah dicapai pula sukses besar dalam pelestarian Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bagi kekuatan sosial politik dan sosial kemasyarakatan.

Di bidang ekonomi, Soeharto, anak petani itu menetapkan, menuju masyarakat modem harus mempunyai industri yang kuat dengan dukungan pertanian yang tangguh. Maka dilakukanlah intensifikasi massal, intensifikasi umum, intensifikasi khususdan supra intensifikasi khususdi bidang pertanian.

Pencetakan sawah terus dilakukan di berbagai daerah, dengan membuat bendungan-bendungan untuk irigasi sekaligus keperluan pembangkit tenaga listrik yang sangat vital untuk industri. Mengingat masih banyaknya petani yang memiliki lahan pertanian di bawah setengah hektar, maka ditingkatkanlah program transmigrasi. Dalam mendukung pertanian yang tangguh itu program transmigrasi juga dikaitkan dengan proyek Perkebunan Inti Rakyat (PIR) yang telah tersebar di mana-mana.

Menunjang berbagai program di atas, dibangun pula industri hulu maupun hilir, misalnya pabrik-pabrik pupuk di Aceh, Palembang, Jawa Barat dan Kalimantan Timur, yang sumber energinya adalah dari panas bumi. Untuk mempermudah pengangkutan kebutuhan dan hasil industri maupun pertanian serta mobilisasi penduduk, telah dibangun berbagai sarana perhubungan. Mengingat Indonesia terdiri dari 13 ribu lebih pulau maka perlu hubungan yang cepat. Untuk itu diputuskanlah perlunya pemilikan Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) Palapa, dan bagi sarana perhubungannya dimulailah pembangunan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN).

Di bidang sosial kemasyarakatan, strategi pembangunan nasional “Keluarga Bahagia” telah digandrungi masyarakat. Melalui program Keluarga Berencana, motto masyarakat “banyak anak, banyak rezeki “ telah beralih menjadi “Keluarga kecil bahagia, dua anak cukup. Laki-laki perempuan sama saja”.

Dengan demikian membicarakan hasil strategi pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila yang telah dilaksanakan Orde Baru, tidak akan habis-habisnya. Dari hasil yang satu disusul hasil yang berikutnya. Perlu pula dicatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dicapai walaupun perekonomian dunia mengalami kelesuan adalah ditunjang oleh stabilitas yang dapat dikendalikan serta dinamis sejak Orde Baru.

Sebagai unsur Angkatan 45, Generasi Pembebas Bangsa Indonesia dari cengkeraman penjajah, Soeharto berusaha merampungkan tugas pengabdian dan tugas sejarah. Kerikil-kerikil tajam yang bisa mengganggu persatuan dan kesatuan generasi pembebas, disingkirkan satu per satu, baik di bidang politik, ekonomi, sosial maupun kemasyarakatan.

Hasil dari strategi pembangunan nasional yang telah diterapkan secara berencana sejak awal Orde Baru, tidak hanya di bidang swasembada beras dan pengendalian pertumbuhan penduduk. Akan tetapi hasil pembangunan nasional itu meliputi semua bidang, yang masih harus dilanjutkan menuju cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, yaitu masyarakat adil makmur dan lestari berdasarkan Pancasila.

Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-68, Soeharto, Presiden Republik Indonesia dengan strategi pembangunan nasionalnya, tampil berpidato di PBB, untuk memaparkan pengalamannya dalam melaksanakan kebijaksanaan kependudukan di Indonesia hingga mencapai hasil seperti sekarang. Penghargaan kepada Presiden Republik Indonesia Soeharto itu sekaligus menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.

 

 

Sumber : SUARA PEMBARUAN(08/06/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 184-188.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.