TIGA PILIHAN DIANTARA GENERASI MUDA
Tadjuk Rentjana
TIGA PILIHAN DIANTARA GENERASI MUDA [1]
Djakarta, Sinar Harapan
APABILA kita mengikuti laporan2 mengenai pertemuan “Diskusi Kita” pada hari Sabtu tanggal 27 Maret jbl, maka kesan kita pertama ialah bahwa pertemuan tsb rupanja diliputi oleh suasana reuni suatu keluarga besar jg masing2 anggotanja telah memilih djalannja sendiri2, walaupun semuanja masih tetap memiliki kerangka pemikiran dan nilai2 jang setjara umum mereka akui semuanja.
Dalam kerangka pemikiran bersama itulah mereka membitjarakan perbedaan2 antara mereka. Dengan mengemukakan nilai2 bersama itulah mereka membenarkan pilihannja masing2.
Setjara tersirat semuanja mengakui kenjataan bahwa pada waktu ini ABRI memainkan peranan jang penting, semuanja sadar bahwa diwaktu jang lalu parpol2 telah menundjukkan banjak kelemahan2. Semuanja mendukung pembangunan jang akan membuka masa depan jang lebih baik.
Semuanja sadar bahwa pembangunan berarti djuga adanja pembaharuan struktur politik. Pantjasila dan bahaja komunis rupanja hampir tidak disinggung. Setjara implisit agaknja semua peserta bertolak dari pemikiran bahwa pembangunan jang sehat, termasuk pembangunan politik jang sehat, merupakan djalan jang terbaik untuk memperkokoh negara Pantjasila dan untuk menghadapi bahaja komunis.
Dalam kerangka pemikiran jang sama tadi, ada jang memutuskan untuk mendukung Golkar, ada jang mendukung salah satu parpol dan ada pula jang tidak akan mengambil bagian dalam pemilu. Disini akan kita tjoba untuk menggambarkan djalan pikiran mereka masing2 dengan kata2 kita sendiri.
Rahman Tolong mendukung Golkar dengan alasan bahwa menurut dia inilah satu2nja djalan untuk memperdjuangkan pembaharuan struktur politik. Dia agaknja tidak pertjaja bahwa pembaharuan struktur politik akan dapat ditjapai sebagai hasil dari pembaharuan pemikiran dikalangan parpol2 sadja.
Apakah tidak tjukup untuk mengadakan suatu gerakan pembaharuan disamping parpol2 jang ada dan jang akan bersaing dengan parpol2 itu atas dasar jang sama seperti didjalankan oleh IPKI pada pemilu tahun 1955?
Apakah jang disebut Bujung Nasution taktik “bulldozer” suatu hal jang dapat dihindarkan dalam memperdjuangkan pembaharuan struktur politik itu?
Dalam laporan2 mengenai pertemuan hari Sabtu tidak disebut bahwa Rahman Tolong menangkis tuduhan mengenai taktik “bulldozer” ini.
Djustru gambaran itulah jang agaknja membawa Nurcholish Madjid kepada pertanjaan: Apakah dengan djalan itu tidak akan ditjiptakan keadaan jang lebih parah lagi daripada keadaan jang hendak diperbaiki? Kekuasaan ABRI dengan didampingi oleh Golkar jang tidak dapat diharapkan untuk mendjalankan “check and balance” terhadap ABRI nanti dapat melahirkan kekuasaan mutlak dengan segala akibatnja. Dalam hubungan ini kita ingat kepada pengalaman partai dan tentara Kwuomintang dahulu.
Kesimpulan Nurcholish ialah bahwa diperlukan kekuatan disamping ABRI dan Golkar agar ada “check and balance” sehingga pengalaman kwuomintang dapat dihindarkan. Dengan alasan itulah dia membenarkan pilihannja untuk mendukung salah satu parpol.
Lain lagi sikap Bujung Nasution dan beberapa pembitjara lain. Bujung bagaimanapun tidak melihat ada faedahnja untuk mendukung salah satu parpol. Sekalipun tjita2 Golkar menarik baginja, namun sebagai seorang moralis dia tidak dapat menjetudjui apa jg disebutnja taktik “bulldozer”. Agaknja dia bertanja dalam hatinja: Bagaimanakah dengan tjara2 seperti itu dapat ditjapai pembahaman struktur politik jang sehat? Berdasarkan alasan2 tadi maka Bujung akan mendjadi penonton sadja dalam pemilu j.a.d.
Pilihan pertama menekankan kepada perlunja kekuatan dan kekuasaan untuk membuka pintu bagi struktur politik jang baru. Kesimpulan jalah “joint” dengan fihak jang memiliki kekuatan dan kekuasaan.
Pilihan kedua menekankan kepada perlunja kekuatan jang demokratis jang dapat mengadakan “check and balance” untuk menghindarkan bahwa kekuasaan dan kekuatan tadi mendjadi mutlak dan korup. Untuk itu harus “joint” dengan salah satu parpol.
Pilihan ketiga menekankan kepada perlunja moral force. Untuk itu diperlukan penonton2 dengan tangan2 jang bersih.
Kita masih menunggu kelandjutan dari pertjakapan diantara generasi muda mengenai ketiga pilihan tadi, sebab pertjakapan itu mentjerminkan pilihan2 jang terbuka bagi masjarakat kita umumnja mendjelang pemilu. (DTS)
Sumber: SINAR HARAPAN (30/03/1971)
[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku II (1968-1971), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 680-681.
