1977-03-13 Presiden Soeharto: Tapos Untuk Perbaikan Mutu Ternak

Presiden Soeharto: Tapos Untuk Perbaikan Mutu Ternak[1]

MINGGU, 13 MARET 1977, Hari ini Presiden Soeharto menerima para peserta rapat kerja Departemen Luar Negeri di peternakan Tapos, Bogor. Pada kesempatan itu ia mengatakan bahwa ranch Tapos bukan untuk mengumpulkan kekayaan atau untuk menjamin hidup anak-cucu sampai tujuh turunan. Bahkan Presiden Soeharto membantah desas-desus yang ditiupkan oleh peserta pemilihan umum yang mengatakan bahwa semua tanaman cengkeh yang ada di Jakarta dan Bogor adalah miliknya. Dikatakannya, PT Rejo Sari Bumi, yang didirikannya pada tahun 1974 dibawah pimpinan Sigit Soeharto, telah mendapatkan izin hak guna tanah bekas perkebunan zaman Belanda yang tidak terurus lagi. Dijelaskannya bahwa peternakan yang diberi nama Tri-S Ranch atau singkatan dari Sari Silang Studi, bertujuan untuk membantu program pemerintah dalam perbaikan mutu ternak dengan jalan perkawinan. Selain berfungsi sebagai tempat pembibitan berbagai jenis sapi unggul dari luar negeri, juga merupakan suatu pusat penelitian bagi penyediaan, penanaman dan pengawetan makanan ternak.

Presiden Soeharto selanjutnya bertindak sebagai guide dan secara lancar memberikan penjelasan mengenai pembibitan dan penyilangan sapi-sapi jenis Santa Getrudis, Brahman, Charolais, Angus dan lain-lain, serta domba-domba jenis Suffolla, Dormes, Dorset dan Cribas.

Kemudian Presiden Soeharto dan rombongan yang terdiri dari para duta besar, atase pertahanan dan kepala bagian ekonomi dari kedutaan-kedutaan kita di negara-negara IGGI, serta didampingi oleh beberapa menteri dan Jaksa Agung, melanjutkan peninjauan ke Ciomas. Dalam perjalanan antara Tapos dan Ciomas, Presiden Soeharto beserta rombongan mampir di Koperasi Unit Desa (KUD) “Sugih Tani” di desa Cibedug, Kecamatan Ciawi. Dalam kesempatan itu Presiden Soeharto mengatakan bahwa bentuk koperasi merupakan bentuk perekonomian yang paling baik untuk Indonesia. Di Ciomas rombongan bergabung dengan para isteri peserta rapat kerja yang baru selesai mengadakan acara dengan Ibu Tien Soeharto. Di sini Presiden Soeharto dengan santai menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan yang berkisar tentang penyakit “mati bujang” yang menyerang tanaman cengkeh. Presiden Soeharto juga mengatakan bahwa sebagian tanah di Ciomas ini dipinjamkan kepada Pusri dalam rangka pengembangan suatu jenis kembang yang mempunyai pasaran kuat di Eropa, yaitu “Red Lily”. Kalau tanam-tanaman ini cocok dengan iklimnya, maka bibitnya akan dibagi-bagikan kepada rakyat setempat untuk dikembangkan. (WNR)



[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978”, hal 466. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.