1977-10-25 Musim Kering Panjang, Presiden Soeharto: Rakyat Tidak Usah Gelisah

Musim Kering Panjang, Presiden Soeharto: Rakyat Tidak Gelisah[1]

 

SELASA, 25 OKTOBER 1977 Hari ini berlangsung sidang Dewan Stabilisasi Ekonomi Nasional di Bina Graha yang dipimpin langsung oleh Presiden Soeharto. Didalam sidang Presiden menyerukan kepada penduduk daerah-daerah yang dilanda kekeringan dewasa ini untuk tidak usah gelisah, karena Pemerintah sudah siap dengan langkah-langkah penanggulangannya. Terungkap di dalam sidang bahwa ada lima daerah yang memerlukan perhatian khusus sebagai akibat dari musim kering yang berkepanjangan, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat. Di kelima daerah itu terdapat 272 kecamatan yang paling menderita, dan kepada penduduk di kecamatan tersebut, Bulog telah menyediakan beras (setara beras) sebanyak 7.200 ton, sebagai pinjaman. Juga diadakan penambahan 163 proyek padat karya, disamping proyek­proyek padat karya yang telah ada. Bagi penduduk yang tidak mampu bekerja, Departemen Sosial menyediakan bantuan 3.400 ton beras (setara beras) dan bantuan ini sudah mulai disalurkan.

Selain itu, Bulog diinstruksikan Presiden untuk melaksanakan operasi pemasaran yang meliputi 0,5 juta ton beras; jumlah ini diperkirakan akan cukup sampai bulan Maret atau pertengahan April 1978. Disiapkan pula penyediaan bibit padi oleh Departemen Pertanian, penyediaan mobil tangki air bagi daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta peningkatan Kredit Candak Kulak.

Pemerintah juga menetapkan bahwa sumbangan rehabilitasi cengkeh (SRC) yang sebelumnya Rp 100,- per kilogram, mulai tanggal 26 Oktober 1977 dinaikkan menjadi Rp 300,-. Dengan kenaikan maka tidak dibenarkan lagi diadakannya pungutan-pungutan lainnya. Sedangkan uang yang sudah terkumpul dari SRC sebelumnya harus diserahkan kepada daerah serta diadministrasikan dan digunakan untuk pembangunan daerah.

Presiden juga meminta kepada para menteri untuk mempersiapkan tindakan lebih lanjut guna mewujudkan peningkatan kerjasama dalam bidang ekonomi dan perdagangan dengan negara-negara Timur Tengah sebagai hasil perlawatan Presiden. Antara lain perlu tanggapan terhadap kesediaan Kuwait untuk membangun penyulingan minyak di Pulau Batam dan terhadap perhatian Arab Saudi yang besar dalam pembangunan proyek aluminium di Pulau Bintan. (AFR).



[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978”, hal 559. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta, Tahun 2003.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.