Tokoh Yang Patut Di Tiru
Gunung Putri, 22 Juni 1998
Kepada
Yth. Bapak Soeharto
di Jl. Cendana No.8
Jakarta
TOKOH YANG PATUT DITIRU [1]
Assalamu’alaikum wr. wb.
Apa khabar, Pak? Semoga Bapak dan keluarga dalam keadaan sehat wal’ afiat serta selalu dalam lindungan Allah swt. Ty minta maaf kalau surat ini mengganggu waktu Bapak.
Nama saya Etty SR dan saya biasa dipanggil Ty. Usia saya 24 Desember nanti 28 tahun, tetapi saya belum menikah. Mungkin karena YME belum memberikan jodoh yach, Pak ? Tapi saya tidak putus asa dan frustasi, karena hari-hari saya diisi dengan bekerja sebagai staf HRD di PT. Cidas Supra Metalindo dengan status Karyawan Percobaan.
Doakan saya yach Pak, supaya bisa terus bekerja sehingga dapat meringankan beban orangtua yang sudah pensiun dan lanjut usia.
Sebenarnya sudah lama saya ingin mengirim surat ke Bapak tetapi baru saat ini kesempatan itu datang, karena terus terang saja Pak, saya baru tahu alamat Bapak dari surat kabar yang akhir-akhir ini semakin gencar memberitakan Bapak dan keluarga.
Saya ingin menyampaikan rasa simpati dan kekaguman saya kepada Bapak. Saya tidak peduli walaupun berita-berita negatif mengenai Bapak dan keluarga semakin ramai dibicarakan. Walaupun saya tidak mengenal Bapak secara langsung, tetapi saya tahu kalau Bapak tidak seperti yang mereka katakan.
Bahkan pada waktu saya mengikuti pelatihan mengenai Achievement Motivation Training pada tanggal 23 sampai dengan 25 April 1998 lalu, pada saat presentasi, saya beserta kelompok saya memilih Bapak sebagai seorang tokoh yang patut ditiru oleh generasi muda.
Demikianlah Pak, surat saya ini. Mudah-mudahan Bapak mau menerima rasa simpati saya teriring pula doa untuk Bapak, semoga Bapak diberi kesehatan, kesabaran, ketawakalan dalam menjalani hidup ini. Saya ucapkan pula selamat ulang tahun, walaupun terlambat, saya yakin Bapak mau menerimanya.
Akhir kata saya mahan ma’af apabila banyak kata-kata yang tidak berkenan di hati Bapak. Dan semoga Bapak mau membalas surat saya ini. (DTS)
Wassalam wr. wb.
Etty SR
Bogor
[1] Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 87-88. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.
