Saya Ingin Berteriak
Empang, 19 Juni 1998
Kepada
Yth. Bapak H. M. Soeharto
di rumah
SAYA INGIN BERTERIAK [1]
Bapak Soeharto yang terhormat,
Saya mengucapkan rasa simpati atas perlakuan orang-orang yang menghina Bapak ataupun keluarga Bapak. Saya sangat sedih dan hampir setiap saya mendengar berita, saya menangis.
Orang-orang yang melakukan hal itu, sepertinya tidak tahu berterima kasih. Jangankan bisa membalas jasa, malah menghina orang yang paling berjasa, mungkin mereka yang melakukan hal bodoh semacam ini, tidak pernah menghayati, ataupun mengamalkan Pancasila.
Rasa simpati ini rasanya tidak puas kalau saya ungkapkan lewat kata-kata. Saya ingin berteriak, saya ingin memprotes bahwa mereka adalah orang-orang yang sudah terkena virus. Mengapa hanya pendapat mahasiswa saja yang diperdengarkan kepada kami rakyat kecil. Kami bisa berbicara dengan bahasa kami sendiri, dan orang-orang tua kami bisa mengajarkan kepada mereka tentang sejarah, dan tentang kesayangan kami semua kepada Bapak Soeharto tercinta. Kami sudah lama merindukan senyum khas Bapak, senyum yang membuat kami tetap sayang pada Bapak. Di bawah kepemimpinan Bapak, kami merasa sangat senang, aman, damai dan tenteram. Karena Bapaklah kami bisa tersenyum merdeka dan karena Bapaklah orang tua kami bisa selamat dari rongrongan Komunis.
Dari jauh dan dari hati nurani saya yang paling dalam, saya berdoa semoga Bapak dan seluruh keluarga Cendana tercinta selalu dalam lindungan Allah SWT, diberikan ketabahan dan kekuatan, amien … amien … amien ya robbal ‘alamin.
Menjadi suatu keberuntungan yang teramat berharga andaikan Bapak sudi membalas dan memberikan saya selembar foto keluarga Bapak sebagai kenang-kenangan. (DTS)
Wassalam,
Ida Royani Fachruddin
Sumbawa
[1] Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 120-121. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.
