Ironisnya KKN
Jakarta, 1 Oktober 1998
Kepada
Yth. Bapak HM. Soeharto
di Kediaman
IRONISNYA KKN [1]
Assalamu’alaikum wr. wb.
Terlebih dahulu saya mohon maaf yang sebesar-besarnya jika saya memberanikan diri menulis surat ini pada Bapak yang saya kagumi dengan kewibawaannya. Saya ibu rumah tangga dan seorang guru Sd di Jakarta. Suami saya karyawan di salah satu BUMN di Jakarta. Saya mempunyai 2 orang anak, keduanya sudah bersekolah di SD Negeri 04 Ciganjur.
Bapak Soeharto, … saya harap Bapak bisa tabah menghadapi segala bentuk cobaan yang saat ini Bapak terima. Saya turut merasakan betapa sedih dan kecewanya Bapak yang biasanya diagung-agungkan tapi saat ini dihujat dari berbagai arah. Bahkan oleh orang-orang yang dulu turut menikmati keberhasilan Bapak. Pak itulah manusia. Mereka seperti bunglon dan pengecut yang selalu berlindung pada keadaan yang menguntungkan mereka. Saya berharap Bapak kuat. Mungkin satu hal yang bisa Bapak syukuri, saat ini Bapak masih bisa tersenyum dan dapat melakukan apa saja. Bapak sehat dan Allah ingin Bapak lebih tawaduk serta meningkatkan amal taubat. Selaku manusia kita tidak lepas dari kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja. Insya Allah Bapak bisa lebih kuat dari sebelumnya karena hari-hari mendatang akan lebih sulit bagi Bapak. Di masa kepemimpinan Bapak banyak hal yang berhasil Bapak bangun dan maju, segalanya kini sirna.
Pak … Bapak mungkin kurang menyadari bahwa orang-orang yang di bawah atau di sekeliling Bapak kurang peka dalam menghadapi lingkungan (Maaf Pak, sekali lagi maaf) keadaan makin sulit, hanya gali lubang tutup lubang yang dapat kami lakukan. Sekarang kalau Bapak sakit mungkin bisa chek up, tapi terbalik dengan keadaan saya. Bahkan untuk mengontrak rumah saja saya tidak mampu. Padahal Pak. Kami terpaksa numpang/pinjam rumah keluarga yang kosong di Complek BBD di Ciganjur. Saya minta waktu 1-2 tahun untuk bisa berdikari kembali. Sementara pekerjaan yang di Jakarta Barat terpaksa saya lepas! Karena gaji pokok Rp. 60.000,- tidak mencukupi buat transport ke Jakarta Selatan. Mengapa saya harus cerita ke Bapak seperti ini, karena betapa tidak enaknya jadi korban KKN.
Bapak Soeharto yang saya hormati, jika saya mengeluh seperti ini, bukan karena tidak tabah, tidak! Tapi karena saya merasakan sakitnya jadi orang yang di bawah. Saya turut berdoa Bapak bisa lebih tabah dan kuat.
Semua ini tidak mengurangi rasa hormat saya pada Bapak. Berusahalah Pak, agar predikat sebagai Bapak Pembangunan tidak dicabut. Karena semua ini hasil jerih payah Bapak. (DTS)
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Hormat saya,
Tri Rosanty M. Nur.
Jakarta Selatan
[1] Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 215-216. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.
