Kehilangan Pemimpin Bangsa
Karangpetir, 10 Juni 1998
Kepada
Bapak H. M. Soehart
Jl. Cendana No. 9
Jakarta
KEHILANGAN PEMIMPIN BANGSA [1]
Assalamu’alaikum wr. wb.
Bapak H. M. Soeharto yang sangat saya hormati dan sangat saya cintai. Terdorong oleh rasa simpati saya kepada Bapak, saya menulis surat ini. Harapan saya, semoga Bapak dalam keadaan sehat dalam lindungan Allah Swt, dikasih kekuatan lahir dan batin.
Saya Ibu Rumah Tangga yang hidup di kampung jauh dari keramaian den hiruk pikuknya permainan politik negeri ini. Saya tidak tahu politik, saya tidak faham reformasi. Yang sangat saya rasakan saya telah kehilangan seorang pemimpin bangsa, seorang Bapak yang sangat saya banggakan yang telah mengantarkan bangsa ini jauh lebih maju.
Saya percaya walau kini Bapak telah lengser keprabon, Bapak tetap mencurahkan perhatian besar terhadap bangsa dan negara. Bapak adalah pejuang sejati, yang akan berjuang tanpa batas waktu dan usia untuk itu saya merindukannya.
Akhirnya saya berdo’a semoga Bapak beserta seluruh keluarga selalu mendapat bimbingan, petunjuk dari Allah Swt, tabah dan diberi kekuatan lahir dan batin. Amin. (DTS)
Hormat saya,
Nani Mintarsih
Kab. Banyumas
NB:
Salam manis & hormat buat Mbak Tutut
[1] Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 529. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.
