PENCAIRAN PINJAMAN BANK DUNIA UNTUK INDONESIA

PENCAIRAN PINJAMAN BANK DUNIA UNTUK INDONESIA

Jakarta, Antara

Bank Dunia merasa puas terhadap tingkat pencairan pinjamannya yang diberikan kepada Indonesia, karena sekarang rata-rata mencapai 105-110juta dolar AS/bulan dibanding hanya 42 juta dolar AS/bulan pada tahun 1983.

Wakil Presiden Bank Dunia Attila Karaosmanoglu mengatakan hal itu kepada wartawan sesudah mengadakan kunjungan kehormatan kepada Presiden Soeharto di Bina Graha, Kamis.

Tingkat pencairan rata-rata 110 juta dolar itu berlangsung mulai 1 Juli 1987 hingga 31 Maret 1988, sehingga selama periode itu telah dicairkan kurang lebih 900 juta dolar AS. Sedang selama tahun 83 hanya 500 juta dolar AS.

“Kami sangat puas dengan hasil perbaikan terhadap tingkat pencairan itu,” kata Attila. Ia mengatakan faktor utama yarig mendorong peningkatan itu adalah pembentukan sebuah tim khusus oleh Presiden Soeharto untuk menangani pinjaman luar negeri.

Pemerintah beberapa waktu lalu membentuk Tim Pendayagunaan Pelaksanaan Proyek Pembangunan Dana Luar Negeri (TP4 DLN), yang saat itu dipimpin Menpan Saleh Afif dan wakilnya adalah Menmud/Sekkab Moerdiono.

Faktor lain yang disebutnya ikut mempercepat tingkat pencairan itu adalah semakin meningkatnya kemampuan departemen atau instansi yang menerima pinjaman itu.

Ketika menjelaskan persentase perbaikan tingkat pencairan, ia menyebutkan selama beberapa tahun lalu rata-rata hanya mencapai 20,6 persen, sedangkan pada tahun 87 sudah naik menjadi 25,7 persen, namun ini belum termasuk dana bagi penelitian kebijaksanaan perdagangan.

“Apabila digabung maka akan mencapai 34 persen, yang berarti selama satu tahun Indonesia mampu mencairkan lebih dari sepertiga pinjaman yang diterimanya,” kata Attila.

Penyesuaian

Wakil Presiden Bank Dunia Attila Karaosmanoglu mengatakan dalam pertemuannya dengan Presiden Soeharto telah dibahas tantangan yang sekarang dihadapi perekonomian Indonesia misalnya akibat masih tidak menentunya harga minyak mentah.

“Pemerintah Indonesia telah memutuskan kebijaksanaan yang sangat berani seperti devaluasi, pengetatan anggaran belanja, serta deregulasi dalam sektor perdagangan ,”ujamya.

Langkah berani itu, antara lain mengakibatkan melonjaknya nilai ekspor komoditi nonmigas hingga tahun lalu mencapai lebih dari 9,4 miliar dolar AS. Lebih dari 2/3 jumlah itu berasal dari sektor manufaktur yang semakin beraneka ragam produknya dan diharapkannya kenaikan ekspor ini akan ikut membantu mengatasi defisit perdagangan.

Ketika ditanya tentang pinjaman Bank Dunia bagi Indonesia yang disalurkan melalui IGGI, ia mengatakan dalam pertemuan dengan Kepala Negara disepakati terhadap adanya kemungkinan naiknya bantuan Bank Dunia.

“Kami berharap bisa mencapai sekitar 1,2 miliar dolar AS pada tahun anggaran ini (1988/89),” katanya sambil mengingatkan bahwa besamya angka pinjaman ituju ga ditentukan oleh proyek-proyek yang diajukan pemerintah Indonesia.

Pada sidang IGGI tahun 87, komitmen Bank Dunia adalah 1,1 miliar dolar AS.

Jakarta, ANTARA

Sumber : ANTARA (05/02/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 253-255.

http://sifastore
Presiden Soeharto merupakan kader terbaik bangsa yang keseluruhan hidupnya dihabiskan untuk membangun bangsa ini. Mulai dari perjuangan fisik pada era kemerdekaan hingga perjuangan terwujudnya Tinggal Landas.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses