Akherat Yang Kekal
Jakarta, 22 September 1998
Kepada
Yth. Bapak. H.M. Soeharto
di Jl. Cendana Jakarta
AKHERAT YANG KEKAL [1]
Assalamu’alaikum wr. wb.
Segala puji hanya untuk Allah, yang mencintai orang-orang yang mau kembali (taubat) dan menyucikan diri (Innalloha yuhuibuttauwabina, wayuhibbul mutatohitin – Quran). Sungguh, kehidupan selepas di dunia ini lebih kekal dan abadi.
Keberuntungan sejati bukanlah mendapat harta atau tahta, tetapi selamat dari neraka dan masuk surga. (Wa man zuhyika ‘amin maar waud’hilal jannah, faqod faaz) (Al Imran). Maka lepasnya kesibukan dunia maupun berkurangnya harta merupakan keuntungan apabila dialihkan kepada kesibukan iman.
Perlu disyukuri bahwa masa berakhirnya jabatan Bapak, lebih baik (konstitusional), dibanding dengan saudara-saudara kita di luar negeri, seperti berakhirnya Kennedy atau India Gandy, ataupun di Philipina masa Marcos maupun Mesir di waktu Anwar Sadat dan lain sebagainya.
Alangkah indahnya, bila sisa usia yang dianugerahkan Allah swt, untuk mendalami agama, tambah bekal di kehidupan akherat yang kekal.
Surat ini sebagai penyambung surat yang lalu. Dan semoga dapat di jelaskan dalam silaturahmi jumpa sendiri.
Terima kasih dan mohon maaf. (DTS)
Wassalam,
H. Ahmad Haryanto
Magelang
[1]Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 50. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.
