Bapak Wong Cilik
Sragen, 22 Juni 1998
Kepada
Yth. Bapak Soeharto
di Jl. Cendana Jakarta
BAPAK WONG CILIK [1]
Assalamu’alaikum wr. wb.
Pertama-tama saya haturkan rasa puji syukur ke hadirat-Nya, karena Bapak masih dikaruniai umur panjang dan selalu sehat wal afiat. Semoga selalu demikian adanya. Amin.
Sebelumnya saya minta maaf seandainya surat saya telah mengganggu ketenangan istirahat Bapak.
Pak Harto, maaf saya mungkin juga telah lancang menulis surat kepada Bapak di saat seperti ini. Mungkin, anak yatim seperti saya, melekat di hati Pak Harto. Pak Harto adalah idola saya. Karena semangat juang dan jiwa kepemimpinan yang layak dibanggakan. Saya nggak peduli kata mereka tentang Bapak dan keluarga. Saya tetap senang sama Pak Harto sebagai Bapake Wong Cilik.
Sekarang saya sudah lulus SMU dan cuma di rumah bantu ibu saya. Ingin kuliah terhalang suasana saat ini. Lagi pula Ibu harus biayai saya dan adik saya. Saya kasihan, ingin bantu Ibu. Dan lebih memprihatinkan lagi, di kota kecil seperti Sragen juga ada demonstrasi. Saya ingin menangis kalau ini sampai menimpa Sragen.
Pak Harto, maafkan saya. Bukan maksud hati menambahi beban Bapak. Saya ngerti beban yang Bapak bawa lebih dari cukup berat. Saya cuma sekedar ingin ngeluh sama orang yang bener-benar saya idolakan. Saya cuma ingin saran dan wejangan saking Bapak.
Saya bangga dengan sikap Bapak selama jadi Presiden. Sebagai tokoh yang saya idolakan Bapak begitu berwibawa, arif, dan bijaksana.
Dan yang paling saya suka Bapak begitu lekat dengan wong biasa dan anak-anak.
Terima kasih Pak Harto. lbu dan adik saya juga suka sama Bapak. Kata lbu, perjuangan Pak Harto begitu mulia dan itu selalu ada di hati rakyat. Pak Harto, rasanya saya bangga bisa nulis surat ke Bapak. Lebih bangga lagi kalau dibalas. Wah, …. (DTS)
Saking kula
Yoeni
Sragen – Jawa Tengah
[1] Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 229-230. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.
