Catatan Tercecer Tentang Soeharto ke Bosnia 15 Tahun Silam (2)

Catatan Tercecer Tentang Soeharto ke Bosnia 15 Tahun Silam (2)

Oleh: Linda Djalil

Dalam pembicaraan di Bosnia, Menlu Ali Alatas mengatakan bahwa pemerintah Indonesia berniat menjadi fasilitator untuk menangani kemelut Bosnia-Serbia. “Tapi tentu bukan sebagai mediator”, ujarnya. Indonesia, dengan kunjungan dan dukungan presidennya ke sana, menunjukkan solidaritas yang tinggi dan menjadi suatu dukungan moril tersendiri. Yang berkepentingan dan memutuskan segala sesuatunya, menurut Alatas lagi, adalah mereka sendiri.  Pak Harto dalam pembicaraannya dengan tuan rumah juga mengatakan bahwa harus ada pendekatan integral dan jangan sepotong-sepotong. Saling menghormati batas negara juga mutlak berlaku.

Alatas selama di istana kepresidenan Bosnia, sempat pula memberikan keterangan pers kepada wartawan asing, sementara Pak Harto menunggu selama 20 menit di ruang sebelah. “Saat itu Pak Harto sudah mulai banyak tertawa”, ujar Moerdiono.

Perjalanan enam jam di Sarajevo tak luput tetap dipantau oleh wartawan Indonesia dari Zagreb. Konon putri Pak Harto, Mamiek, berkali-kali dari Indonesia menelepon Ibu Tien ke Hotel Intercontinental Zagreb, di lantai 15. Rasa was-was rombongan yang menunggu tak dapat dipungkiri.  Saat itu bisa dibayangkan ‘bila terjadi apa-apa’, apakah kami akan pulang dengan rombongan yang tak lengkap lagi?

Akhirnya waktu yang dinanti tiba. Saat penjemputan di bandara Zagreb mejelang maghrib, menjadi suasana mengharukan tersendiri.  Udara dingin 3 derajat Celcius  menerpa sekeliling.  Para wartawan dan rombongan pengawal Presiden yang tak sempat ikut menunggu harap cemas dari dalam bis biru terang yang khusus disediakan pemerintah setempat.  Tiap mata tertuju pada gumpalan awan. Begitu pesawat muncul di tengah langit, wartawanpun berteriak, ada yang bersiul, bertepuk dan mengucapkan ‘Alhamdulillah’ berulangkali. Setelah pesawat melandas, tepukan tangan semakin menguat. Suasana penuh haru memang. Para wartawan cepat-cepat berhamburan lari ke tubuh pesawat, menunggu di buntut pesawat sampai pintu terbuka.

Begitu Pak Harto muncul, aturan protokoler seakan sudah tak ditaati lagi oleh rombongan wartawan. Serempak semua berteriak, “Selamat Pak Harto.. bagaimana Bapak di sana? Selamat..! Selamat..!”  Dan Presiden tersenyum bahagia meski ia tetap berusaha menahan perasaannya.  Begitulah orang ini selalu,  sangat jarang memperlihatkan suasana hatinya di depan orang banyak. Namun tanpa diduga, tiba-tiba Pak Harto memandang ke para wartawan dengan senyum dikulum, pandangan yang penuh arti, sambil ia berteriak membalas, “Terima kasih.. terima kasih..!” . Saya menghitung sampai lebih dari empat kali ia berkata begitu, dan buru-buru menaiki mobil, dikawal oleh tentara Kroasia. Ungkapan hati semacam itu, sangat jarang saya temui meski sudah bertahun-tahun bertugas di dekatnya.

Saat disambut hangat oleh para wartawan, membuat  mata Moerdiono berkaca-kaca. “Disambut seperti itu, saya sempat merinding, dan kami memang terharu”, ujarnya berterusterang. Moerdiono juga masih membayangkan bagaimana dari panser yang berisik ia memandang suasana kota unik dan cantik itu bagai tidak berjiwa, mati, dan mencekam. Beberapa orang tua melambaikan tangan dengan pandangan kosong, menurutnya. Juga anak-anak bermain di pinggir jalan dengan peralatan bersahaja. Karpet di istana yang benangnya sudah molor ke sana-ke mari, menjadi pemandangan yang menyayat hati.

Pak Harto langsung mengucapkan ‘Alhamdulillah’ saat mendarat di Sarajevo dan apalagi waktu mendarat di Zagreb kembali, ia berulang-ulang berkata ‘Alhamdulillah’, diikuti oleh Alatas, Moerdiono, Faisal Tanjung dan rombongan lain. Banyak wajah lega dan  senyum mengembang pada malam itu. Ali Alatas tak seperti kapas lagi. Ia sangat bangga ketika usulan Pak Harto kepada Presiden Kroasia tentang perpanjangan UNPROFOR telah diterima. Artinya, batas 31 Maret bagi pasukan pengaman PBB tersebut bisa diperpanjang lagi. “Ini suatu bukti, misi kita berhasil, ” kata Alatas. Moerdiono sendiri, saat mengobrol dengan saya di pesawat menuju Indonesia kembali, sempat berkata, Itulah Presiden kita yang saya kenal. Kalau sudah niat, tekadnya tidak luntur sedikitpun,” katanya.  Niat baik Indonesia bisa diukur dari bukti kedatangan presidennya. “Sebagai ketua GNB (Gerakan Non Blok), di mata dunia tentu orang berpikir bahwa dia tak hanya omong, tapi ada realisasinya,” kata Moerdiono.

Ketika saya bertanya langsung kepada Presiden, mengapa ia begitu bersikeras pergi ke Bosnia, padahal situasi gawat tak menentu, Pak Harto menjawab dengan spontan, “Ya! Karena ini terpanggil, sebagai sahabat, yang turut serta memikirkan secara aktif. Nah, kalau aktif, kan harus mengetahui situasi dan kondisi yang sebenarnya, sehingga bisa membuahkan pikiran-pikiran yang rasional untuk bisa diterima. Maka saya usahakan untuk datang. Karena dijamin oleh UNPROFOR, ya saya datang. Alhamdulillah, syukur saya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan terima kasih juga kepada UNPROFOR. Da saya bersyukur juga gagasan saya diterima oleh Presiden.  Kita menjadi fasilitator, karena kalau mediator kan tidak mampu dan tidak ada ambisi,” jawab Pak Harto dengan mata berbinar-binar dan penuh semangat.

Perjalanan ‘berani mati’ usai sudah. Beban semua pihak juga bagai tercabut dari pundak masing-masing. Ada rasa ringan  dan lagi-lagi senyum di sana-sini , termasuk Letkol Heridadi sebagai komandan batalion di Zagreb, yang sudah bekerja keras dan mendapat pujian tinggi dari Akashi,  sehingga  Pak Harto khusus memanggilnya ke lantai 15 di hotel tempat ia menginap. Ada bingkisan yang diberikan oleh sang Presiden untuknya dan  disampaikan pula kepada perwira lain yang bertugas di perbatasan Kroasia. Semua kembali ke Indonesia dengan kenangan masing-masing.

***

Sumber: http://lindadjalil.com/2011/11/catatan-tercecer-tentang-suharto-ke-bosnia-15-tahun-silam-2/

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.