DEMONSTRASI PENGGUNAAN ASPAL BUTON GENERASI KEDUA DI KENDARI

DEMONSTRASI PENGGUNAAN ASPAL BUTON GENERASI KEDUA DI KENDARI

 

Kendari, Antara

Departemen Pekerjaan Umum bekerja sama dengan konsultan Bank Dunia (IBRD) memprakarsai demontrasi penggunaan aspal Buton generasi kedua dengan disaksikan sekitar 50 pakar pembangunan konstruksi jalan raya, di Kendari, Selasa.-Peragaan pengaspalan dengan menggunakan aspal Buton generasi kedua yang diberi nama “Lasbutag II” sebagai penyempumaan dari lapisan aspal Buton agregat generasi pertama “Lasbutag I” dianggap sudah tidak memenuhi syarat, khususnya pada kegiatan pengaspalan jaringan jalan yang dibangun dengan menggunakan pinjaman IBRD.

Percobaan penggunaan Lasbutag II ini dilaksanakan pada ruas jalan masuk kampus Universitas Haluoleo Kemaraya Kendari sepanjang 100 meter dan Iebar empat meter dengan menerapkan sistem penghamparan sederhana (manual) dan menggunakan mesin asphaltfinisher.

Kedua sistem yang digunakan itu temyata menunjukkan hasil yang cukup memuaskan. Semula Bank Dunia tidak memperbolehkan semua pembangunan jaringan jalan di Indonesia yang mendapat dukungan pinjaman dari IBRD menggunakan aspal Buton.Alasan Bank Dunia

karena belum ada data-data ilmiah yang menunjukan aspal alam yang berasal dari Pulau Buton di Propinsi Sulawesi Tenggara itu baik digunakan untuk pembangunan jalan raya. Ir.Agus Abdul Manan, Kepala Bidang Bina Marga Kanwil PU Sulawesi Tenggara sebagai penangggung jawab proyek percobaan penggunaan Lasbutag II menjelaskan kepada ANTARA di lokasi percobaan, ditemukan sistim pengaspalan aspal Buton generasi kedua ini merupakan hasil temuan ilmiah yang luar biasa.

Percobaan Lasbutag II merupakan hembusan udara segar bagi PT. Sarana Karya sebagai pelaksana penambangan aspal Buton yang berpusat di kota Banabungi pantai timur Pulau Buton itu.

Beberapa waktu lalu PT. Sarana Karya terpaksa melakukan tindakan “perampingan” terhadap 550 orang karyawannya karena produksi tambang aspal Buton tidak dapat dipasarkan lagi. Bahkan sejak medio Agustus 1986 kegiatan penambangan di Banabungi dihentikan.

Ir. Syamsul Qamar, kepala unit produksi tambang aspal Buton yang mendampingi direktur produksi dan pemasaran PT. Sarana Karya Ir. Amir Darwin menyatakan, sampai dengan akhir Juni 1988 produksi aspal Buton yang sudah terturnpuk di Pelabuhan Banabungi sebanyak 340.000 ton belum ada sama sekali transaksi penjualan atau pun permintaan dari daerah lain.

Departernen PU telah mempercayakan kepada PT. Sarana Karya menangani pembangunan ruas-ruas jalan sepanjang 100 km di Kabupaten Muna dan Kabupaten Buton.

Proyek pembangunan jalan yang menggunakan pinjaman IBRD tahun 1988/1989 seluruhnya menggunakan aspal Buton, “paling sedikit menyerap sekitar 50.000 ton aspal Buton,” kata Samsul. Barga aspal Buton (FOB) di Pelabuhan Banabungi ditetapkan sebesar Rp.22.000 /ton, sedangkan cadangan aspal yang belum ditambang tersebar di 19 singkapan aspal dalam area seluas 70.000 hektar diperkirakan masih di atas seratus juta ton.

Presiden Soeharto pernah menyarankan agar produksi tambang aspal alam Buton ini dapat ditingkatkan sampai satu juta ton tiap tahun.

Akan tetapi karena beberapa faktor yang belum teratasi sehingga imbauan Kepala Negara itu belum terlaksana. Namun demikian dengan peralatan yang ada, PT. Sarana Karya masih mampu memproduksi aspal Buton paling sedikit 350.000 ton per tahun.

 

 

Sumber : ANTARA(05/07/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 559-560.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.