GELAR PAHLAWAN NASIONAL UNTUK WR SUPRATMAN & NJAI A. DAHLAN

GELAR PAHLAWAN NASIONAL UNTUK WR SUPRATMAN & NJAI A. DAHLAN [1]

 

Djakarta, Kompas

HARI PAHLAWAN November diperingati dengan kesederhanaan tapi chidmat diberbagai tempat seluruh tanah air. Di Istana negara dalam rangka peringatan itu Presiden Soeharto hari Rabu menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada almarhum Wage Rudolf Soepratman dan almarhum Njai Ahmad Dahlan, serta Bintang Mahaputera kelas III untuk almarhum Osa Maliki Wangsadinata.

Piagam anugerah gelar dan bintang itu diserahkan kepada para ahli waris. Masing2 Nj. Salmah Soepratman, Nj. Djumariah Wardan (tjutju almarhum Njai Dahlan) dan Nj. Osa Maliki.

Kepala Negara RI dalam surat keputusannja antara lain menjebutkan bahwa pemberian gelar kepada WR Soepratman adalah penghargaan atas sifat2 kepahlawanannja dalam sumbangannja kepada Negara dan bangsa. Chususnja dalam mentjiptakan lagu2 kebangsaan “Indonesia Raya”.

Demikian pula kepada almarhum Njai Dahlan terutama karena djasa2nja dalam bidang pendidikan dan sosial. Upatjara di Istana itu berlangsung singkat, chidmat dan dihadiri oleh para Menteri, perwira2 tinggi ABRI dan beberapa istri2 para Pahlawan Nasional lainnja. Di antaranja Nj. M. Yamin dan Nj. Poppy Sjahrir.

Para Pahlawan Nasional

WR Soepratman di lahirkan di Djatinegara tahun 1903 dan meninggal dunia pada tahun 1939. Komponis lagu kebangsaan ini mendjalani hidupnja sebagai pemain biola, guru, pengarang dan wartawan (di Sin po). Disamping lagu “Indonesia Raya” ia mengubah pula lagu2 “Surya Wirawan” dan “mars Parindra” sedang karangannja antara lain “Perawan Desa”.

Isteri Soepratman, Nj. Salmah jg datang ke Istana tampak telah tua, dengan rambutnja jang mulai keputih2an. Ia tampak sederhana sekali mengenakan kebaya biru dengan selendang kuning dan tas tangan hitam. Semula mengenai diri Nj. Salamah pernah agak dihebohkan karena adanja sanggahan2 sementara pihak bahwa ia bukan isteri WR Soepratman. Tapi persoalannja itu dapat diselesaikan dan Nj. Salmah diakui sebagai isteri Pahlawan Nasional tersebut. Ia kini tinggal di Wisma Mulia Djatinegara bersama2 beberapa djanda Pahlawan Nasional lainnja.

Njai Ahmad Dahlan dengan nama ketjil Sitti Walidah adalah isteri almarhum Pahlawan Nasional KH. Ahmad Dahlan. Ia dilahirkan tahun 1872 di daerah Jogja, dan meninggal tanggal 31 Mei 1946, 23 tahun setelah suaminja meninggal. Ia dikenal djasa2nja dalam pergerakan pendidikan dan sosial di lingkungan Muharnmadijah dan Aisjijah, sehingga memperoleh gelar “Ibu Muhammadijah dan Aisjijah” sementara suaminja mendapat gelar, “Bapak Muhammadijah”. Meraka mempunjai enam putera putri tapi semuanja telah meninggal dunia. Sehingga dalam upatjara itu almarhumah diwakili oleh tjutjunja.

Almarhum Osa Maliki jang dilahirkan di Padalarang, 30 Desember 1907, meninggal dunia pada tanggal 15 September ’71 sebagai Ketua Umum PNI dan wakil ketua MPRS. Ia dikenal sebagai seorang pedjuang jang pernah dibuang di Digul. Almarhum jang sifatnja lembut ini mulai dikenal sekali namanja ketika petjah kasus dalam tubuh PNI dengan adanja PNI Osa-Oesep dan PNI A-Su pada masa2 pra­Gestapu. Almarhum juga memiliki bintang gerilja.

Peringatan di Tempat Lain

Sementara itu pada waktu jang bersamaan upatjara peringatan Hari Pahlawan diadakan pula di teluk Djakarta dengan penaburan bunga dari kapal ALRI “RI Jalanidhi” dengan Inspektur Upatjara Laksda RE Suprapto jang mewakili KSAL Laksamana Soedomo. Tampak hadir dalam upatjara di laut itu Nj. Jos Sudarso isteri almarhum “Pahlawan Laut Aru” jang gugur semasa Trikora.

Sedang di taman makam Pahlawan Kalibata. Ketua DPR KH. Idham Chalid memimpin ziarah Nasional jang diadakan oleh Panitja Pusat hari2 bersedjarah Nasional. Ziarah ini diikuti oleh kesatuan2 ABRI/Kepolisian, anggauta DPR, dan organisasi2 wanita angkatan.

Presiden Mendjenguk Bung Hatta

Selesai upatjara di Istana Negara Presiden Soeharto kemudian datang ke RSUP mendjenguk beberapa tokoh jang kini dirawat dirumah sakit tersebut. Mula2 Presiden mendjenguk Bung Hatta jang sedjak beberapa waktu ini dirawat, dan tidak diperbolehkan menerima tamu. Kemudian ditengok pula Prof. Iwa Kusumasumantri, bekas Menteri PTIP dan kini anggauta DPA. Kemudian Mr. Assat bekas Presiden Pemerintahan Darurat RI di Sumatera dan Nj. Endang Sulbi, Sekretaris DPA. (DTS)

Sumber: KOMPAS (11/11/1972)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 43-45.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.