Gerakan Anti Nasionalis
Jakarta, 30 Mei 1998
Kepada
Yth. Mantan Presiden RI
Bapak H.M. Soeharto
di Jakarta
GERAKAN ANTI NASIONALIS [1]
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Dengan hormat,
Semoga kita senantiasa dalam lindungan-Nya. Amin.
Saya warga negara Indonesia dan rakyat biasa, bukan seorang politikus, tokoh nasional, tokoh ternama, atau pengusaha. saya tak lebih seorang guru ngaji dan pengelola yayasan sosial. Saya banyak membina umat Tanjung Priok yang jumlahnya mencapai ribuan orang.
Saya ikut prihatin terhadap perkembangan terakhir di negara yang kita cintai. Banyak tokoh nasional dan politikus yang sudah menyimpang. Karenanya, saya siap menggalang dan menggerakkan massa untuk menumbangkan dan menyapu bersih terhadap mereka yang terlibat di dalam gerakan “ANTI” yakni: ANTI kemapanan dan kemandirian, ANTI Nasionalis (ketokohan dan kepemimpinannya di bawah kendali orang asing atau campur tangan negara lain) seperti Amerika yang menjadikannya pemimpin boneka.
Sehubungan hal tersebut bahwa saya siap menggalang dan menggerakkan massa kapan saja bila dibutuhkan, tentunya tidak terlepas dukungan moril dan materiil. Demikianlah keprihatinan yang bisa saya sampaikan dan ungkapan, dengan harapan semoga gerakan ini dapat restu dan dukungan sepenuhnya, terima kasih. (DTS)
Hormat saya,
Saifuddin
Jakarta
[1] Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 585. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.
