INDONESIA AKAN MENJADI NEGARA BESAR JIKA WARGANEGARA BERKEPRIBADIAN

INDONESIA AKAN MENJADI NEGARA BESAR JIKA WARGANEGARA BERKEPRIBADIAN

Indonesia hanya akan dapat menjadi negara yang besar dan akan menjadi bangsa yang makmur dan adiljika dibangun oleh warga negaranya yang mencintai negaranya, berkepribadian dan berwatak luhur, cerdas, tangkas, rajin, sehat dan ber-Pancasila.

Presiden Soeharto menyatakan hal itu dalam sambutannya pada apel besar Pramuka memperingati Hari Pramuka ke-21 di Widya Mandala Krida Bakti Pramuka, Cibubur, Jakarta, Sabtu.

Presiden mengatakan, sejarah menunjukkan bahwa banyak pahlawan dan pejoang besar Indonesia yang semasa mudanya menjadi pramuka yang baik.

Ini berarti bahwa keberhasilan pahlawan pahlawan dan pejoang-pejoang itu dalam mengabdikan dirinya kepada nusa dan bangsa antara lain karena mereka dididik, digembleng dan dibimbing dalam pendidikan kepramukaan, kata Kepala Negara.

Dalam peringatan Hari Pramuka yang dihadiri pula oleh Ibu Tien Soeharto, Wakil Presiden dan Ny. Nelly Adam Malik, Sultan Hamengku Buwono IX dan para Menteri Kabinet Pembangunan III itu, Presiden Soeharto mengatakan, keberhasilan pahlawan­pahlawan dan pejoang-pejoang itu juga adalah karena mereka benar-benar menghayati dan menjiwai apa yang mereka dapat dari pendidikan kepramukaan.

"Saya menyemkan agar kalian semua, para pramuka di seluruh tanah air kita ini berusaha menjadi pramuka yang baik, yang benar-benar menghayati dan menjiwai gerakan pramuka," kata Kepala Negara.

Presiden mengatakan, "kalian semua, para remaja dan pemuda pemudi perlu memahami perjuangan bangsa kita. Bukan hanya mengerti dalam alam pikiran, melainkan menghayati dalam hati sanubari."

"Dengan demikian kalian akan menjadi pejoang-pejoang pembangunan bangsa, pejuang-pejuang yang menjadi benteng kuat pertahanan Pancasila dan UUD 45 ideologi nasional dan konstitusi kemerdekaan," kata Kepala Negara.

Presiden mengingatkan, kemerdekaan adalah tanda kehormatan suatu bangsa dan merupakan tanda kedaulatan bangsa.

Dengan kemerdekaan itu suatu bangsa dapat hidup bebas, dan terhormat artinya bebas untuk menentukan masa depan sendiri, cita­ cita sendiri dan memilih cara sendiri mewujudkan cita-cita itu.

Kepala Negara mengharapkan para pembina dan pimpinan pramuka selalu berusaha agar pramuka ini dapat menjadi tempat dan wadah pendidikan para remaja untuk memantapkan kepribadian insan Indonesia dan insan pembangunan bangsa.

Peragaan

Selesai menyampaikan amanatnya, Presiden Soehartomenyaksikan demonstrasi ketrampilan pramuka antara lain berupa isyarat-isyarat bendera.

Sebelum demonstrasi mulai Presiden menyampaikan suatu pesan yang berbunyi "Pancasila, falsafahku". Pesan ini kemudian didemonstrasikan oleh pramuka pramuka dengan isyarat bendera (semapore).

Satu atraksi menarik disajikan pula gerakan pramuka bempa keterampilan para pramuka menolong masyarakat desa, menanggulangi huru hara dengan menggunakan anjing pelacak, kuda dan helikopter bekerja sama dengan pihak kepolisian.

Alam peragaan di bumi perkemahan Cibubur itu, ditampilkan sebuah adegan hidup putra putri turun dengan tali dari sebuah helikopter menolong korban huru hara di desa terpencil.

Huru hara terjadi di desa itu dan mabok-mabok, yang akhirnya menimbulkan perkelahian massal antara satu desa dengan desa lain. Pramuka datang dan mengatasi huru-hara itu dengan anjing-anjing pelacak dan pramuka-pramuka berkuda.

Keberanian pramuka putri naik turun dengan tali dari pesawat helikopter polisi menimbulkan tepuk tangan meriah dari hadirin yang tegang menyaksikan adegan itu. Dari atraksi lainnya diperagakan oleh pramuka-pramuka dirgantara berupa demonstrasi terbang layang.

Presiden dan ibu Tien Soeharto pada kesempatan itu juga menyerahkan hadiah kepada pemenang lomba ketrampilan pramuka.

Lebih kurang 5.000 pramuka yang terdiri dari pramuka luar biasa, pramuka mengikuti lomba tingkat nasional dan pramuka pramuka Nasional IV ikut memeriahkan Hari Pramuka di Cibubur. (RA)

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (14/08/1982)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 1066-1067.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.