JANGAN TERLALU BERNAFSU DALAM BERKAMPANYE

HM Soeharto dalam berita

Seruan Presiden Kepada Parpol-Golkar:

JANGAN TERLALU BERNAFSU DALAM BERKAMPANYE [1]

Pemilu Tidak Hanya Satu-dua Kali dan Rakyat Makin Tinggi Kesadaran Politiknya

 

Jakarta, Kompas

Presiden Soeharto menyerukan agar ketiga wadah kekuatan sosial-politik mampu bersikap dewasa dan mampu berdisiplin untuk mematuhi aturan permainan yang dibuat bersama, dalam melancarkan kampanye pemilihan umum.

Memberi sambutan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W. di Istana Negara, Selasa malam, Presiden minta semua pihak menyadari bahwa Pemilu itu untuk rakyat, bukan rakyat untuk Pemilu. Begitu pula Parpol dan Golkar adalah untuk rakyat, dan bukan rakyat untuk Parpol dan Golkar.

“Rakyatlah yang akan menentukan secara bebas siapa yang mereka pilih, siapa yang mereka percaya untuk memperbaiki nasib mereka agar dapat hidup lebih baik,” kata Presiden.

Diingatkannya pula bahwa Pemilu tidak hanya satu-dua kali saja, dan rakyatpun makin tinggi kesadaran politiknya.

“Pemilihan Umum merupakan bagian dari usaha besar pembangunan bangsa kita,” kata Presiden.

Kepala Negara mengajak semua pihak yang berkampanye untuk berkepala dingin, wajar, dan tidak terlalu bernafsu dalam melancarkan kampanye.

“Bukankah Nabi Muhammad mengajarkan agar kita bersikap tengah-tengah, yakni wajar dan tidak keterlaluan?”

Kepimpinan Nabi

Dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad S.A.W. Presiden meminta kaum Muslimin Indonesia untuk merenungkan sifat kepemimpinan Nabi yang tidak menyendiri dan tidak mementingkan golongan sendiri. Nabi Muhammad tidak saja membina orang-orang Islam, melainkan juga kerukunan antara orang-orang Islam dengan yang belum atau bukan-Islam.

“Mereka yang bukan-Islam itu dinyatakan sebagai kawan, partner kaum Muslimin yang mempunyai hak dan kewajiban wajar,” kata Presiden.

Kenyataan sejarah dari kehidupan Nabi Muhammad itu memberi pelajaran kepada bangsa Indonesia sebagai bangsa yang memiliki berbagai kemajemukan.

“Solidaritas dan kerukunan dari semua golongan mutlak diperlukan untuk memantapkan dini sebagai bangsa yang satu”.

Islam Yang Baik

Dalam, peringatan itu Menteri Agama Mukti Ali mengatakan, jadilah orang Islam yang baik. Karena dengan baiknya ke-Islaman orang Indonesia itu, Pancasila yang menjadi dasar negara akan makin subur.

Dalam peringatan ini, uraian hikmah Maulid Nabi Muhammad S.A.W. disampaikan oleh Rektor IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, H. Zaini Dahlan M.A. Sedang pembacaan Kitab Suci Al Qur’an dilakukan oleh Mirwan Batubara dan Siti Richlah Siddiq, masing-masing qori favorit Musabaqoh Tilawatil Qur ‘an Internasional di Turki tahun lalu dan qoriah terbaik DKI Jakarta tahun 1976.

Peringatan ini dihadiri antara lain oleh Ny. Tien Soeharto, Wakil Presiden Hamengkubuwono, bekas Wakil Presiden Moh. Hatta, para menteri korps diplomatik dan kaum Muslimin serta Muslimat lbukota. (DTS)

Sumber: KOMPAS (03/03/1977)

 

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 304-305.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.