Kami Tak Mungkin Lupa
Jakarta, 12 Juni 1998
Kepada
Yang Mulia Bapak H.M. Soeharto
di Tempat
KAMI TAK MUNGKIN LUPA [1]
Dengan hormat,
Bapak yang kami mulyakan, sebelumnya mohon dimaafkan apabila kami dengan segala kelancangan menulis surat ini, dengan harapan bisa terbaca oleh Bapak dalam keadaan apapun. Dan doa kami, semoga Bapak dalam keadaan sehat wal afiat, serta selalu dalam lindungan Tuhan yang Maha Khaliq.
Kami merasa trenyuh, bahkan tak mampu menahan air mata ketika menyaksikan Bapak mengucapkan pidato singkat di TV pada Mei lalu. Siapa pun Bapak, bagi kami sekeluarga, Bapak tetaplah orang berhati mulia. Yang pernah menolong kami 16 tahun yang lalu, ketika kami masih di SMEA Kendal. Saat itu karena keadaan yang terpaksa, kami mencoba berkirim surat ke Cendana untuk minta bantuan biaya sekolah. Dan tidak kami sangka, surat kami dibalas langsung oleh almarhumah Ibu Tien, disertai nasihat mulia dan uang untuk membantu sekolah kami.
Dan berkat jasa almarhumah Ibu Tien, akhirnya kami selesai / lulus tahun 1982 yang silam. Dan sejak saat itu, jasa Bapak dan almarhumah Ibu Tien tak mungkin bisa kami lupakan sampai kapan pun. Maka kalau surat ini ada orang yang paling trenyuh melihat Bapak selain keluarga Cendana, mungkin kamilah orangnya. Di dunia ini tidak ada yang sempurna selain Rasulullah. Maka rasanya sangat wajar bila mungkin ada kekhilafan oleh seorang presiden sekalipun.
Andaikata Bapak adalah orang kecil/orang biasa yang bisa didekati, rasanya ingin sekali kami menyertai, menemani, bahkan ikhlas mempertaruhkan jiwa raga ini untuk bisa selalu dekat dengan Bapak. Sebagai rasa cinta kasih kami sekeluarga pada Bapak, sejak kerusuhan terjadi hingga sekarang, kami bangun setiap malam shalat tahajud, diteruskan dengan membaca ayat-ayat/doa nurbuat sebanyak-banyaknya sampai Subuh. Dengan harapan semoga berkat doa-doa ini Tuhan menurunkan ketabahan, kekuatan serta keselamatan.
Upaya ini terus akan kami lakukan sampai keadaan tenang kembali. Karena inilah satu-satunya cara yang bisa kami lakukan untuk Bapak di sini. Semoga Bapak sekeluarga cukup tegar dan tabah menghadapi ujian hidup yang maha berat ini.
Insya Allah, Tuhan kabulkan doa-doa kami yang tulus ini. Amin. (DTS)
Sembah sujud kami sekeluarga,
Yasmadi Ade Suratman
Kebayoran Baru Jakarta Selatan
[1] Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 224-225. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.
