Masih ada Kelompok Ekstrim

Masih ada Kelompok Ekstrim [1]

 

Masih saja ada kegiatan kelompok ekstrim yang mendasarkan ajarannya pada fanatisme agama yang rupanya diilhami oleh kemenangan revolusi negara lain. Tujuan mereka, mendirikan negara berdasarkan agama di negeri kita ini. Padahal kita sudah sepakat, bulat, menetapkan negeri kita ini negara Pancasila.

Tanggal 11 Maret 1981, belasan orang dari kelompok ini menyerbu Pos Polisi Cicendo di Bandung. Dalam kejadian ini, tiga orang polisi tewas dan sejumlah senjata dirampas oleh gerombolan itu. Tetapi kesigapan alat keamanan membuat usaha gerombolan itu gagal. Beberapa pelakunya dapat ditangkap.

Penyerbuan di Cicendo itu ternyata disambung dengan pembajakan pesawat Garuda DC-9 “Woyla” yang sedang terbang dari Jakarta­Palembang-Medan. Pesawat itu dibajak setelah lepas landas dari Palembang, dan kemudian didaratkan di lapangan terbang Don Muang di dekat Bangkok-Muangthai. Pembajak-pembajak itu menuntut pembebasan tahanan-tahanan politik di Sumatera dan Jawa serta meminta sejumlah uang tebusan untuk  ditukarkan  dengan awak pesawat dan penumpang yang dijadikan sandera.

Tetapi operasi pembebasan sandera kita berhasil, pada 31 Maret 1981. Hanya berjalan tiga menit dan semua pembajak dapat dilumpuhkan. Ada korban dalam peristiwa itu.

Saya menaruh perhatian besar terhadap operasi pembebasan dan nasib para sandera itu. Para awak pesawat yang selamat saya terima di rumah, di Jalan Cendana, dan dalam kesempatan itu saya memberikan penghargaan atas ketabahan mereka. Juga saya berikan penghargaan kepada para anggota pasukan pembebasan yang berani-berani itu. Mereka dinaikkan pangkatnya secara luar biasa.

Dengan ini, sekali lagi, setelah sekian banyak kali, saya menyerukan agar kita hati-hati dengan paham-paham yang ekstrim, yang ekstrim kiri dan yang ekstrim kanan. Hati-hati dengan pengaruh-pengaruh yang datang dari luar! Kita tidak menginginkan yang lain selain daripada Pancasila dan UUD ’45.

Begitu pun kita tidak menginginkan pikiran-pikiran kaum separatis yang ada di Aceh yang mendirikan organisasi Aceh Merdeka dan kegiatan sejenis di Irian Barat dengan yang menyebut dirinya “Organisasi Papua Merdeka”. Kita lokalisasikan kegiatan mereka dan kita selesaikan dengan pendekatan dan penerangan.

***



[1]        Penuturan Presiden Soeharto, dikutip dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH,  diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta tahun 1982, hlm 369-372.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.