PERBEDAAN SUKAR DILENYAPKAN TAPI BENIH KERJASAMA TELAH TERTANAM

Presiden Soeharto;

PERBEDAAN SUKAR DILENYAPKAN TAPI BENIH KERJASAMA TELAH TERTANAM [1]

 

PERTEMUAN pertama kali antar Parlemen Negara2 anggota ASEAN telah dibuka kemarin di gedung DPR RI Jakarta, dihadiri oleh Presiden Soeharto, Wakil Presiden Hamengkubuwono, pada menteri, korps diplomatik.

Pembukaan pertemuan itu dipimpin oleh ketua DPR K.H. DR. Idham Chalid, disusul dengan sambutan2 dari Presiden Singapura, Ketua Majelis Legislatip Muangthai dan Perdana Menteri Tun Razak, masing2 disampaikan Ketua Delegasinya. Terakhir Presiden Soeharto menyampaikan sambutannya. Kepala Negara RI dalam amanatnya mengemukakan pentingnya Pertemuan Parlemen Antar Negara ASEAN itu, yang untuk pertama kalinya diselenggarakan.

“Tetapi kami lebih gembira karena yang hadir di tengah-tengah kami sekarang ini bukanlah orang-orang asing bagi kami, melainkan kami rasakan sebagai saudara­-saudara bangsa Indonesia sendiri,” demikian Presiden menggambarkan betapa rasa persaudaraan yang menjadi semangat kelahiran pertumbuhan dan kekokohan ASEAN.

Menurut Presiden harus terus menerus dipikirkan langkah-langkah untuk memberi nyata terhadap persaudaraan dan persahabatan tadi dalam menjawab tantangan ­tantangan pembangunan masyarakat kita dalam jaman kemajuan ini.

Bagaimanapun juga, demikian ditandaskan Presiden semangat persaudaraan harus merupakan ketetapan hati atau harus merupakan putusan politik yang tidak diragu-ragukan lagi.

Sejak ASEAN lahir menurut Presiden masih banyak hal-hal yang harus digarap agar tujuan-tujuan ASEAN makin banyak menjadi kenyataan.

Dalam jangka panjang dengan ASEAN tidak sekedar hanya ingin mengembangkan kerjasama ekonomi, sosial dan kebudayaan, melainkan harus lebih merupakan ketetapan hak untuk mengembangkan kerjasama yang lebih luas lagi.

Keadaan akan perlunya dan manfaatnya ASEAN bagi masyarakat – masyarakat dilingkungan kawasan ASEAN akan merupakan benih yang sehat bagi berkembangnya ketahanan regional.

Selanjutnya Presiden menguraikan tentang keadaan sekeliling kawasan dengan mengamati perkembangan kerjasama regional dibagian-bagian dunia yang lain. Negara – negara yang mempunyai konsepsi2 politik dan ekonomi yang sama sekali masih memerlukan waktu bertahun – tahun sebelum mereka tiba pada pemikiran – pemikiran yang sama mengenai cara-cara dan tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan yang mereka tentukan sendiri.

Tanpa bermaksud melemparkan segala noda dan tanggung jawab kepada kekuatan – kekuatan luar yang telah menguasai jalan hidup bangsa – bangsa di kawasan ASEAN selama ratusan tahun, menurut Presiden kita tidak dapat menghilangkan begitu saja kenyataan penjajahan yang lama di masa silam telah mendorong lahirnya perbedaan – perbedaan tanggapan mengenai apa-apa yang dianggap sebagai kepentingan nasional masing-masing baik politis maupun ekonomis.

Perbedaan yang dernikian itu tentu saja tidak dapat dilenyapkan dalam waktu sekejap betapapun besar kemauan kita. Mungkin saja perbedaan2 itu dapat arti corak kemauan dan usaha kita untuk menumbuhkan kepribadian itu secara serasi dalam taman besar yang indah dari ASEAN.

Yang lebih penting, kata Presiden, hasil-hasil fisik dalam bentuk berbagai kerjasama yang semakin meluas, maka yang paling patut dibanggakan dengan ASEAN adalah tertanamnya benih kerjasama regional itu sendiri.

Apa yang diperlukan sekarang adalah memupuk terus unsur-unsur yang menjadi kekuatan pertumbuhan selanjutnya ASEAN perlu terus menerus mengadakan dialog diantara mereka sendiri baik dikalangan pemerintah di kalangan swasta, dikalangan masyarakat luas maupun kalangan-kalangan lain.

“Kita perlu mengadakan dialog terus menerus agar kita dapat tiba pada kesamaan dan kesatuan pandangan tentang langkah-Iangkah apa yang menguntungkan kita bersama.” demikian kata Presiden.

Selanjutnya dikemukakan, lahirnya ASEAN bukan sekedar wujud keinginan kerjasama antar negara-negara anggotanya melainkan lebih merupakan kehendak antar bangsa, antara bangsa-bangsa di kawasan ASEAN untuk bersama-sama membangun hari esok yang lebih baik, lebih sejahtera dan menentramkan hati.

Dalam wadah demikian diperlukan wadah dialog dalam bentuk Pertemuan Antar Parlemen Negara – negara ASEAN yang merupakan tambahan satu jawaban yang tepat dari keperluan untuk memperluas kerjasama ASEAN.

“Adalah kesadaran pemimpin – pemimpin bangsa-bangsa di kawasan ASEAN merupakan satu tumpuan harapan bagi berjuta-juta rakyat yang terus menerus berusaha untuk menikmati kemakmuran lahir dan batin, akan memberikan kekuatan kepada mereka untuk bermusyawarah mencapai mufakat dalam usaha menentukan menemukan jalan bersama yang terbaik,” demikian Presiden mengakhiri sambutannya.

Dalam pada itu, Ketua DPR Idham Chalid, dalam sambutan pembukaan Pertemuan Antar Parlemen Negara-Negara ASEAN itu menyampaikan terima kasihnya bahwa telah diberikan kepercayaan kepada DPR untuk melaksanakan pertemuan Parlemen ASEAN itu.

Idham Chalid telah menguraikan sejarah sampai terwujudnya pelaksanaan Pertemuan Antar Parlemen tersebut yang telah didahului dengan pertemuan dan saling kunjungan anggota delegasi parlemen dan melahirkan kata sepakat untuk mengadakan pertemuan parlemen tersebut di Jakarta.

Pada konferensi pertama di Hotel Borobudur, hari Kamis siang kemarin Pertemuan Antar Parlemen ASEAN itu menetapkan ketua konferensi serta menetapkan agenda dan tata tertib. Tentang penentuan agenda ini garis besarnya telah ditetapkan dalam pertemuan pendahuluan di Hotel Borobudur, Rabu sore. Untuk ketua konferensi telah diputuskan dari delegasi Indonesia. (DTS)

Sumber: BERITA YUDHA (10/01/1975)

 

 

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 533-535.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.