PRESIDEN: KETAHANAN REGIONAL TIDAK PERLU DENGAN PAKTA MILITER

PRESIDEN: KETAHANAN REGIONAL TIDAK PERLU DENGAN PAKTA MILITER

 

 

Jakarta, Antara

PRESIDEN SOEHARTO mengatak:an bahwa Indonesia memandang perlunya wujudkan ketahanan regional tanpa melalui pembentukan pakta-pakta militer. etika menerima para peserta “ASEAN Seminar on Regional Resilience I” di Bina Graha, Jakarta Senin siang, Presiden mengatakan, pertahanan dan keamanan memang merupak:an komponen ketahanan nasional yang penting.

”Namun, pertahanan keamanan telah dikembangkan dalam konsep yang lebih luas dan dinamis ketimbang sekedar pertahanan saja atau keamanan saja,” kata Presiden.

Bagi bangsa Indonesia, ketahanan nasional merupakan konsep menyeluruh dan dinamis, yang mencakup bidang sangat luas dengan segala aspek kehidupan bangsa dan negara. Ketahanan nasional menurut Presiden, berlandaskan pada kemantapan dan keserasian dalam perkembangan seluruh segi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.

“Pada hakikatnya ketahanan nasional adalah kemampuan dan ketangguhan suatu bangsa untuk dapat menjamin kelangsungan hidupnya menuju kejayaan bangsa dan negara tersebut,” demikian Soeharto.

Lebih jauh ia menjelaskan, dalam rangka ketahanan nasional itu bangsa Indonesia berupaya keras meletakkan kerangka landasan di bidang ekonomi, politik, sosial budaya serta bidang pertahanan dan keamanan. Ia menyebutkan, kerangka landasan itu telah berhasil diletakkan dan akan terus dimantapkan selama Repelita V mendatang sehingga dalam Repelita VI nanti bangsa ini sudah memiliki landasan kokoh untuk memasuki proses tinggal landas.

Kepada para peserta seminar tentang Ketahanan Regional ASEAN yang pertama di Jakarta itu Presiden berharap gagasan-gagasan yang dikembangkan dalam seminar akan makin memantapkan upaya bersama keenam negara ASEAN dalam memelihara serta memperkuat ketahanan regional di kawasan Asia Tenggara. Pada KTT ASEAN di Bali 13 tahun lalu telah disepakati bahwa ketahanan nasional dan ketahanan regional merupakan tujuan setiap negara ASEAN.

Kemudian dalam KTT di Manila akhir 1987 lebih ditegaskan lagi bahwa ASEAN akan terus memperkuat ketahanan nasional masing-masing serta ketahanan regional dalam rangka menjamin keamanan, stabilitas dan pertumbuhan di kawasan itu. Presiden mengemukakan, ketahanan nasional dan pembangunan nasional saling mengait dalam suatu hubungan yang saling menunjang, saling mengisi dan saling memperkuat.

Keberhasilan pembangunan nasional akan meningkatkan ketahanan nasional sedangkan ketahanan nasional yang tangguh akan lebih mendorong keberhasilan pembangunan. Ketahahan nasional, menurut Presiden, perlu dipupuk terus untuk memungkinkan berlangsungnya pembangunan nasional, sekaligus agar dapat mengelakkan secara efektif segala macam hambatan, tantangan, ancaman dan gangguan yang mungkin muncul dari luar maupun dari dalam negeri.

Masing-masing negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura dan Brunei Darussalam) sepakat memberikan sumbangan secara aktif dalam upaya memelihara dan mengembangkan ketahanan nasional serta ketahanan regional. Dalam rangka menciptakan ketahanan regional yang tangguh.

Presiden, tidak perlu khawatir bahwa masing-masing bangsa dan negara di kawasan  harus mengorbankan kepentingan nasionalnya. Seminar ASEAN tentang Ketahanan Regional itu diselengarakan oleh Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas) di Jakarta sejak awal Januari lalu dan diikuti oleh 38 peserta dari keenam negara anggota ASEAN.

 

 

Sumber : ANTARA (20/02/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 507-508.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.