PRESIDEN: PANDAI-PANDAI BACA TANDA JAMAN

PRESIDEN: PANDAI-PANDAI BACA TANDA JAMAN

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto menyatakan bahwa masa lima tahun mendatang memerlukan kewaspadaan lebih jeli dibanding masa-masa silam. Oleh karena itu ia menekankan pentingnya untuk pandai-pandai membaca tanda-tanda jaman.

Sehubungan dengan itu, dalam petunjuknya ketika menerima Gubernur Jawa Tengah Ismail di Bina Graha, Jakarta,hari Rabu, Kepala Negara menyebutkan tiga falsafah yang perlu dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari dalam lima tahun mendatang.

Ismail dalam keterangannya kepada wartawan selesai diterima Presiden menjelaskan bahwa ketiga falsafah tersebut ialah "Ojo Kagetan" atau jangan mudah terkejut jika membaca tanda-tanda jaman,"Ojo Gumunan" atau jangan mudah "silau" oleh sesuatu yang belum tentu benar, dan "Ojo Dumeh" atau jangan tinggi hati.

Ismail menghadap Presiden untuk minta petunjuk sehubungan pelaksanaan masa tugasnya yang kedua sebagai Gubemur Jateng. Pada kesempatan itu, ia juga melaporkan sekilas hasil-hasil pembangunan yang dicapai Jateng dewasa ini.

Sebelum menerima Ismail, di tempat yang sama Kepala Negara juga menerirna Gubernur Timor Timur Mario Viegas Carascalao yang melaporkan persiapan sehubungan rencana kunjungan Presiden ke propinsi itu awal Nopember 1988 untuk membuka Munas Pramuka di Dili.

Carascalao kepada wartawan menjelaskan bahwa dalam rangkaian kunjungan tersebut, Presiden Soeharto juga akan meresmikan berbagai proyek pembangunan bernilai sekitar Rp. 6 miliar di Timor Timur.

Proyek-proyek tersebut meliputi pembangunan gereja, stadion olahraga, dua kantor bupati, gedung sekolah teknik menengah, dan pembangunan jembatan yang menghubungkan Kota Baucau dan Los Palos di wilayah timur propinsi itu.

Peresmian akan dipusatkan di Kota Dili tanggal 2 Nopember 1988 pada gereja itu yang oleh Gubernur Timtim diperkirakan terbesar di Asia Tenggara.

Khusus tentang gereja tersebut, Carascalao menjelaskan bahwa dana pembangunannya mencapai sekitar Rp.850 juta terdiri atas dana pemda setempat Rp350 juta, bantuan ABRI Rp 400 juta dan swadaya masyarakat Rp 100 juta.

Presmian proyek-proyek pembangunan itu direncanakan dilakukan oleh Presiden setelah sehari sebelumnya ia membuka Munas Pramuka di Dili.

Jakarta, ANTARA

Sumber : ANTARA (19/10/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 184-185.

http://sifastore
Presiden Soeharto merupakan kader terbaik bangsa yang keseluruhan hidupnya dihabiskan untuk membangun bangsa ini. Mulai dari perjuangan fisik pada era kemerdekaan hingga perjuangan terwujudnya Tinggal Landas.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses