PROGRAM-PROGRAM TAK TERCAPAI, KARENA LAPORAN DARI BAWAH TAK BERDASAR KENYATAAN

PROGRAM-PROGRAM TAK TERCAPAI, KARENA LAPORAN DARI BAWAH TAK BERDASAR KENYATAAN [1]

Jakarta, Kompas

Presiden Soeharto hari Rabu menekankan perlunya dikembangkan sikap dasar baru dalam menyusun laporan dan menerima laporan. Berpidato pada pembukaan Raker Direktorat Jenderal Pertanian dan Badan Pengendali Bimas tahun 1973 di Bina Graha Kepala Negara mengatakan pengalaman2 dimasa lalu harus kita pelajari. Sebab salah satu akibat tidak tercapainya program2 yang telah disusun itu, adalah laporan dari bawah yang tidak berdasarkan dan tidak diadakan penelitian lebih lanjut oleh penerima laporan.

Presiden menyerukan untuk dikembangkan sikap baru dalam menyusun dan menerima laporan. Pembuat laporan harus menyampaikan apa adanya sesuai kenyataan, bukan mencari pujian dari atasan.

Sebaliknya penerima laporan harus berani pula melihat kenyataan, betapapun pahitnya itu. Sebab laporan mengenai kenyataan yang buruk itu tidak harus selalu diikuti dengan tegoran.

Menyesatkan

Menurut Presiden laporan yang tidak berdasarkan kenyataan akan menyesatkan. Penggaris kebijaksanaan akan keliru dibuatnya dan rencana2 yang ada tidak akan tercapai pula tujuannya.

Presiden menganggap sangat perlu diusahakan penyempurnaan cara2 penyusunan laporan dan cara2 membuat penilaian yang semuanya itu secara teknis dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini sangat penting dalam usaha peningkatan produksi padi untuktahun 1973/74.

Kepada para peserta Raker yang seluruhnya betjumlah 235 orang (yang hadir di Bina Graha hanya sebagian) Presiden mengharapkan supaya Raker ini sekaligus menjadi forum mengadakan penelitian akhir tahun seluruh persiapan untuk mensukseskan pelaksanaan intensifIkasi padi musim tanam 1973/1974 mendatang.

Bukan Satu Impian

Menurut Presiden produksi pangan khususnya beras untuk musim tanam 1973/ 1974 harus dinaikkan. Tidak boleh ketinggalan dengan pertambahan penduduk yang diperkirakan pada akhir tahun 1973 sudah mencapai 125 juta itu. Malah pada tahun 1974 akhir jika pertambahan penduduk bertambah dengan 2,5 persen sudah akan menjadi 128 juta. Jika dihitung keperluan orang Indonesia akan beras per kapita adalah 120 kg, maka pada musim tanam 1973/1974 diperlukan 16 juta ton beras.

Produksi beras tahun 1972/1973 adalah 14,8 juta. Jadi perlu tambahan 1,2 juta beras lagi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Peningkatan produksi beras sebanyak 1,2 juta ton itu menurut Presiden “bukanlah suatu impian atau suatu hal yang sulit dicapai.”

Tambahan 600 Ribu Hektar

Untuk musim tanam 1973/1974, Presiden menyetujui rencana perluasan sawah yang harus mengikuti intensifikasi, baik Bimas maupun Inmas menjadi 3,3 juta hektar sawah. Ini mempakan peningkatan 600 ribu hektar atau 22 prosen dari areal musim tanam tahun 1972/1973.

Empat Masalah

Ada empat masalah yang ditekankan Presiden untuk diperhatikan dalam usaha meningkatkan produksi tanam pada tahun 1973/1974 mendatang. Yakni : pertama perluasan areal intensifikasi, Bimas baru dan Inmas baru, kedua pengadaan dan penyaluran sarana produksi, ketiga kelancaran perkreditan dan peningkatan penyuluhan.

Perluasan Areal Intensifikasi, Bimas Baru dan lnmas Baru

Selain penambahan 600 ribu hektare sehingga areal musim tanam 1973/1974 menjadi 3,3 hektare maka 2,5 dari 3,3 juta hektar akan melakukan Bimas dan Inmas Bam. Ini berarti areal yang akan menggunakan bibit unggul seperti jenis PB5, PB8, C4, Pelita I, Pelita II, IR 20 akan bertambah dengan 1,1 juta hektare atau 80 prosen dari areal musim tanam 1972/1973.

Dengan bibit unggul ini setiap hektare diharapkan menghasilkan 5 – 6 ton padi dibandingkan dengan rata2 3,2 – 4 ton saja dari bibit unggul yang tersedia.

Sarana Produksi

Pemerintah menganggap pupuk mempakan kunci peningkatan produksi beras. Selain itu Pemerintah beri subsidi yang sangat besar pula.

Presiden mengumumkan kenaikan pupuk menjadi Rp 10 mulai musim tanam tahun 1973/1974 mendatang. Dikatakan kenaikan sebesar sekitar 50 prosen, tidak terelakkan karena halnya harga pupuk impor.

Namun menurut Presiden kenaikan harga pupuk tidak kan memberatkan petani, sebab selain harga dasar pembelian padi (floor price) dinaikkan menjadi Rp 13,20 menjadi Rp 21,20. Pemerintah memberi subsidi harga penjualan pupuk sekarang setiap kilo dari harga Rp 40.

Perkreditan

Untuk perlancar pemberian kredit dalam musim tanam 1973/1974 ini, BRI Unit Desa akan ditambah 680 sehingga seluruhnya menjadi 2.101. Disamping itu masih disediakan pula tambahan 20 untuk cadangan sehingga nantinya jumlah seluruhnya menjadi 700.

Namun bila petani2 dapat ikutdalam Bimas baru musim tanam 73/74, tunggakan2 kredit tahun2 sebelumnya harus diusahakan pengembaliannya lebih dulu. Gubernur2 yang ikut pembukaan Raker adalah dari Sumut, Jateng, DI Yogyakarta, Kalsel, Lampung, Sulsel, Sumbar, Jatim, Jabar dan Bali.

Tunggakan kredit dari musim tanam 70/71 sampai dengan 1972 ternyata agak besar meliputi 291 ribu ha untuk seluruh Indonesia. Presiden menyebut satu persatu daerah yang tunggakan bimasnya agak besar. Antara lain Sumut, Sumbar, Lampung dan Sulsel.

Penyuluhan

Dalam hal ini Presiden mengatakan bahwa penerangan2 tentang seluruh usaha peningkatan produksi akan lebih berhasil jika dilakukan dengan bahasa sederhana yang dimengerti oleh para petani.

Penyerahan Traktor Tangan

Selesai membuka Raker, Presiden menghadiahkan sebuah traktor tangan kepada BUUD/KUD Sumber pucung yang diserahkan melalui Gubernur Jawa Timur, Moh. Noor. (DTS)

Sumber: KOMPAS (20/09/1973)

 

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 138-140.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.