Semoga Bapak Berusia Panjang
Medan, 18 September 1998
Kepada
Yth. Bapak Haji Soeharto
di Tempat
SEMOGA BAPAK BERUSIA PANJANG [1]
Assalamu’alaikum wr. wb.
Dengan hormat,
Sebagai manusia biasa kita tidak luput dari kekilapan sebab manusia diciptakan Tuhan tidaklah sempurna seperti malaikat. Begitu juga dengan bapak, yang sangatlah berat cobaannya, sebagai seorang yang pernah memimpin negara yang kita cintai ini, yang sangat banyak penduduknya bahkan sampai ratusan juta jiwa jumlahnya, begitu juga suku-sukunya yang sangat banyak.
Bahkan selama Bapak pimpin negara ini cukup sukses, penduduk miskin sudah banyak berkurang jumlahnya. Tetapi akibat krisis moneter ini serta rakyat minta reformasi, Bapak rela mengundurkan diri sebagai pemimpin bangsa yang kita cintai ini. Dari keikhlasannya Bapak yang saya betul-betul sangat kagum, yang sifatnya rendah hati dan tidak pernah lantang kalau sedang berbicara, betul-betul jadi panutannya rakyat. Betul-betul pemimpin yang arif dan bijaksana.
Tetapi ada juga yang menghujat Bapak, rasanya saya betul-betul tidak rela, bahkan sangat sedih dan tidak setuju. Saya sebagai rakyat kecil biasa, hanya berdoa mudah-mudahan Bapak diberi umur yang panjang, kesehatan yang baik dan tabah menghadapi cobaan yang sangat berat ini.
Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada hamba-Nya.
Amiin Ya Robbal ‘alamin. (DTS)
Dari Bengkel Las
Adi
Helvetia (Sumut)
[1]Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 46. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.
