Surat Pembaca Di “Pikiran Rakyat”
Tasikmalaya, 21 September 1998
Kepada
Yth. Bapak. H.M. Soeharto
di Jl. Cendana 8 Jakarta
SURAT PEMBACA DI “PIKIRAN RAKYAT” [1]
Dengan ini saya menyampaikan rasa simpati yang mendalam kepada Bapak sekeluarga dan berdoa semoga ada dalam lindungan Allah SWT.
Adanya hujatan dan berbagai tuduhan terhadap pribadi Bapak semoga Bapak sekeluarga akan tabah menghadapinya, semoga tuduhan tersebut tidak benar.
Sebagai rasa simpati yang mendalam berikut saya lampirkan guntingan surat pembaca yang dibuat oleh H.D Pikiran Rakyat Bandung pada tanggal 12 Juli 1998.
Soal Harta Pak Harto Perlu Ada
Pendekatan Redaksi “PR” Yth.
Sejak bergulirnya gerakan reformasi damai dan lengsernya Pak Harto dari jabatan Presiden Rl, berbagai mass media, baik cetak maupun elektronik, telah memunculkan gugatan kekayaan yang dimiliki oleh mantan Presiden Soeharto dan keluarganya yang jumlahnya bervariasi.
Menurut pendapat saya, jika kekayaan milik Pak Harto dan keluarganya yang diduga hasil KKN itu benar serta melimpah, kiranya perlu adanya pendekatan dengan beliau bermusyawarah untuk mufakat bagaimana kekayaan itu agar dapat membantu meringankan penderitaan yang dialami saat ini yaitu kesulitan sembako.
Saya kira beliau akan terketuk nuraninya akan penderitaan rakyatnya yang pernah beliau pimpin selama 32 tahun. Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Pak Harto sendiri pada waktu tatap muka dengan masyarakat Indonesia di Kedubes RI di Cairo, ada sebuah majalah yang menuduh bahwa kekayaan Soeharto sebagai no. 4 terbesar di antara kepala negara di dunia, kalau itu benar Alhamdulillah akan saya bagikan kepada rakyat yang sedang menderita ungkap Pak Harto.
Dasar itulah kiranya perlu pendekatan dengan beliau untuk bermusyawarah yang tentunya orang yang ditunjuk untuk melaksanakan pendekatan supaya orang bijaksana setidaknya dekat dengan Pak Harto, bagaimanapun beliau sebagai pemimpin Bangsa yang pernah berbuat banyak untuk Negeri ini.
Simpati saya/keluarga
A. Djuansyah
Tasikmalaya.
[1]Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 48-49. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.
