Suwardjono Suryaningrat: Pak Harto Pemimpin Yang Sabar dan Bijaksana

Pemimpin Yang Sabar Dan Bijaksana

Dr. Suwardjono Suryaningrat
(Menteri Kesehatan dalam Kabinet Pembangunan III dan IV, 1978-1988)

 

Pada tahun 1946, saya mulai mendengar nama Pak Harto. Pada waktu itu Indonesia masih dalam perjuangan revolusi fisik menghadapi Belanda yang berusaha untuk kembali ke Indonesia. Pak Harto masih berpangkat mayor dan menjadi Komandan Batalyon X yang terkenal itu.

Saya masih menjadi mahasiswa Sekolah Kedokteran di Jakarta yang bersama dengan teman-teman mahasiswa ikut bergabung dalam suatu organisasi perjuangan melawan Belanda. Pada tahun 1946, saya dan beberapa orang mahasiswa diutus oleh pemerintah, dalam hal ini KNIP, pergi ke berbagai daerah untuk memberitakan kemerdekaan kita.

Pada waktu itu pemberitaan radio tidak bisa dipercaya, jadi pemerintah lebih baik mengirimkan beberapa orang yang dapat dipercaya sebagai kurir-kurirnya.

Dalam hal ini, karena saya orang Yogya maka saya dikirim ke Yogya. Sesampainya di Yogya saya dicurigai sebagai mata-mata Belanda yang hampir mencelakakan diri saya sendiri. Hal ini tidaklah perlu diherankan mengingat sistem administrasi kita pada waktu itu belum lagi tertata. Jadi mereka yang kami datangi itu tidak begitu saja percaya pada keterangan-keterangan kami.

Ada beberapa orang kawan kami yang terbunuh karena mereka disangka sebagai mata-mata Belanda. Sesampainya saya di Yogya, saya mendengar tentang pasukan yang dipimpin oleh Pak Harto yaitu Batalyon X.

Di sinilah saya mendengar Pak Harto sebagai komandan yang amat memperhatikan anak buahnya, dan Batalyon X itu terkenal sebagai batalyon yang sangat rapih. Pada waktu itu saya belum berkesempatan untuk mengenal beliau secara langsung, dalam pengertian dapat berbicara dengan beliau. Tetapi kesan saya pada waktu itu adalah bahwa Pak Harto itu seorang militer yang masih muda, charming, tegas dan raut wajah beliau sabar dan ramah.

Setelah saya berulang kali diutus ke Yogya, akhirnya saya ditempatkan di Resimen 5 yang bermarkas di Cikampek. Hal ini dilakukan atas kebijaksanaan yang digariskan oleh Kabinet Sjahrir untuk menghilangkan kesan anarki kepada dunia internasional. Jadi kami, para mahasiswa, yang pada waktu itu masih belum resmi sebagai tentara pemerintah RI, diperintahkan keluar dari Jakarta.

Pada masa perjuangan, kita memang mempunyai beberapa kelompok militer seperti Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian menjadi TRI, Barisan Rakyat Indonesia (BRI), dan beberapa kelompok lain. Akhirnya setelah TNI terbentuk, saya masuk menjadi anggota TNI.

Ketika di Cikampek, saya bergabung dengan Pak MT Haryono, Pak Taswin, Pak Daan Yahya, Pak Daan Mogot dan lain-lain. Pada waktu itu agak lucu, karena masing-masing kesatuan mempunyai pangkat sendiri-sendiri, artinya mereka sendirilah yang menentukan pangkat tersebut. Hal ini dapat kita mengerti karena keadaan memang masih sangat kacau.

Tujuan kita yang pokok adalah berjuang melawan Belanda. Jadi waktu saya sampai di Cikampek, mereka sudah memakai pangkat letnan kolonel dan sebagainya. Pimpinan saya pada waktu itu ialah Letkol. Soeroto Koento. Orangnya tegas dan pandai sekali.

Kami selalu tidur bersama diatas lantai, karena kami tidak mengenal kasur pada waktu itu. Nasibnya sungguh tragis, karena ia kemudian diculik dan sampai sekarang saya tidak mengetahui dimana dia berada. Kemungkinan besar beliau meninggal pada waktu itu.

Pada masa perjuangan itu kami semua memang merasakan kesulitan yang seakan-akan tiada putusnya. Semua badan perjuangan yang ada pada waktu itu masing-masing mencari identitasnya sendiri-sendiri dan membuat kebijaksanaan sendiri-sendiri pula.

Kadang-kadang kebijaksanaan dari kelompok perjuangan yang satu bisa bertentangan dengan yang lainnya. Contohnya adalah dalam hal pengiriman beras. Kebijaksanaan pemerintah pada waktu itu adalah mengamankan pengiriman beras dari pedalaman untuk dibagikan kepada para pegawai yang masih loyal pada pemerintah Rl.

Nah, beras tersebut tertahan di Krawang. Penahanan ini dilakukan oleh badan-badan perjuangan yang anggotanya adalah teman­teman kami sendiri. Jadi pada waktu itu kita ini juga kadang-kadang bentrok dengan kawan-kawan sendiri.

Badan-badan perjuangan itu juga saling mencurigai satu dengan lainnya karena hilangnya Pak Soeroto Koento itu. Pada waktu itu, ia sudah menjabat sebagai Komandan Resimen. Kami semua bingung, karena pada waktu itu Pak Soeroto Koento akan mengadakan perundingan dengan Jenderal Sprit dari Divisi Tujuh Desember di Bekasi; Tiba-tiba saja ia diculik bersama dengan Kepala Stafnya, Pak Adel Sofjan, yang berpangkat mayor.

Akhirnya kami dipanggil oleh Pak Nasution, yang pada waktu itu menjadi Panglima Divisi Siliwangi. Saya dan Residen Purwakarta disuruh menghadap Bung Karno dan menceriterakan betapa tidak stabilnya Jakarta Timur, yang meliputi wilayah Bekasi-Cikampek­Purwakarta.

Oleh Bung Karno, saya bersama dengan Eri Soedewo diperintahkan menghadap Jenderal Sudirman untuk meminta bantuan untuk mengatasi kekalutan di Jakarta Timur dalam kaitannya dengan badan-badan perjuangan itu.

Kami menemui Jenderal Sudirman di Yogyakarta, yang pada waktu itu didampingi oleh ajudan beliau, Suprapto (almarhum, pahlawan revolusi). Panglima Sudirman menerima kami dengan tenang dan menjanjikan akan memberikan bantuan kepada kami.

Tidak lama kemudian bantuan yang dijanjikan tiba. Bantuan tersebut adalah Batalyon X dan dipimpin oleh Pak Harto sendiri. Sebagai perwira staf resimen, saya ditugaskan untuk menjemput beliau di stasiun kereta api Cikampek. Pak Harto pada waktu itu masih berpangkat mayor.

Beliau berada di Cikampek kurang-lebih dua bulan untuk ikut menertibkan badan-badan perjuangan dan lasykar-iasykar rakyat yang menjalankan kebijaksanaannya sendiri­-sendiri. Di Cikampek inilah saya mulai mengenal Pak Harto secara langsung.

Setelah saya mempersilahkan Pak Harto untuk beristirahat, saya antar beliau ke resimen saya. Tetapi Pak Harto tidak segera berangkat. Beliau memanggil staf perwiranya dahulu dan memerintahkan perwira tersebut untuk memeriksa kesatrian untuk tempat tinggal pasukan beliau.

Di mana letaknya, bagaimana keadaannya dan apakah tempat tersebut telah memiliki dapur umum atau belum. Pak Harto tidak mau meninggalkan pasukan beliau begitu saja.

Peristiwa ini sangat mengesankan saya. Jadi berita-berita yang tersebar mengenai Pak Harto sebagai komandan pasukan yang bertanggungjawab dan rapi serta sikap Pak Harto yang selalu memperhatikan pasukannya bukan hanya omong kosong saja.

Tidaklah mengherankan kalau Batalyon X terkenal sebagai batalyon yang terbaik pada waktu itu. Beliau memang dengan sungguh-sungguh memperhatikan para anak buah pasukan beliau. Bahkan beliau masih ingat berapa orang anak buah beliau yang gugur pada tahun 1946 di Cikampek itu. Kalau tidak salah ada empat orang yang gugur.

Setelah dua bulan berada di Cikampek, Pak Harto kembali lagi ke Yogya. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi bertemu dengan beliau. Tetapi kenangan masa perjuangan fisik masih tetap terekam terus.

Saya mendengar bahwa Pak Harto kemudian menjadi Panglima Divisi Diponegoro. Dari Panglima Divisi Diponegoro beliau menjadi Komandan Caduad, yang kemudian menjadi Kostrad, di Jakarta. Saya selalu mengikuti semua tentang beliau, karena kesan di Cikampek dulu sangat mendalam bagi saya.

Sementara itu saya telah bertugas sebagai perwira kesehataq di Bandung. Pangkat saya pada waktu itu sudah kolonel. Ketika G-30-S/PKI meletus, saya mendengar pengumuman Untung di RRI bahwa pangkat tertinggi adalah letnan kolonel, saya bingung jadinya.

Saya menduga telah terjadi sesuatu yang gawat. Kemudian saya mengontak Pak Soewarto, Komandan Seskoad, dan kami segera menentukan sikap untuk berdiri dibelakang Pak Harto. Pada waktu itu, disamping sebagai seorang dokter, saya adalah pendiri KASI (Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia) sehingga saya terus menerus mengadakan kontak dengan Seskoad untuk mengikuti perkembangan keadaan dan meneruskannya kepada K.ASI.

Pada waktu itulah saya dapat melihat ketegasan dan kebijaksanaan Pak Harto dalam menghadapi PKI dan Bung Karno. Bagi kami tindakan Pak Harto kami anggap agak lamban. Kami semua sudah tidak sabar.

Bahkan ada yang mengusulkan agar Pak Nasution saja yang maju menumpas PKI. Tetapi akhirnya kami sadar bahwa tindakan beliaulah yang benar. Bayangkan seandainya kita melakukan tindakan yang bersifat konfrontatif. Kita tentu akan hancur.

Kemungkinan besar dapat terjadi bahwa RPKAD akan berhadapan dengan KKO. Pengikut Bung Karno pada waktu itu juga masih sangat kuat. Berkat kebijaksanaan Pak Harto hal tersebut dapat dihindari. Ketegasan dan kesabaran beliaulah yang berhasil menanggulangi kemelut nasional itu dengan baik.

Ketegasan dan kesabaran beliau yang pernah saya lihat pada tahun 1946, sama sekali tidak berubah bahkan be1iau sekarang te1ah menjadi seorang pemimpin yang bijaksana.

Pada tahun 1970-1978 saya ditunjuk o1eh Presiden untuk memimpin BKKBN (Badan Koordinasi Ke1uarga Berencana Nasional). Jabatan tersebut diperpanjang lagi sampai tahun 1983. Sebelum se1esai jabatan sebagai Kepala BKKBN saya diangkat menjadi Menteri Kesehatan dalam Kabinet Pembangunan III pada tahun 1978 dan Kabinet Pembangunan IV yang berakhir pada tahun 1988.

Jadi saya memegang jabatan rangkap; se1ama lima tahun sebagai Kepala BKKBN dan Menteri Kesehatan.

Ketika saya ditunjuk untuk memimpin BKKBN, saya merasa takut karena saya merasa tidak mampu. Pada waktu itu Prof. Satrio datang kepada saya dan mengatakan bahwa Pak Widjojo mencari saya untuk diserahi memimpin BKKBN. Keputusan ini saya kira berdasarkan pengalaman saya dalam menangani program keluarga berencana dalam keluarga-keluarga ABRI dalam lingkungan Divisi Siliwangi. Sebe1um menangani masa1ah ini, pada tahun 1962 saya dikirim ke Amerika Serikat untuk belajar mengenai masalah­masalah keluarga berencana.

Ketika saya bersama dengan Pak Sudharmono menghadap Pak Harto untuk melapor, beliau menyambut kami dengan senyum dan ucapan yang ramah dan berkata: “Wah, ini tenaga baru, ya”.

Sewaktu saya memberikan penghormatan secara militer seperti lazimnya seorang perwira terhadap atasannya, beliau memberikan komentar: “Ooh, masih bisa memberi hormat militer”.

Sambil terus tersenyum beliau kemudian memberikan petunjuk­petunjuk yang singkat jelas, tetapi mencakup pokok-pokok kebijaksanaan. lni yang kemudian menjadi pegangan saya dalam mengembangkan Program Keluarga Berencana di Indonesia.

Tugas sebagai Ketua BKKBN saya rasakan amat berat karena diatas pundak sayalah pengendalian penduduk dibebankan: Pak Harto menekankan bahwa pengendalian penduduk merupakan salah satu sisi dari rencana pembangunan nasional.

Penduduk yang tak terkendali hanya akan menjadi beban bagi pembangunan kita. Tetapi kepercayaan yang demikian besar, yang diberikan kepada saya oleh Presiden, merupakan dorongan yang kuat bagi saya untuk tidak mengecewakan beliau.

Selama menjadi Ketua BKKBN saya selalu melaporkan dan berkonsultasi dengan beliau apabila saya menemukan masalah-masalah yang tak dapat saya pecahkan sendiri.

Menghadapi masalah ini, Pak Harto selalu memberikan pengarahan dan petunjuk yang memang setelah dikaji petunjuk beliau itu tepat. Jadi saya mempunyai kesan bahwa beliau itu mengetahui dan mengerti masalah-masalah kependudukan.

Bahkan beliau mengetahui masalah tersebut sampai ke detailnya. Beliau adalah seorang yang sangat cermat terutama bila kami terlibat dalam pembicaraan yang menyangkut masalah angka­ angka data.

Jadi kalau kami akan melaporkan perkembangan keluarga berencana di Indonesia kami harus menyiapkan dengan ekstra-teliti, karena beliau selalu mengingat semua hal yang telah pernah kami bicarakan meskipun hal tetsebut terjadinya beberapa waktu yang lalu.

Satu hal yang menarik perhatian saya adalah bahwa masalah kesejahteraan rakyat kecil tak pernah lepas dari perhatian beliau. Program KB yang digalakkan pada masa Orde Baru adalah juga merupakan salah satu upaya untuk menciptakan kesejahteraan rakyat yang akan mendukung pembangunan nasional.

Begitu pula pada waktu saya diangkat menjadi Menteri Kesehatan, petunjuk yang beliau berikan adalah agar kebijaksanaan di bidang kesehatan dapat mencapai rakyat kecil. Beliau memberikan idea agar rakyat kecil diikutsertakan.

Posyandu (pas pelayanan terpadu) lahir karena gagasan dan petunjuk beliau. Dan memang kenyataannya rakyat mengambil manfaat yang besar dengan adanya posyandu di kelurahan-kelurahan.

Kesehatan rakyat menjadi lebih mendapat perhatian dan rakyatpun menjadi tertarik membawa masalah kesehatannya kepada pos-pos kesehatan tersebut. Seperti kita ketahui di banyak tempat rakyat masih sangat takut pada pengobatan modern.

Berkat bimbingan Pak Harto, masalah kesejahteraan rakyat yang berkaitan dengan keluarga berencana dan kesehatan cepat meningkat. Di bidang KB umpamanya, jumlah kelahiran dapat diturunkan. Di bidang kesehatan, angka kematian dapat diturunkan menjadi 6/1000 dari 18/1000 selama saya menjadi Menteri Kesehatan.

Ini menunjukkan bahwa hal tersebut bukan hanya karena kesehatan bertambah baik, tetapi juga karena masalah kesejahteraan rakyat yang sudah meningkat dengan cukup baik. Hal ini tentu saja tak dapat dilepaskan dari keberhasilan di bidang-bidang lainnya. Misalnya keberhasilan di bidang pertanian atau peternakan yang membawa dampak pada kesejahteraan rakyat.

Berdasarkan pengalaman di atas, saya menilai bahwa Pak Harto adalah seorang pemimpin yang cepat tanggap dan brilyan. Petunjuk-petunjuk beliau juga sangat rasional. Inilah yang mengesankan saya. Sebagai pembantu beliau, kami berkewajiban untuk secara rutin memberikan laporan mengenai kemajuan atau hambatan-hambatan dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepada kami.

Kami harus menyiapkan semuanya dengan betul; jangan memberikan laporari palsu. Beliau selalu menanyakan mengenai bagaimana proyeksinya tentang suatu hal. Meskipun pada umumnya beliau himya memberikan garis besar tugas kami masing-masing dan pelaksanaan operasional serta detail rinciannya kami yang melaksanakan, tetapi beliau juga mengetahui secara rinci mengenai berbagai hal dari tugas kami masing-masing.

Hal ini dapat kita lihat umpamanya dalam sidang-sidang kabinet bersama pembantu beliau. Kadang-kadang saya jad1 geleng geleng kepala melihat daya ingat beliau yang begitu kuat. Banyak tamu negara yang bertemu dan berbicara dengan beliau yang juga mengagumi pengetahuan yang luas dan rinci mengenai masalah­masalah pembangunan Indonesia.

Delapan belas tahun lamanya saya mengabdi pada negara di­ bawah kepemimpinan Pak Harto. Selama itu pula saya mengenal beliau baik sebagai pribadi ataupun sebagai pemimpin negara dan pemerintahan.

Begitu dalamnya kesan yang saya peroleh mengenai pribadi dan sikap beliau, sehingga amat sukar rasanya mengungkapkannya dengan kata-kata yang dapat menggambarkan semua kesan saya terhadap Pak Harto. Berbagai sikap dan nilai tercermin dalam pribadi beliau. Tegas dan lembut, konsisten tetapi demokratis dan bijaksana.

Ketegasan dan kelembutan Pak Harto terlihat dalam tindakan beliau dalam menjalankan semua hal yang telah digariskan beliau. Hal ini terlihat umpamanya dalam sidang-sidang kabinet, dimana kadang-kadang terdapat usul dari salah seorang pembantu beliau untuk mengubah sesuatu keputusan.

Prinsip beliau, sekali keputusan diambil harus dilaksanakan. Bila terdapat suatu masalah atau ke­ sulitan, beliau akan dengan sangat terbuka memberikan petunjuk­petunjuk atau jalan keluar. Beliau memang tegas tetapi jauh dari kesan angker seperti gambaran seorang militer pada umumnya.

Sikap demokratis Pak Harto tampak dalam hubungan kerja beliau dengan kami para pembantu beliau. Beliau memberikan kepercayaan yang sangat luas pada kami. Beliau memberikan petunjuk yang pokok-pokok saja.

Kamilah para pembantu beliau yang harus mampu menjabarkan petunjuk-petunjuk tersebut. Pengalaman saya sebagai pembantu beliau yang relatif lama, memberikan kesa:n bahwa selain demokratis beliau adalah juga seorang yang sabar dan pendengar yang baik. Bila saya memberikan laporan, beliau tidak pernah memotong uraian saya sampai saya selesai.

Baru sesudah itu beliaulah yang memberikan komentar seperti layaknya seorahg ayah menasihati anaknya. Dalam memberikan petunjuk, beliau tidak pernah mengharuskan saya begini atau begitu. Kami para pembantu beliaulah yang harus tahu diri. Jadi gambaran orang luar yang sering menggambarkan Pak Harto sebagai seorang pemimpin yang otoriter tidaklah benar.

Pak Harto menganggap kami sebagai para pembantu yang beliau percayai dengan sepenuhnya. Tetapi dalam menjalankan tugas, bukanlah tidak mungkin bahwa diantara kami pernah membuat suatu kesalahan. Dalam meng;hadapi hal ini, di sinilah tampak ke­bijaksanaan beliau.

Beliau tidak pernah mempermalukan kami dalam arti memarahi seseorang di muka orang lain. Ekspresi wajah beliau sajalah yang tampak berbeda. Nah, kalau sudah begitu, kami yang sudah harus mengerti bahwa beliau kurang setuju pada tin­dakan kita.

Memang agak sukar bagi para pembantu yang belum lama mengenal beliau, terlebih-lebih bagi mereka yang bukan berasal dari Jawa. Tetapi masalah ini tidak menghalangi terciptanya hubungan kerja yang erat dan kekeluargaan antara Pak Harto dan kami para pembantu beliau. Pak Harto memang kami anggap sebagai Bapak yang penuh perhatian dan bijak.

Sikap yang halus, sabar dan bijak tercermin dalam tindakan beliau karena sikap-sikap tersebut berdiri di atas landasan penguasaan filsafat Jawa yang dalam. Sabar dalam menghadapi segala hal adalah kunci pengendalian diri. Inilah yang beliau pegang. Sikap beliau yang low profile dan tidak pernah menyakiti orang lain adalah manifestasi dari pengendalian diri yang kuat.

Salah satu contohnya adalah, beliau paling tidak suka mengganti pembantu beliau di tengah jalan. Beliau juga sangat berpegang pada filsafat Ki Hajar Dewantara, ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani yang tercermin dalam suasana kerja antara beliau dengan kami, para pembantu beliau.

Kehangatan sikap beliau tidak hanya nampak dalam hubungan yang formal fungsional saja, tetapi juga nampak dalam hubungan yang bersifat pribadi. Beliau selalu menanyakan keluarga para pem­ bantu beliau. Kepada ayapun demikian pula.

Pada waktu isteri saya sakit beliau selalu menanyakan kemajuan kesembuhan isteri saya. Disamping itu, meskioun beliau dan Ibu Tien sangat sibuk, beliau berdua tidak pernahmenolak hila kami mengundang beliau berdua untuk hadir dalam acara keluarga.

Umpamanya untuk memberi restu atau menjadi saksi dalam suatu pernikahan. Sayapun pernah mengundang beliau waktu saya menikahkan salah seorang anak saya dan beliau bersama lbu Tien memerlukan datang. Saya sangat ter haru sekali.

Pak Harto tidak pernah melupakan hal-hal yang pernah beliau alami atau jumpai. Beliau masih ingat pada kakak saya, Harso, yang sekarang sudah almarhum. Dahulu kakak saya itu adalah bekas kepala staf batalyon Daryatmo di Wates, kemudian di Muntilan.

Sebelum kakak saya meninggal, beliau sering menanyakan: “Harso bagaimana?” Di sinilah kita dapat melihat bahwa daya ingat beliau bukan hanya untuk merekam masalah-masalah yang formal saja tetapi juga menyangkut masalah-masalah yang bersifat pribadi. Beliau juga seorang pemimpin yang penuh perhatian dan pengertian.

Pada waktu beliau meresmikan posyandu, isteri saya tak dapat hadir. Hal ini saya laporkan pada beliau, kemudian beliau berkata: “Wah nggak apa-apa”. Beliau juga selalu menanyakan anak-anak saya. Bagaimana sekolahnya, sudah bekerja atau belum, dan sebagainya. Sikap beliau yang seperti ini sangat menyentuh saya sehingga kenangan terhadap beliau sukar untuk dilupakan.

Tidaklah mengherankan kalau beliau mempunyai perhatian yang besar terhadap keluarga kami, karena beliau adalah seorang bapak yang sangat mencintai keluarganya. Mungkin orang luar banyak yang tidak mengerti mengenai hal ini. Bagi beliau, keluarga yang merupakan urusan pribadi jangan diusik-usik. Bagi saya pribadi, yang penting adalah menjalankan tugas masing-masing dengan sebaik-baiknya. Bukankah beliau secara pribadi lebih matang dari kita semua?

Semua tugas saya telah selesai. Tetapi Pak Harto selalu mengatakan bahwa kita harus terus mengabdi pada negara, artinya setelah kita be henti menjadi menteri janganlah kita lalu menganggur di rumah. Itulah sebabnya saya kembali ke profesi saya yangsemula yaitu menjadi dokter dan melayani rakyat biasa.

Saya merasakan kepuasan yang sangat besar sebagai pembantu beliau. Kepemimpinan Pak Harto telah memberikan pengalaman dan hal-hal yang sangat berharga bagi saya. Saya telah belajar banyak dari beliau. Yang menjadi harapan saya sekarang adalah semoga, janganlah ada orang-orang yang mengkultus individukan beliau demi untuk kepentingan dirinya sendiri. Beliau sendiri sangat jauh dari keinginan yang seperti itu.

Menurut pendapat saya apa yang beliau inginkan adalah tetap terjaminnya Indonesia di masa depan. Beliau sadar bahwa kita pasti akan mengalami pergantian pimpinan bangsa. Daun-daun tua berguguran digantikan oleh daun­-daun muda. Itu adalah wajar, tetapi yang muda janganlah ”lancang‘ ‘. Biarlah penggantian itu berjalan dengan smooth melalui pewarisan nilai-nilai yaitu transfer of experience, knowledge and philosophy.

***

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.