Ungkapan Hati Nurani

Ungaran, 23 Juni 1998

Kepada

Bapak H. M. Soeharto

Jl. Cendana No. 8

di Jakarta

UNGKAPAN HATI NURANI [1]

Assalamu’alaikum wr. wb.

Sebelumnya saya ingin mengucapkan sugeng tanggap warsa (walau terlambat) semoga Allah Swt memberikan keselamatan dan kesehatan kepada mbah kakung. Nuwun sewu saya begitu lancang memanggil sebutan demikian tapi memang demikianlah sepantasnya. Sekali lagi saya haturkan mohon maaf atas kelancangan saya menulis ungkapan hati saya daripada menangis terus nggak sampai hati dengan semua itu. Entah bagaimana saya harus mulai mengatakan tapi begitu mendengar dan membaca di media massa tentang hujatan yang ditujukan kepada mbah kakung.

Saya buta dan tak mudheng dengan politik tapi saya merasakan akhir-akhir ini harga kebutuhan pada naik tapi tidak saya ambil pusing. Tapi nuwun sewu betapa saya sangat merasakan perasaan mbah kakung pada saat-saat mendengar, mirsani TV, maos koran tentang hujatan dan hinaan yang ditujukan kagem mbah kakung. Nuwun sewu kalau pareng saya matur perasaan itu sama seperti saya ketika 4 tahun yang lalu orangtua kami meninggal, saya harus banting tulang menghidupi dan adik-adik saya (kami berdua) belum lagi menerima fitnahan dari tetangga bahwa saya jual diri, padahal saya kerja di Rumah Sakit dinas pagi dan malam, jadi sampai rumah malam. Hanya nangis batin yang dapat kami lakukan kadang kami berdosa, menyalahkan Tuhan, mengapa mengambil orangtua saya, saya waktu itu benar-benar tidak kuat lagi menahan godaan-godaan itu hanya doa dan pasrah yang kami bisa lakukan.

Akhirnya Tuhan memberikan jalan kepada kami berdua, saya mencoba wiraswasta kecil-kecilan sebagai penyalur barang kelontong di RS Kariadi Semarang dan adik saya baru 1/2 tahun bekerja di PT. Angkasa Pura I Semarang akhirnya sedikit demi sedikit saya bisa menyekolahkan adik saya walau masih di D- I, Alhamdulillah bisa membelikan sepeda motor (nyicil) bisa memperbaiki makam orangtua akhirnya bisa diparingi Gusti mobil walau thn 80-an. Saya bersyukur jerih, payah saya direstui Tuhan walau kadang kepala buat kaki, kaki buat kepala.

Akhirnya saya kembali hanya bisa menangis di malam hari, bahagia, sedih, campur jadi satu, andai saja orangtua masih hidup pasti mereka bahagia, kami bisa mandiri tanpa secuil warisan dari orangtua, tapi saya sangat sedih, orang tetap saja menganggap diri saya kotor apalagi status saya yang masih sendiri (sekarang saya 29 th).

Itulah manusia ya Mbah, yang seneng dan tidak seneng banyak yang tidak seneng. Namun semua itu kami kembalikan lagi kepada Tuhan, karena semua itu juga dari-Nya, dan kebenaran itu tetap ada. Saya merasakan perasaan Mbah kakung sekarang ini apalagi tidak ada dukungan dari Mbah Putri, pasti perasaan itu sama dengan kami di saat prahara datang dukungan dari orang yang dekat di hati kita tidak ada.

Namun saya percaya Mbah Kakung dapat mengatasi semua cobaan­-cobaan ini. Saya akan selalu berdoa agar Mbah Kakung senantiasa diberikan ketabahan dan tawakal dalam menghadapi prahara ini.

Nuwun sewu sekali lagi saya telah lancang menulis semua itu, namun inilah ungkapan perasaan saya karena setiap mendengar atau membaca Mbah Kakung saya menangis dan saya kembalikan ke diri saya sendiri betapa hal itu sangat menyakitkan.

Kiranya kalau Mbah Kakung wonten wekdal Ian kersa pun dalem aturi tindak wonten gubug dalem wonten Ungaran atau kalau pareng saya boleh sowan Mbah di Jakarta?

Cekap semanten Mbah Kakung matur sembah nuwum.

Pareng. (DTS)

Wassalam

Dari Wong cilik

Ana Novita Anggraeni

Kab. Semarang

[1]       Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 273-274. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

http://sifastore
Presiden Soeharto merupakan kader terbaik bangsa yang keseluruhan hidupnya dihabiskan untuk membangun bangsa ini. Mulai dari perjuangan fisik pada era kemerdekaan hingga perjuangan terwujudnya Tinggal Landas.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses