BANTUAN REHABILITASI GEDUNG SD SWASTA DAN MADRASAH

HM Soeharto dalam berita

PRESIDEN SOEHARTO UMUMKAN BANTUAN REHABILITASI GEDUNG SD SWASTA DAN MADRASAH [1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto, hari Rabu, mengumumkan suatu program baru pemerintah dalam anggaran 1976/1977 berupa pemberian bantuan rehabilitasi gedung Sekolah Dasar milik swasta dan gedung2 Madrasah Ibtidaiyah yang jumlahnya meliputi 2.700 buah.

Ketika memberikan keterangan pemerintah tentang RAPBN 1976/1977 di depan sidang pleno DPR di Jakarta, Kepala Negara mengemukakan, direncanakan biaya sebesar Rp. 142 milyar untuk sektor Pendidikan, Kebudayaan dan Pembinaan Generasi Muda.

Kegiatan lain yang akan dilakukan antaranya adalah menyelesaikan tahap kedua dari pembangunan SD Inpres sebanyak 10.000 buah, disamping itu lebih dari 13.000 gedung Sekolah Dasar akan direhabilitasi.

Menurut Presiden, dengan selesainya rehabilitasi itu, maka selesailah seluruh program rehabilitasi gedung SD milik pemerintah.

Presiden menyatakan, penyediaan buku bacaan untuk perpustakaan dan buku pelajaran pokok untuk SD akan diperbanyak, masing2 dengan 8,5 juta dan hampir 70 juta buah.

Sedangkan untuk meningkatkan mutu pendidikan akan diadakan penataran 395.000 orang guru2 SD, termasuk guru2 Madrasah Ibtidaiyah.

Untuk sekolah2 lanjutan pertama dan sekolah lanjutan atas diadakan pembangunan gedung2 baru dan penambahan ruang kelas pada sekolah2 yang telah ada. Demikian pula dilanjutkan berbagai kegiatan yang telah berlangsung selama ini untuk makin memperbaiki mutu sekolah2 kejuruan, pendidikan tinggi dan pendidikan di luar sekolah.

Bantuan Untuk PON

Presiden menyatakan, pembangunan di bidang olahraga dipusatkan pada bantuan untuk penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional yang akan datang di Jakarta.

Kecuali dengan izin pemerintah pusat, pemerintah daerah dilarang untuk mengadakan pungutan apapun dengan dalih untuk kepentingan PON.

“Hal ini perlu saya tegaskan karena praktek2 pungutan semacam itu selalu berekor dengan ekses2, yang tidak jarang menambah beban masyarakat dan dapat mengganggu kelancaran kehidupan ekonomi”, demikian Presiden.

350 Puskesmas Baru

Dikemukakan, sektor Kesehatan, Keluarga Berencana dan Kesejahteraan Sosial disediakan anggaran sekitar Rp 50 milyar. Kegiatannya antara lain pembangunan 350 buah Puskesmas baru.

Dengan tambahan itu, maka apa yang ditentukan dalam Repelita II telah tercapai, ialah sebuah Puskesmas untuk setiap kecamatan. Sementara itu akan diadakan peningkatan lebih dari 800 buah Puskesmas yang telah ada.

Presiden menyatakan, sekitar 700 buah rumah akan dibangun untuk dokter2 Puskesmas kecamatan ini, yang tentunya akan membantu kelancaran penyaluran tenaga2 dokter ke daerah2. Fasilitas kerja dokter2 Puskesmas ini juga terus diperbaiki. Setiap dokter Puskesmas akan mendapat sebuah kendaraan bermotor : sebuah sepeda motor.

Sektor Agama

Mengenai sektor agama dan kepercayaan terhadap Tuhan YME yang disediakan dana sebesar Rp.6 milyar, kegiatannya adalah melanjutkan kegiatan2 tahun yang lalu, antara lain melanjutkan pembangunan Masjid Istiqlal, pencetakan kitab2 suci dan sebagainya.

Di samping penyediaan sarana2 fisik yang bertambah banyak itu, maka pembinaan kerukunan hidup antara ummat beragama serta kesempatan yang luas bagi ummat beragama untuk melaksanakan ibadah merupakan hal yang penting.

Penyediaan Obat2an

Presiden menyatakan, penyediaan obat2an juga akan ditingkatkan dalam tahun anggaran 1976/1977, yaitu kenaikan dari Rp.50 perkapita menjadi Rp.65 perkapita.

Di samping melanjutkan berbagai program dalam tahun 1975/1976 maka juga akan dilakukan usaha untuk meningkatkan kemampuan panti2 Asuhan milik pemerintah dan bantuan kepada panti-panti Asuhan milik masyarakat.

Program2 untuk membina suku2 terasing, perawatan orang2 lanjut usia dan penderita cacad dilanjutkan. Berbagai kegiatan itu, waluapun belum dapat dilakukan secara besar2an, merupakan langkah2 nyata untuk lebih memperhatikan kesejahteraan sosial

Perumahan dan Air Minum

Masalah kesejahteraan masyarakat lainnya yang mendapat perhatian tercermin dalam kegiatan Sektor Perumahan dan Air Minum dengan biaya yang disediakan Rp.28 milyar.

Menurut presiden, dalam tahun 1976/1977 akan dilanjutkan penyelesaian penyediaan tanah matang dengan rumah inti sebanyak 6.500 unit. Di samping itu pembangunan 4.000 buah rumah sederhana.

Kegiatan lain seperti penyuluhan perumahan, pemugaran perumahan di desa2 dsb. tetap dilanjutkan. Di berbagai kota diteruskan pula pembangunan instalasi2 air minurn dan jaringan distribusinya.

Penerangan dan Komunikasi

Presiden menyatakan, untuk sektor penerangan dan komunikasi akan diselesaikan pembangunan tujuh buah studio televisi dan diselesaikan pula 17 buah stasiun lokal di daerah2.

Sejumlah pembangunan danpeningkatan pemancar2 RRl juga dilanjutkan. Di kecamatan2 yang terjangkau oleh siaran televisi akan dipasang televisi2 umum. Berbagai pembangunan di sektor ini sekaligus akan berarti peningkatan prasarana pendidikan dalam arti yang luas.

Presiden juga mengemukakan dalam bulan Agustus tahun ini satelit domestik akan diluncurkan. Dengan itu maka hubungan telpon akan makin lancar, yang berarti memperlancar kegiatan ekonomi masyarakat dan kegiatan2 lainnya.

Dengan adanya satelit domestik itu maka makin luas dan makin baik jangkauan siaran radio dan televisi, yang akan dapat menjangkau sampai ke pelosok2 desa. Dalam rangka ini akan diusahakan agar program2 siaran benar2 sesuai dengan suasana dan kebutuhan pembangunan.

Sektor Hankam

Sektor pertahanan keamanan disediakan anggaran pembangunan sebesar Rp. 42,5 milyar yang diperuntukkan bagi kelanjutan pelaksanaan rencana strategis Hankam.

Presiden Soeharto mengharapkan kepada DPR untuk membahas RAPBN 1976/1977 sebaik2nya bersama2 dengan pemerintah untuk kemudian disahkan menjadi rencana kerja tahunan dalam rangka penyelesaian Repelita II.

“Betapapun kesulitan2 telah melanda kita dalam tahun 1975, dan betapapun kesulitan masih harus kita atasi dalam tahun2 mendatang, namun pembangunan tetap dapat kita gerakkan”, demikian Presiden Soeharto. (DTS)

Sumber: ANTARA (17/01/1976)

 

 

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 12-15.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.