GENERASI MUDA DIAJAK MEMBUAT SEJARAH DENGAN KARYA-KARYA BESAR

GENERASI MUDA DIAJAK MEMBUAT SEJARAH DENGAN KARYA-KARYA BESAR

 

 

Jakarta, Kompas

KEPADA generasi muda Indonesia, Presiden Soeharto melemparkan tantangan. Melalui para Pramuka yang berkumpul dalam Perkemahan Wirakarya Nasional 1990 di Desa Bantarbarang. Purbalingga, Jawa Tengah, Kepala Negara mengajak “… agar menjadi generasi yang ikut menentukan arah perubahan dan perkembangan masyarakat kita”.

Dunia terus berubah dan perubahan itulah yang harus ikut ditentukan arahnya oleh generasi muda. Hal itu terjadi, apabila generasi muda sanggup mempersiapkan diri untuk menghasilkan karya-karya besar.

Melalui karya-karya besar itulah, generasi membuat sejarah. Diperingatkan oleh Presiden, generasi yang tidak membuat karya besar, hanya akan muncul sekejap, terus tenggelam ditelan waktu.

Kepala Negara berkata “Para pendahulu kita, para pendiri Republik ini dicatat oleh sejarah, karena mereka telah melakukan karya-karya besar. Hanya dengan karya-karya besar, suatu generasi akan dicatat oleh sejarah. Dengan melakukan karya-karya besar, suatu generasi membuat sejarah”.

Dalam karya besar apakah generasi muda sekarang hidup? Dijawab “Kalian tumbuh dan berkembang di tengah-tengah bangsa yang sedang mengerahkan segala daya dan upaya untuk pembangunan. Kita semua sadar, bahwa pembangunan adalah upaya yang tidak pemah mengenal berhenti dan harus dilakukan terus menerus dari generasi ke generasi”.

Apakah yang diperlukan agar generasi muda dapat menjawab tantangan dan kesempatan yang dilontarkan oleh Kepala Negara lewat Perkemahan Wirakarya Nasional Pramuka?

Bahwa pekerjaan besar pembangunan sekarang dan mendatang memerlukan ilmu pengetahuan, karena agar berhasil dan sanggup bersaing dengan bangsa-bangsa lain, generasi muda harus dapat menguasai teknologi.

Ilmu dan teknologi bukan sekadar masalah pengalihan pengetahuan secara teknis. Agar mengakar dan berlangsung suatu kulturasi, ternyata diperlukan hadirnya perangkat kebudayaan yang mendukungnya.

Kebudayaan yang mendukung ilmu dan teknologi itu diantaranya berunsur faktor-faktor pokok seperti sikap rasional, kemampuan berpikir secara analitis dan kritis, serta suatu sikap disiplin yang menyuburkan orientasi saksama, tepat waktu, ulet, optimal.

KITA dihadapkan pada permasalahan masa transisi. Misalnya saja, transisi dari komitmen danmotivasi yang lebih berat bobot idealismenya ke keadaan, di mana motivasi ideal surut dan mulai digantikan oleh sikap dasar quid pro quo, setiap usaha haruslah ada kompensasi materiilnya.

Format baru dari suatu bangunan motivasi yang merupakan resultan dari periode peralihan nilai-nilai serta orientasi baru, belum selesai diformulasikan, dimasyarakatkan, serta diterima dan dihayati oleh masyarakat.

Kita masih harus lebih lanjut membangun watak bangsa yang menyebabkan generasi muda akan sanggup memberikan momentum yang dinamis kepada pembangunan, kepada kemajuan, kepada modernisasi.

Untuk ilustrasi, apa yang di antaranya dimaksudkan dengan karakter masyarakat, dapat dikutip pendapat Letjen (Purn) Hasnan Habib, mantan Dubes RI di Amerika Serikat, yang dikemukakan dalam suatu seminar minggu lalu.

Ia kemukakan, ada tiga kebiasaan kita yang harus dihapus untuk menunjang kemajuan 1. kecendemn gan mencari kambing hitam, 2. kecendemngan untuk bersikap benar sendiri, dan 3. sikap curiga dan kekhawatiran yang berlebihan.

Kita boleh setuju atau tidak setuju dengan pendapat tersebut. Akan tetapi rasanya benar, bahwa untuk memper siapkan generasi muda menghadapi tantangan dan ke sempatan sejarah, di antaranya pembangunan watak bangsa adalah persyaratan.

KEBUDAYAAN, termasukkebudayaan politik, bertanggungjawab untuk menciptakan iklim yang bukan menghambat, melainkan merangsang sikap mandiri, percaya diri, berani mengambil risiko dan tanggungjawab.

Letjen (Purn) Sayidiman, mantan Gubernur Lemhannas, misalnya berpendapat, di antara kelompok-kelompok masyarakat Indonesia, yang tingkat kemandiriannya tinggi adalah kelompok masyarakat Indonesia keturunan Cina.

Sekali lagi, terlepas dari benar atau tidak anggapan itu, kita kutip pendapat itu, terutama untuk menunjukkan apa saja yang kita maksud sebagai watak bangsa yang diperlukan untuk membuat karya-karya besar, untuk sanggup melanjutkan pembangunan dari generasi ke generasi.

SEGERA tampil di depan kita, vitalnya tugas pendidikan dan strategisnya suatu sikap kenegarawanan dari semua orang-orang kunci dalam lapisan kepemimpinan Pemerintah, ABRI, masyarakat.

Jika misalnya pendidikan diangkat, muncullah dilema antara telur dan ayam. Orang akan mengatakan, pendidikan Indonesia dipengaruhi oleh keadaan masyarakat. Apakah hal itu berarti harus lebih dulu membuat keadaan masyarakat menjadi lebih baik sebelum pendidikan dapat diperbaiki.

Untuk menerobos lingkaran setan itu yang kita perlukan pada semua lapisan kepemimpinan adalah kemauan dan kesanggupan menangkap pesan yang disampaikan oleh Kepala Negara.

Kita sepakati kiranya bahwa terhadap usaha mempersiapkan generasi muda menjadi pembuat sejarah, yang harus kita lakukan bukanlah perpolitikan akan tetapi suatu visi luas dan arif kenegarawanan.

Apabila kita semua dapat menangkap maksud dan semangat amanat itu, akan dapat diusahakan pembangunan karakter generasi muda yang tanggap akan panggilan sejarah.Terpulang kepada kita, orangtua juga untuk menciptakan dan menyuburkan iklim yang positifbagi tumbuh kembangnya sikap mandiri, keberanian mengambil risiko,

keberanian bertanggungjawab, visi dan komitmen sosial yang mengatasi paham kelompok dan golongan.

Inilah pekerjaan rumah, menjabarkan iklim dan kebudayaan agar generasi muda mempunyai kesempatan yang optimal bagi persiapan diri serta agar kita bersedia mengambil langkah-langkah yang diperlukan.

 

 

Sumber : KOMPAS (26/06/1990)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XII (1990), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 629-632.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.