PRESIDEN: CIPTAKAN “BUDAYA MALU” KAWIN PADA USIA MUDA

PRESIDEN: CIPTAKAN “BUDAYA MALU” KAWIN PADA USIA MUDA

 

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto memintajajaran BKKBN untuk mendorong para orang tua untuk tidak menikahkan anak-anaknya pada usia muda, sehingga pada akhirnya tercipta “budaya malu” untuk kawin pada usia muda.

Harapan Kepala Negara itu dijelaskan Kepala BKKBN Haryono Suyono kepada wartawan setelah melapor kepada Presiden di Istana Merdeka, Kamis tentang perkembangan program keluarga berencana di tanah air.

Masalah ini menjadi sorotan penting Kepala Negara, karena di beberapa daerah masih cukup banyak orang tua yang menikahkan anak-anak mereka dibawah umur 20 tahun.

“Daerah-daerah mana saja yang masih cukup tinggi angka perkawinan pada usia muda?,” tanya Presiden kepada Haryono yang kemudian menjawab daerah itu adalah Propinsi Jawa Barat.

Haryono mengatakan jika orang tua terpaksa menikahkan putar-putri mereka dibawah 20 tahun, maka pasangan muda ini dianjurkan untuk mengikuti dahulu program KB.

Ketika menunjukkan kelemahan pernikahan pada usia muda, Haryono mengatakan bahwa rahim seorang wanita dibawah 20 tahun sebenarnya belurn siap bagi suatu kehamilan.

Kelemahan lain dari perkawinan pada usia muda adalah pasangan baru ini sebenarnya secara psikologis belum siap menjadi orang tua, karena pada tingkat usia ini mereka masih senang bermain-main.

“Kalau mereka sudah punya anak, sedangkan ibunya masih senang bermainĀ­main, maka anaknya pasti akan sering ditinggal,” kata Haryono.

Kepada Kepala Negara, juga dilaporkan perkembangan program KB Mandiri pada berbagai pabrik. Haryono menyebutkan sebuah pabrik pasti tidak akan rugi jika melaksanakan KB Mandiri, karena penundaan kehamilan seorang ibu yang menjadi karyawati pada sebuah pabrik akan mengakibatkan perusahaan tersebut bisa menghemat biaya pemeriksaan kehamilan serta biaya melahirkan. Produktifitas karyawati itu tetap bisa dipertahankan bahkan ditingkatkan karena tidak perlu cuti lama tiga bulan, kata Kepala BKKBN.

 

 

Sumber : ANTARA (13/12/1991)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIII (1991), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 719-720.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.