PRESIDEN: SESUAIKAN PRODUKSI PENGRAJIN DENGAN SELERA PASAR

PRESIDEN: SESUAIKAN PRODUKSI PENGRAJIN DENGAN SELERA PASAR

 

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto hari Kamis menganjurkan kepada para pengrajin cenderamata untuk memproduksi barang-barang yang sesuai selera pasar, baik di dalam maupun di luar negeri, agar apa yang mereka kerjakan benar-benar menguntungkan dan tidak sia-sia.

“Jadi, pertama-tama kita harus melihat dulu apa yang diperlukan, baru kemudian kita membuatnya supaya tidak mubazir,” katanya sebagaimana dikutip Ny. Siti Hardiyanti Hastuti Indra Rukmana selaku pengurus Yayasan Bhakti Nusantara Indah usai diterima Kepala Negara di Bina Graha, Jakarta.

Ny. Siti Hardiyanti Rukmana menghadap Presiden bersama sejumlah pengurus lain yayasan itu untuk melaporkan rencana mereka mengadakan pameran barang-barang kerajinan, khsususnya cenderamata, di Balai Sidang Senayan 22-31 Mei mendatang.

Pada kesempatan itu, Kepala Negara dalam petunjuknya juga menekankan perlunya bagi para pengrajin untuk minta bantuan atau bekerja sama dengan para mahasiswa senirupa berbagai perguruan tinggi dalam membuat disain barang-barang produksi mereka.

Pada sisi lain, menurut Presiden, jika mahasiswa memberikan bantuan tersebut maka mereka berarti telah melaksanakan pengabdian masyarakat yang merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Menyinggung soal ekspor barang-barang kerajinan, ia menyarankan agar dilakukan bekerjasama dengan Asosiasi Permebelan Indonesia mengingat kemampuan para pengrajin yang terbatas.

Pameran kerajinan yang direncanakan berlangsung di Balai Sidang itu merupakan yang kedua kalinya diselenggarakan oleh Yayasan Bhakti Nusantara Indah.

Ny. Siti Hardiyanti Rukmana mengatakan bahwa kalau pameran tahun lalu bertema “bapak angkat dan anak angkat” maka pameran tahun ini diadakan dalam upaya menunjang program pemerintah di bidang pariwisata.

Ditambahkannya bahwa pihaknya akan menjadikan pameran kerajinan tersebut sebagai pameran tetap tahunan dalam setiap bulan Mei.

Puteri Presiden Soeharto yang biasa dipanggil Mbak Tutut itu menjelaskan bahwa waktu penyelenggaraan dipilih Bulan Mei karena dalam bulan itu biasanya banyak wisatawan asing berkunjung ke Indonesia.

 

 

Sumber : ANTARA (11/05/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 412.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.