PRESIDEN: SISTEM TOTALITER TAK MAMPU KEJAR DINAMIKA MASYARAKAT

PRESIDEN: SISTEM TOTALITER TAK MAMPU KEJAR DINAMIKA MASYARAKAT

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto menegaskan, sistem pemerintah dan kenegaraan, yang totaliter serta sentralistis tidak akan mampu mengejar kecepatan gerak dinamika masyarakat yang didorong oleh ilmu pengetahuan dan teknologi.

Penegasan itu dikemukakannya ketika menerima 60 peserta Kursus Reguler Angkatan 23 Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) di Bina Graha, Selasa. Presiden didampingi Kasum ABRI Laksamana Madya TNI Sudibyo Rahardjo serta Gubernur Lemhanas Mayjen TNI Soekarto.

“Yang lebih sesuai dengan kebutuhan zaman kita adalah sistem yang memberikan peluang besar untuk tumbuh dan berkembangnya prakarsa dan kreatifitas masyarakat itu sendiri. Peranan pemerintah adalah sebagai pemberi peluang dan kesempatan,” kata Presiden.

Kepala Negara menambahkan fungsi pemerintah yang lainnya adalah menjadi pengayom, pengaman, dau pendukung bagi lapisan masyarakat yang membutuhkannya.

Ketika menyebut latar belakang pernyataannya ini, Kepala Negara merujuk pada berbagai perubahan mendasar yang terjadi di berbagai negara baik dalam bidang politik maupun ekonomi.

Negara-negara adikuasa mulai membongkar dan memusnahkan senjata penghancur massal. Sementara itu kehadiran pakta pertahanan dirasakan sudah mulai tidak ada lagi manfaatnya, kata Presiden.

“Mereka sedang bekerja keras melakukan pembenahan dalam negerinya masing-masing untuk menghadapi zaman baru ini,” kata

Presiden. Di lain pihak, Kepala Negara menyebutkan banyak negara berkembang yang masih terjerat pada masalah masa lampaunya.

Banyak dana/tenaga, pikiran serta waktu yang harus disediakan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut sebelum negara berkembang mulai memanfaat dari sumber dayanya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Perubahan-perubahan itu harus diamati oleh masyarakat secara cermat, antara lain meneliti dampak positif dan negatifnya, kata Presiden. “Kita perlu merumuskan pokok-pokok pegangan yang akan kita gunakan untuk menghadapi perkembangan itu dan untuk pembangunan bangsa kita selanjutnya dalam tahun-tahun mendatang,” kata Presiden.

 

Buka Diri

Ketika menyinggung peranan Lemhanas yang antara lain bertugas melakukan pengkajian, Presiden Soeharto menyampaikan harapannya agar lembaga pendidikan di lingkungan ABRI ini membuka diri lebih luas untuk berkomunikasi dengan berbagai lapisan masyarakat.

“Hasil-hasil kajian strategisnya perlu dimasyarakatkan lebih luas. Lembaga Pertahanan Nasional memang perlu kita kembangkan sebagai wadah nasional untuk pikiran-pikiran strategis,” kata Presiden.

Presiden menegaskan lembaga-lembaga pengkajian strategis mempunyai tugas memberikan peringatan dini terhadap peluang yang dapat dimanfaatkan masyarakat serta pemerintah ataupun risiko yang harus dihadapi dalam pembangunan.

Dalam kesempatan itu, Kepala Negara mengatakan kajian strategis pada tingkat nasional sudah cukup berkembang, namun kajian untuk tingkat daerah masih perlu dikembangkan, baik untuk melaksanakan kebijaksanaan dan strategi nasional maupun dukungan bagi otonomi daerah.

“Berpikir strategis berarti membiasakan kita mencari dan mengembangkan peluang berjangka panjang, serta menangani masalah­masalah potensial yang bisa menghalangi, bukan saja pada tingkat nasional tetapi juga tingkat daerah,” kata Presiden.

Presiden dalam pertemuan ini juga menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia telah melampaui babak-babak paling kritis dalam pembangunan bangsa. Tugasnya sekarang adalah mencurahkan segala pikiran, tenaga, serta waktu untuk membenahi diri.

“Kita tidak boleh takut menghadapi risiko, karena risiko pasti ada dalam bidang apa pun. Yang perlu kita lakukan adalah menekan risiko sampai batas minimum dengan perhitungan yang cermat dan melaksanakan keputusan yang kita ambil secara kenyal,” kata Presiden.

Seusai menerima para peserta KRA Lemhanas ini, Presiden beramah-tamah dengan para perwira ABRI yang mengikuti pendidikan ini sejak 9 April. Juga beberapa alumni Lemhanas.

 

 

Sumber :ANTARA (04/12/1990)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XII (1990), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 205-207.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.