PRESIDEN SOEHARTO: INDONESIA DAN YUGOSLAVIA SAMA-SAMA INGIN JADI “TUAN DI NEGERINYA SENDIRI”

PRESIDEN SOEHARTO:

INDONESIA DAN YUGOSLAVIA SAMA-SAMA INGIN JADI “TUAN DI NEGERINYA SENDIRI” [1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto menyatakan, Indonesia dan Yugoslavia sama2 ingin menjadi “tuan di negerinya sendiri” dengan menghormati kedaulatan dan hak tetangga­tetangganya untuk membangun masa depan menurut cita2 mereka sendiri.

Dari sini sebenarnya terletak kekuatan kita masing2 untuk bertahan terhadap segala tarikan dan tekanan dari kiri atau kanan, baik tarikan2 yang halus maupun tekanan2 yang kasar, dan dari sini pula lahir kepercayaan kita akan garis kebenaran yang kita perjoangkan dalam “non alignment”. Kepala Negara menyatakan hal tersebut dalam pidatonya pada jamuan santap malam kenegaraan yang diselenggarakan oleh Josep Broz Tito dan Nyonya Jovanka Broz, di Brioni, Yugoslavia Senin malam waktu setempat atau Selasa dini hari WIB.

Presiden menyatakan, makin eratnya hubungan persahabatan dan kerjasama antara Yugoslavia di belahan bumi barat dan utara dengan Indonesia dibelahan bumi timur dan selatan, pasti akan memberi sumbangan kepada terwujudnya dunia baru yang lebih berpengertian, damai, berperikemanusiaan, maju dan adil dari yang disaksikan sampai saat ini.

“Ke arah dunia yang demikian itu kedua negara kita akan terus bergandengan tangan lebih erat dan bekerja bahu membahu, baik bilateral, dalam lingkungan “non alignment” maupun internasional,” katanya menekankan.

Dikatakan, harapan kearah dunia yang lebih damai yang memungkinkan adanya kerjasama antar semua bangsa sebenarnya tidak terlalu gelap. Dalam hubungan ini disebutkan, usaha2 perdamaian di Timur Tengah dan peperangan di Indocina yang telah berakhir.

Sedangkan persiapan2 ke arah konferensi Eropa mengenai keamanan dan kerjasama tampaknya semakin matang, yang oleh Presiden diharapkan dapat menambah kokohnya stabilitas dan suasana damai di belahan bumi yang penting ini.

Presiden Soeharto dan Nyonya serta rombongan tiba di Yugoslavia dari Iran hari Senin siang waktu setempat untuk kunjungan sampai tanggal 2 Juli. Di lapangan terbang Pula, Presiden Soeharto disambut oleh Wakil Presiden Yugoslavia. Presiden Soeharto mengadakan kunjungan kepada Presiden Tito di Istana Brioni dan saling tukar menukar tanda mata.

Hari Selasa pagi waktu setempat, Presiden Soeharto akan menerima PM Yugoslavia Dzemal Bijedic untuk kemudian mengunjungi galangan kapal di Pula dengan menggunakan kapal Kepresidenan dari Pulau Brioni.

Lambang Perjoangan Kemerdekaan

Presiden Soeharto dalam pidatonya memuji perjoangan besar partisan2 Yugoslavia dimasa lampau, yang telah membuat bangsa ini besar di masa sekarang dan akan tetap besar di masa datang.

“Bagi saya dan berjuta-juta rakyat Indonesia, Yugoslavia bukanlah sekedar satu negara berdaulat dan bangsa yang merdeka. Dibalik itu, kami membayangkan Yugoslavia sebagai lambang dari suatu perjoangan kemerdekaan yang erat dan sukses, sebagai lambang dari keteguhan hati rakyat untuk hidup merdeka diatas kepribadiannya sendiri dan karena itu juga percaya pada diri sendiri”.

Presiden menyatakan, bangsa Indonesia mengenal Marsekal Tito tidak hanya sebagai seorang Presiden. Kami juga mengenalnya sebagai ahli ketentaraan yang ulung, yang membawa “The Battle of Nevoretva” terkenal di mana2. Kami mengenalnya sebagai pejoang yang gigih, negarawan yang ulung dan bapak rakyat yang menyatukan rakyat2 dan bangsa2 Yugoslavia.

Kami juga mengenalnya sebagai penggerak pembangunan yang berhasil, yang telah menempatkan Yugoslavia pada kemajuan di deretan terdepan di antara bangsa2 yang sedang membangun. Kami juga mengenalnya sebagai negarawan dunia yang terkemuka, pelopor dari “non alignment”.

“Sama halnya dengan Yugoslavia,” demikian Presiden, “bangsa Indonesia juga berjuang mengangkat senjata dalarn “Perang Rakyat Semesta” dan dengan kekuatan sendiri merebut dan mempertahankan kemerdekaan nasional. Tiga setengah abad penjajah asing yang kejam telah mematangkan kami sehingga mengerti benar apa arti kemerdekaan nasional”.

Pembicaraan

Presiden Soeharto menyatakan keyakinannya, bahwa tukar pendapat dan pembicaraan yang akan dilakukan dengan Presiden Tito akan memberikan manfaat bagi kedua negara, yang pasti sangat bermanfaat bagi kami sendiri.

“Dengan demikian, saya menganggap kunjungan saya ke Yugoslavia yang pertama ini, benar2 merupakan tonggak sejarah baru yang penting bagi eratnya persahabatan dan kerjasarna antara kedua bangsa.”

Presiden Soeharto selama di Yugoslavia mengadakan dua kali pembicaraan dengan Presiden Tito. Pertama hari Senin sore dan kemudian dilanjutkan hari Selasa sore. Sementara hari Rabu pagi, sebelum Presiden dan rombongan meninggalkan Yugoslavia menuju Kanada masih disediakan waktu untuk pembicaraan lanjutan dengan Presiden Tito.

Tata Hubungan Dunia Baru

Presiden Soeharto menyatakan, sekarang, semua bangsa dihadapkan pada tantangan kesempatan baru yang diberikan oleh suasana menuju terciptanya dunia yang lebih mau damai dan mau saling mengerti.

Sekarang dunia harus makin memusatkan perhatiannya kepada pembangunan bangsa2, — terutama bagi bangsa2 yang sedang membangun dan masih rendah taraf hidupnya — karena selama kemiskinan dan keterbelakangan masih membelenggu sebagian besar ummat manusia maka keresahan dunia tidak akan dapat lenyap.

Presiden menegaskan, haruslah dapat dibangun tata hubungan dunia yang baru, yang menjamin keadilan politik maupun ekonomi bagi semua bangsa, yang mendudukkan semua bangsa sebagai partner sederajat: baik antara negara2 besar maupun negara2 kecil, antara yang telah maju dan yang sedang membangun, antara negara penghasil dan negara pemakai.

“Semuanya perlu berkonsultasi dan berkooperasi, bukannya konfrontasi. Sebab, konfrontasi ekonomi sarna bahayanya dengan konfrontasi militer, yang selama dasawarsa terakhir ini acap kali membawa dunia ke tepi jurang kehancuran.”

“Mencari jalan bersama untuk menghadapi tantangan2 baru serta memanfaatkan kesempatan2 baru bagi kokohnya perdamaian dan lajunya pembangunan bangsa2 itulah saya rasa panggilan tugas negara2 “non aligned” yang utama dewasa ini,” demikian Presiden Soeharto. (DTS)

Sumber: ANTARA (30/06/1975)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 568-571.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.