Semua Pernah Khilaf Dan Keliru

Ende, 16 September 1998

Kepada

Yth. Bapak H.Mohammad Soeharto

di Jakarta

 

SEMUA PERNAH KHILAF DAN

KELIRU [1]

Assalamu’alaikum wr. wb.

Dengan hormat,

Semoga Bapak dalam keadaan sehat wal’afiat di dalam lindungan Allah swt. Saya anak petani sederhana yang dilahirkan 41 tahun yang lalu di salah satu desa terpencil di Kabupaten Dati II Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Sehubungan dengan banyaknya hujatan dan cemoohan kepada Bapak, saya merasa prihatin, sekaligus mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya atas kepemimpinan Bapak selama 32 tahun terhadap bangsa yang tercinta.

Ingin saya sampaikan kepada Bapak, bahwa saya pernah hidup beberapa tahun masa di Orde Lama dan mengetahui sedikit perkembangan baik di bidang ekonomi, politik, dan pendidikan pada masa itu.

Ekonomi kita pada permulaan Orde Baru sangat-sangat parah, lebih parah daripada keparahan ekonomi yang sekarang kita hadapi. Akan tetapi, dengan kepemimpinan Bapak, ekonomi kita yang porak-poranda mulai dibenahi dan ditata tahap demi tahap.

Akhirnya kita dapat keluar dari krisis tersebut. Kemajuan-kemajuan pesat diraih pada masa Orde Baru di berbagai bidang, termasuk bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta bidang-bidang lain yang tidak dapat diuraikan satu demi satu dalam surat ini. Kesemuanya itu tidak dapat disangkal. Yang saya sampaikan ini benar-benar keluar dari lubuk hati saya yang paling dalam.

Harus diakui setiap manusia baik rakyat jelata maupun pejabat tinggi seperti presiden sekalipun pasti memiliki kelebihan dan kekurangan serta kekhilafan dan kekeliruannya.

Akhirnya atas kerelaan Bapak meluangkan waktu untuk membaca surat ini, saya ucapkan terima kasih. (DTS)

Wassalam,

Harsono Ahmadi Koda

Flores – NTT.

[1]     Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 903-904. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto menyatakan berhenti dari kursi Kepresidenan. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.