BANK2 SWASTA HARUS PIKIRKAN DAMPAK SOSIAL

BANK2 SWASTA HARUS PIKIRKAN DAMPAK SOSIAL

Permintaan Presiden

Presiden Soeharto Kamis siang meminta, agar bank2 swasta dalam memberikan kredit menghindarkan pemberian kredit kepada nasabah yang sifatnya dapat ikut memperlebar kesenjangan antara yang kaya dan miskin, atau yang besar dan yang kecil.

Bank swasta harus berperan secara aktif, tetapi dalam pemberian kredit harus bersifat selektif, edukatif danj angan terlalu berorientasi pada mencari keuntungan semata2.

Permintaan tsb disampaikan Presiden kepada pengurus Perbanas (Perhimpunan Perbankan Nasional Swasta), yang diterima Kepala Negara di Bina Graha.

Ketua Umum Perbanas I Nyoman Munah, selesai pertemuan dengan Presiden Soeharto kepada pers menjelaskan, pemberian kredit yang merangsang konsumsi yang dimaksudkan Presiden adalah misalnya pemberian kredit kepada nasabah yang diperuntukkan untuk mengimpor barang2 mewah.

Cara ini, dinilai tidak edukatif, karena itu pemberian kredit harus sekaligus memikirkan dampak sosialnya kepada masyarakat.

Presiden juga berpesan, agar bank swasta ikut berperan dalam menstabilkan keadaan, untuk mana tidak terpancing terhadap isu, bahwa pemerintah se-olah2 akan mengambil tindakan yang bersifat mengejutkan dibidang moneter.

Mengutip Presiden, I Nyoman Muna mengatakan, pemerintah tetap menganut kebijaksanaan, moneter devisa bebas. Jadi kalau ada pendapat mengatakan, kebijaksanaan moneter Indonesia di bidang devisa sangat ketat, itu tidak benar.

Mengenai perkembangan bank2 swasta, Ketua Umum Perbanas mengatakan, sangat menggembirakan. Sebagai indikator seluruh asset dari bank2 asing, pemerintah maupun swasta pada tahun 1981 sebesar Rp 11 trilyun, dibanding tahun 1960 asset itu mengalami kenaikan 25%, dan ternyata 51% dicapai oleh bank swasta.

Dari segi kepercayaan masyarakat pada dunia perbankan misalnya, pada tahun 1981 nilai nominal sebesar Rp 8 trilyun, ini berarti, mengalami kenaikan 25% tahun 1980.

Dari kenaikan itu, seluruhnya pihak bank swasta mengalami peningkatan 65%. Faktor lainnya yang mempercepat peningkatan bank2 swasta, menurut Ketua Umum Perbanas karena diberinya kesempatan yang luas oleh pemerintah, misalnya melalui Keppres 14 dan 14A dan keputusan dari Menteri Keuangan, agar seluruh bank2 pemerintah menerima jaminan dari bank2 swasta. Hal tsb dilukiskan I Nyoman Munah sebagai suatu revolusi di dunia perbankan.

Presiden memberi petunjuk, agar bank2 swasta terus menerus meningkatkan potensi dan daya tahan (resistensi) dalam menghadapi resesi perekonomian dunia.

Jika resesi berkelanjutan mau tidak mau hal itu akan berpengaruh pada perekonomian dalam negeri. (RA)

Jakarta, Sinar Harapan

Sumber : SINAR HARAPAN (16/09/1982)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 992-993.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.