HM Said: Pak Harto Tidak Kenal Pilih Kasih

Tidak Kenal Pilih Kasih

Ir. HM Said (Gubernur/Kepala Daerah Kalimantan Selatan, sejak 1985)

Sejak menjadi mahasiswa, saya selalu mengikuti kegiatan-kegiatan para pemimpin bangsa Indonesia. Awal tahun 1964 saya mulai bekerja. Melalui TVRI yang disiarkan pada awal bulan Oktober 1965, bangsa Indonesia menyaksikan Pak Harto berada di tengah­tengah para prajurit TNI dan masyarakat dalam upaya penumpasan G-30-S/PKI. Dari siaran TVRI kita melihat Pak Harto di tengah­tengah kegiatan penggalian jenazah para pahlawan bangsa yang menjadi korban keganasan G-30-S/PKI. Pada waktu itu, dalam usia yang relatif masih muda, timbul kesan yang mendalam pada diri saya, menyaksikan ketenangan Pak Harto di tengah-tengah para prajurit TNI dan masyarakat. Kepada beliau tercurah harapan untuk dapat menyelamatkan bangsa ini dan meluruskan perjuangan yang sesuai dengan cita-cita proklamasi.
Kita mengucapkan syukur sedalam-dalamnya kepada Allah SWT, Pak Harto, yang pada waktu itu sebagai Panglima Kostrad, bersama RPKAD yang terkenal, telah mengambil langkah-langkah yang tepat dalam mengatasi situasi. Ini suatu mukjizat, inilah tanda dari kebesaran Tuhan. Sebab, meskipun sangat banyak kesalahan yang telah dilakukan oleh Bung Karno, namun tidak terbayangkan ada kekuatan manusia yang dapat mengoreksi dan meluruskan, mengingat Bung Karno adalah Pemimpin Besar Revolusi dan penyandang berpuluh gelar.
Sejak saat itu, sebagai pegawai negeri, saya selalu mengagumi Pak Harto. Dari tahun 1966 sampai dengan tahun 1981 tiga kali Pak Harto berkunjung ke Kalimantan Selatan. Yang pertama, beliau mengunjungi persawahan pasang surut dengan transmigrasinya. Kunjungan beliau yang kedua dalam rangka meresmikan PLTA Riam Kanan, dan yang ketiga, beliau meresmikan Masjid Raya Sabilal Muhtadin, yang pada waktu itu saya menjadi Kepala Proyeknya. Dalam tiga kali kunjungan Pak Harto ke Kalimantan Selatan tersebut saya belum memperoleh kesempatan bertemu langsung dengan beliau.
Dalam tahun 1981, dengan Surat Keputusan Presiden RI, saya dipercayakan menjadi Wakil Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan. Pada bulan September 1981, saya bersama Gubernur /Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan waktu itu (almarhum Mayjen. Purn. H Mistar Tjokrokoesoemo) menghadap Pak Harto. Itulah saat pertama kali saya menghadap beliau dan inenerima secara langsung pula amanat beliau kepada kami. Kesan pertama saya adalah bahwa beliau sangat sederhana, kebapakan dan menguasai permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Pemikiran beliau tepat dan disampaikan dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dicerna.
Pada bulan Februari 1985, saya dipercayakan menjadi Gubernur/ Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan. Saya meminta waktu, dan memperoleh kesempatan yang sangat berharga menghadap beliau. Dalam kunjungan beliau ke Kalimantan Selatan pada bulan Februari 1988, untuk meresmikan pelbagai industri di bidang kehutanan di Kalimantan Selatan, dan dalam bulan Desember 1989, untuk upacara Pekan Penghijauan Nasional di desa Mandiangin, Kalimantan Selatan, saya memperoleh kesempatan yang sangat ber­ harga pula mendampingi beliau selama kunjungan kerja tersebut.
Pada waktu saya bersama Gubernur terdahulu (almarhum H Mistar Tjokrokoesoemo) menghadap Pak Harto, terkesan dengan jelas bahwa Pak Harto sangat banyak mengenal Kalimantan Selatan. Beliau memahami secara sangat mendalam program-program yang sedang dilaksanakan. Pelajaran yang dapat saya ambil ialah bahwa jika menjadi pemimpin, pahamilah secara mendalam masalah­masalah yang dihadapi oleh mereka yang kita pimpin, dan kemudian Iaksanakan dengan penuh keyakinan. Insya Allah akan berhasil, sebagaimana Pak Harto berhasil membawa bangsa yang besar ini mengatasi berbagai permasalahan.
Setelah dilantik sebagai Gubernur /Kepala Daerah, saya memperoleh kesempatan yang sangat berharga menghadap Pak Harto; Mengingat pengalaman pada pertemuan langsung yang pertama kali dengan beliau pada tahun 1981, maka sebelum menghadap beliau, saya benar-benar mempersiapkan diri, mempelajari data-data; informasi, situasi dan kondisi Kalimantan Selatan. Program program yang akan dilaksanakan saya pelajari dengan sebaik-baiknya. Saya diterima di Istana Merdeka. Seperti sudah mengetahui persiapan saya, sambil tersenyum, beliau memberikan petuah tentang hakikat seorang pemimpin berdasarkan falsafah dan petuah orang-orang bijaksana bangsa Indonesia sendiri. Selama lebih kurang satu jam beliau memberi nasihat dan petunjuk yang sangat berguna bagi saya pribadi dalam memikul tanggung jawab yang begitu penting sebagai Gubernur/Kepala Daerah.
Amanat yang saya terima dari beliau itu selalu terukir di hati sanubari saya, dan dalam kesempatan-kesempatan tertentu saya teruskan kepada generasi muda dan para Bupati/Walikotamadya serta pimpinan instansi di daerah. Diantara petuah beliau yang dapat kami tuturkan kembali adalah sebagai berikut (tentunya tidak setepat seperti yahg telah beliau berikan):

Sebagai orang muda, ada tiga hal yang harus diwaspadai. Tiga hal yang dimaksud adalah tiga ta, yaitu: tahta, harta dan wanita. Jika tiga ta ini selalu diingat-ingat untuk selalu diwaspadai sepanjang hidup kita, maka insya Allah akan selamat. Lebih-lebih lagi bagi kita yang dipercayakan memegang amanat rakyat ini.
Tahta atau jabatan tidak perlu dikejar dengan berkelebihan. Ia akan datang dengan sendirinya, asalkan dalam melaksanakan tugas apa saja yang dipercayakan kepada kita dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, dengan penuh pengabdian. Apalagi sebagai anggota Korpri, kita adalah Abdi Negara dan Abdi Masyarakat. Pimpinan akan menilai seseorang, apakah ia berkarya atau tidak,. apakah ia dipercaya atau tidak. Masyarakat akan selalu menyoroti kita, apakah kita benar-benar sebagai Abdi Negara dan Abdi Masyarakat atau tidak. Dari situlah karir kita akan ditentukan. Lebih dari-pada itu Tuhan akan menolong hamba-Nya yang selalu taat melaksanakan perintah-perintah-Nya. Karena itu, selalulah ingat kepada-Nya.
Demikian pula dengan harta. Harta tidak selalu membahagiakan. Banyak orang kaya yang hidupnya menderita; jauh lebih berbahagia para petani yang hidupnya pas-pasan. Apalagi kalau memperoleh harta itu dengan cara yang tidak terpuji. Biasakanlah bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan kepada kita. Nikmatilah dan manfaatkanlah harta kita yang ada itu dengan sebaik-baiknya. Adalah lebih berbahagia lagi, apabila dengan harta yang terbatas kita masih dapat menyisihkan sebahagian untuk membantu orang-orang yang memerlukannya, dan membayar zakat. Tangan yang di atas lebih mulia dari tangan yang di bawah. “Namun saya tidak ingin”, demikian petuah Pak Harto, “Saudara sebagai Gubernur/Kepala Daerah tidak punya apa-apa, hidup melarat; hidup yang wajar sajalah sesuai dengan jabatan Saudara”.
Ta yang ketiga adalah wanita. Hati-hatilah dengan ta yang ketiga ini. Banyak contoh negarawan dan orang-orang besar yang jatuh karena ta yang ketiga ini. Apalagi sebagai orang berpangkat, tentu juga punya harta, akan banyak pengagum. Pejabat sekarang memang berbeda dengan pejabat pada masa dahulu, meskipun di zaman sekarang ini pun godaan itu tetap ada. ”Saya juga pernah muda”, kata Pak Harto sambil tersenyum.

Selanjutnya Pak Harto memberikan nasihat:

“Sebagai seorang pemimpin, milikilah tiga sifat yang menyatu dalam diri kita, yaitu sebagai Ratu, Pendeta dan Petani. Ratu adalah pengayom dan pelindung rakyat. Ia mempunyai sifat bijaksana dan adil dalam bertindak. Pendeta adalah seseorang yang welas asih, memiliki pengetahuan yang luas dan dalam, tempat orang bertanya dan meminta nasihat. Petani adalah seseorang yang bekerja tanpa meminta balas jasa. Mereka sangat berjasa bagi bangsa dan negara. Jika terjadi bencana alam, mereka tidak menuntut, tetapi bangkit kembali untuk bekerja. Mereka tidak mengenal putus asa, mereka tidak banyak menuntut, mereka berbuat apa adanya. Namun, apa yang mereka kerjakan akan mendapat ganjaran pahala dari Tuhan Yang Maha Esa.”

Terakhir beliau berpesan agar selalulah ingat (eling) kepada Tuhan Yang Maha Esa (Allah SWT) di manapun dan kapanpun. Petuah-petuah beliau ini mengingatkan saya akan guru-guru agama saya yang selalu menasihati dengan penuh welas asih, tanpa pamrih, dengan air muka yang bersih dan penuh wibawa. Teringatlah saya akan ayat-ayat Qur’an yang selalu ditanamkan oleh para tuan guru kedalam sanubari antara lain:Surat Ibrahim ayat 7, yang artinya: Kalau engkau bersyukur atas nikmat-Ku niscaya Aku akan menambahkannya. Tetapi jika engkau kufur, sesungguhnya azab-Ku maha pedih.

Saya yakin petunjuk Allah SWT ini juga selalu menjadi pegangan Pak Harto. Surah Ar Ra’ du ayat 11, yang artinya:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu bangsa, kecuali atas usaha yang sungguh-sungguh dari bangsa itu sendiri.

Petunjuk Allah SWT ini sering diucapkan oleh Pak Harto, terakhir dalam pidato kenegaraan beliau di depan sidang pleno DPR tanggal 16 Agustus 1988, yang berbunyi:

“Hati kita dikuatkan oleh keyakinan yang kita percayai bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu bangsa kalau bukan bangsa itu sendiri yang mengubahnya. Dan kita memang menyadari bahwa keberhasilan pembangunan nasional di masa datang akan ditentukan oleh peranan sentral manusia Indonesia yang berkualitas”.

Hal ini menambah keyakinan saya, bahwa Pak Harto benar­benar meyakini dan melaksanakan ajaran-ajaran agama yang beliau anut. Pada waktu saya melaporkan diri setelah selesai dilantik sebagai Gubernur/Kepala Daerah, dalam hal penempatan seseorang, Pak Harto menegaskan bahwa tidak ada pilih kasih antara suku bangsa yang memang sangat banyak di Indonesia ini, tidak ada pilih kasih antara ABRI dan non-ABRI. Semuanya memperoleh kesempatan yang sama. Beliau berusaha untuk menempatkan seseorang sesuai kemampuan dan dedikasi yang bersangkutan. Bagi saya halini sesuai dengan sabda Rasullullah SAW:

“Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tunggu saja ke­ hancuran” (seperti diriwayatkan oleh Jalaluddin as-Sayuti).

Sejak Pak Harto memimpin Republik Indonesia ini, jelas sekali terlihat dan terbaca ketelitian beliau dalam memilih pembantu-pembantunya, yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta ke butuhan pada setiap Pelita. Dan ternyata pilihannya tepat, sehingga keberhasilan, demi keberhasilan diraih oleh bangsa Indonesia. Dalam membangun pangsa dan negara ini, langkah beliau yang pertama adalah stabilitas. Tanpa stabilitas,. tidak mungkin pembangunan selanjutnya bisa dilaksanakan. Dan, inipun sesuai firman Allah SWT, yang tertuang dalam surah An Nahl 12, yang artinya:

“Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman dan tenteram, kemudian kemakmuran datang melimpah ruah dari segenap penjuru. Tetapi karena penduduknya mengingkari nikmat-nikmat yang telah dikarunia Allah, maka diturunkanlah azab Allah berupa kelaparan dan ketakutan, disebabkan oleh perbuatan mereka sendiri.”

Jelas sebelum kemakmuran tiba, faktor stabilitas (aman dan tenteram) harus tercipta. Kemudian bangsa ini harus dapat memanfaatkan kemakmuran itu dengan sebaik-baiknya Jangan lupa diri, jika tidak maka Tuhan kernbali•akan menurunkan azab-Nya (berupa kelaparan dan ketakutan). Sekarang ini berkat perencanaan yang tepat, stabilitas sudah mantap, dan kemakmuran mulai terlihat. Semoga bangsa ini tidak lupa diri, selalu bersyukur atas segala nikmat yang diberikari Allah SWT, sehingga kemakmuran yang lebih besarlah yang selalu akan kita terima.
Pengalaman bertemu dengan Pak Harto ini merupakan pengalaman yang sangat berarti dalam bidup saya selanjutnya. Saya akan berusaha dengan sungguh-sungguh dan dengah segala kemampuan yang ada pada diri saya untuk memenuhi harapan beliau, yang mempercayakan suatu jabatan yang sangat tinggi dalam hidup saya. Saya lebih memahami lagi kepribadian beliau sebagai pemimpin dari bangsa yang memiliki bermacam ragam budaya, dengan ribuan pulau yang letaknya sangat strategis. Saya memahami gagasan­gagasan besar yang beliau kemukakan seperti proyek Palapa. Saya memahami usaha beliau yang terus menerus menganjurkan petani agar meningkatkan produksi pangan, sehingga bangsa ini terbebas dari ketergantungan pada bangsa lain dalam hal pangan. Saya juga kagum akan kesungguhan beliau yang tidak jemu-jemunya menganjurkan rakyat melaksanakan Keluarga Berencana, sebab akan tidak ada artinya swasembada pangan apabila pertambahan penduduk tidak terkendalikan.
Saya memahami tindakan beliau yang penuh perhitungan dan kearifan. Gagasan beliau bersama Ibu Tien Soeharto. untuk membangun Taman Mini Indonesia Indah sesungguhnya adalah demi persatuan dan melestarikan budaya bangsa. Saya memahami kebijaksanaan beliau dalam bidang keuangan, yang dengan penuh perhitungan menerima pinjaman dari luar negeri dan mengundang modal dari luar negeri, untuk mempercepat pembangunan ekonomi
Indonesia. Tanpa percepatan ini bangsa kita akan jauh ketinggalan dari bangsa-bangsa lain yang telah maju. Salah satu cita-cita beliau adalah mewujudkan koperasi sebagai suatu gerakan masyarakat sesua; dengan amanat UUD 1945. Bangsa indonesia hars yakin seperti Pak Harto bahwa dengan koperasi, masyarakat petani dan golongan ekonomi lemah lainnya akan dapat meningkatkan kesejahteraannya. Koperasi bukanlah saingan swasta, dan bukan pula saingan BUMN. Ketiga lembaga ini hams salirig mendukung, agar tidak terjadi kepincangan dalam ekonomi bangsa kita. Dalam hal koperasi ini, para gubernur/kepala daerah pernah mendapatkan penjelasan khusus dari Pak Harto. Beliau sangat menguasai berbagai permasalahan yang dihadapi dalam usaha pengembangan koperasi di tanah air. Penguasaan terhadap masalah ini beliau peroleh, temtama karena secara incognito beliau melihat dan meneliti langsung pada KUD-KUD di pedesaan

***

___________________________

Sumber: Ir. HM Said, ” Tidak Kenal Pilih Kasih”, dalam buku “Diantara Para Sahabat: Pak Harto 70 Tahun” (Jakarta: PT. Citra Kharisma Bunda, 2009), hal 928-934

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.