DUNIA DIPENUHI BERBAGAI KETEGANGAN

PRESlDEN MELANTIK 5 DUBES RI :

DUNIA DIPENUHI BERBAGAI KETEGANGAN

Presiden Soeharto menyatakan, umat manusia masih jauh dari rasa damai. Dunia malahan makin dipenuhi oleh berbagai ketegangan, yang sewaktu-waktu dapat meledak dan menghancurkan peradaban manusia. Hal itu dinyatakan oleh Presiden Rabu pagi di Istana Negara, ketika melantik 5 orang Dubes baru Rl.

Perlombaan senjata antara kekuatan-kekuatan besar dunia, bukannya berhenti, sebaliknya malahan menjadi jadi, kata Kepala Negara.

"Tidak terbilang besarnya biaya yang dihamburkan untuk membuat senjata yang hanya akan saling memusnahkan pihak-pihak yang berhadap-hadapan. Pada gilirannya, biaya perlombaan persenjataan ini mengurangi kemampuan dunia untuk membantu ratusan juta manusia di negara­negara yang sedang membangun yang bergumul dari hari ke hari untuk melawan kelaparan, penyakit dan keterbelakangan lainnya," kata Presiden.

Presiden menegaskan, dunia ini adalah milik bersama semua bangsa, semua negara dan seluruh umat manusia. Karena itu, semua bangsa dan semua negara dan seluruh umat manusia hendaknya memikul tanggung-jawab bersama yang sebesar­besarnya untuk menyelamatkan Tanah Air yang satu bagi semua bangsa, semua negara dan seluruh umat manusia itu.

"Tidak satu negara pun kata Kepala negara, juga tidak negara yang betapa besar dan kuatnya sekalipun mempunyai hak moral yang sah untuk meledakkan senjata pemusnah yang dasyat, yang akan menghancurkan wilayah-wilayah luas dan menyebarkan kebinasaan di muka bumi."

Tahun-tahun Berat

Didelaskan lagi, oleh Presiden, bahwa dunia pun sedang mengalami kelesuan ekonomi yang berkepanjangan. Kemacetan ekonomi negara-negara industri maju, membawa akibat-akibat buruk yang luas pada negara-negara yang sedang membangun yang didiami oleh bagian terbesar umat manusia.

Sebagian negara-negara industri maju mengira, bahwa ekonomi dunia dapat dibangkitkan kembali jika ekonomi negara-negara industri maju akan bersifat sementara saja, yang bukannya tidak mustahil, akan datang lagi oleh krisis-krisis kelanjutannya yang lebih parah. Demikian Presiden.

Berbagai krisis dunia, baik krisis perdamaian maupun krisis perekonomian, sesungguhnya bersumber pada tata hubungan dunia lama yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan tidak menjamin keadilan.

Untuk mengatasi, kata Kepala Negara, perlu ada kemauan politik semua bangsa dan semua negara untuk memperbaiki keadaan dunia kita. Bersama-sama memikul tanggung jawab kemanusiaan menyelamatkan dunia dari bahaya kehancuran. Kata Kepala Negara.

"Dalam arti itu, sangat tepat petunjuk GBHN, agar kita berjuang untuk mernbangun tata dunia baru, khususnya Tata Ekonomi Dunia Baru." Ucap Presiden.

Dampak perkembangan dunia yang tidak cerah itu pasti akan terasa dalam usaha kita untuk rnelaksanakan Repelita IV, yang rnerupakan kerangka landasan bagi tahap tinggallandas dalam pembangunan selanjutnya nanti. Karena itu, kita menyadari bahwa tahun-tahun yang akan datang adalah tahun-tahun yang berat, penuh ujian dan tantangan.

"Untuk sebagian, jawaban terhadap tantangan itu, terletak di pundak saudara­saudara semua, para Duta Besar yang hari ini saya lantik. Juga terletak di pundak semua Duta Besar kita lainnya yang bertugas di seluruh dunia", kata Presiden kepada para Dubes yang baru itu.

Seperti diberitakan kemarin, ke-5 Dubes RI yang baru tersebut adalah “Drs. Martono Kadri, untuk Emirat Arab, Kuwait merangkap Bahrain, Bambang S.Kusumonegoro, untuk Republik Demokrasi Laos, Dr. Hasjim Djalal, untuk Kanada, Letjen (Purn) Wiyogo Atmodarminto, untuk Kerajaan Jepang dan lien Surianegara, Republik Demokrasi Rakyat Al jazair, merangkap Mali dan Pemerintah Guinea"

Hadir dalam upacara pelantikan ke-5 Dubes tersebut, Ibu Tien Soeharto, Wapres Umar Wirahadikusumah, lbu Umar Wirahadikusumah, sejumlah Menko, Menteri­Kabinet Pembangunan IV, para Ketua Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara, para pejabat tinggi sipil dan militer, serta sejumlah undangan, antara lain pada keluarga Dubes yang baru dilantik itu. (RA).

Jakarta, Berita Buana

Sumber : BERITA BUANA (1983)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 48-49.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.