KEDUDUKAN DAN KEPEMIMPINAN

Induk Karangan :

KEDUDUKAN DAN KEPEMIMPINAN [1]

 

Jakarta, Pelita

Pada waktu berhadapan dengan pers selesai menemui Presiden Soeharto di Istana Merdeka, hari Senin, Kas Kopkamtib Laksamana Soedomo sempat menyinggung masalah kepemimpinan.

Yang disinggung bukanlah masalah kepemimpinan nasional, tapi persyaratan yang harus dimiliki seorang pemimpin, yang Pancasilais pemimpin rakyat, pejuang dan sebagai Orde Baru.

Walaupun belum lengkap secara keseluruhan, namun demikian, apa yang dikemukakan Soedomo mengenai kepemimpinan yang harus kita miliki, kiranya dapat dijadikan sebagai bahan bandingan.

Secara objektif harus bisa menilai sendiri apakah kita sebagai pemimpin sudah melaksanakan Pancasila secara konsekwen, apakah sudah menyelenggarakan amanat yang dipercayakan rakyat dan apakah masih tetap berjuang di barisan Orde Baru.

Pertanyaan tersebut masih bisa lagi ditambah dengan serangkaian pertanyaan lainnya, yang kesemuanya berkisar pada akhlak kepemimpinan yang harus dimiliki.

Akhlak kepemimpinan itu berlaku untuk semua orang, karena pada dasarnya setiap orang adalah pemimpin suatu kelompok tertentu yang akan dimintai pertanggungan jawabnya.

Kepemimpinan yang bertanggungjawab dalam arti bertanggungjawab kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kepada masyarakat yang dipimpinnya, suatu tanggung jawab vertikal ke atas dan ke bawah.

Kepemimpinan yang demikian itu tidak terlalu mementingkan masalah kedudukan. Kedudukan seseorang hanyalah abdi dalam tingkatan dan belum tentu sama dengan kepemimpinan vertikal itu.

Ke atas, seorang pemimpin hendaknya berpedoman kepada ajaran Tuhan Yang Maha Esa dan berorientasi pada kebenaran. Ke bawah, kepemimpinan itu berorientasi kepada yang “lemah”.

Orientasi kepemimpinan pembangunan ke sektor pedesaan dan ekonomi lemah, hanyalah satu misal. Lemah bukan berarti berorientasi pada kelemahan, kemalasan, produktivitas rendah dan sebagainya.

Dengan orientasi tersebut, kepemimpinan itu akan berlangsung secara adil. Walaupun sulit menentukan kriteria adil, tapi berorientasi pada keadilan bisa dijalankan.

Kepemimpinan yang adil, jujur dan bertanggungjawab menyelenggarakan dan menyelesaikan amanat yang dipercayakan kepadanya, adalah yang dituntut dalam pembangunan dewasa ini.

Kepemimpinan yang demikian itu pulalah yang diharapkan bisa mengorganisir kelompok2 masyarakat dan mengarahkannya dalarn proses pembangunan yang juga perlu dimanage dengan baik.

Kepemimpinan yang tidak terlalu ditekankan pada kedudukan tapi yang dilandasi oleh kerakyatan, keadilan, kejujuran dan yang berorientasi pada pembangunan hendaknya dimiliki pejabat2 serta tokoh2 masyarakat dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya. (DTS)

Sumber: PELITA (18/11/1975)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 693-694.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.