PRESIDEN: WANITA JANGAN TINGGALKAN TUGAS KODRATINYA

PRESIDEN: WANITA JANGAN TINGGALKAN TUGAS KODRATINYA

 

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto mengemukakan, partisipasi wanita dalam kegiatan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara telah membawa banyak hasil, namun keikutsertaan mereka tidak boleh mengakibatkan ditinggalkannya tugas kodratinya.

“Keikutsertaan kaum wanita dalam pembangunan nasional tentu saja tidak boleh sampai mengabaikan tugas-tugas kodrati mereka,” kata Kepala Negara pada acara peringatan Hari Ibu ke-63 di Taman Mini Indonesia Indah, Sabtu.

Pada acara yang dihadiri pula Ibu Tien Soeharto, Wakil Presiden Sudharmono, SH dan Ibu EN Sudharmono serta sejumJah tokoh wanita, Presiden mengatakan, tugas kodrati wanita berkaitan dengan pembinaan rumah tangga dan keluarga.

“Jika keluarga kita dapat hidup mantap, maka mantap pulalah kehidupan masyarakat. Jika kehidupan keluarga kita goncang, maka akan goyah pula kehidupan masyarakat kita,” kata Kepala Negara di hadapan para hadirin yang memenuhi ruang upacara.

Ketika menekankan pentingnya pembinaan keluarga, Kepala Negara menyatakan, keluarga merupakan lingkungan hidup utama dan pangkalan untuk menghadapi petjuangan hidup.

“Karena itu, peningkatan kemampuan kaum wanita dalam pembinaan rumah tangga dan keluarga harus terus-menerus kita tingkatkan. Lebih-lebih bagi mereka yang tinggal di pedesaan dan tempat kumuh di kota besar,” kata Presiden.

Diingatkan, jika pembinaan keluarga berhasil, maka akan lahir manusia Indonesia yang makin berdisiplin, kreatif, serta lebih berani dalam mengambil prakarsa.

Sekalipun peningkatan kualitas itu bisa diperoleh di berbagai lembaga pendidikan, Kepala Negara mengingatkan bahwa landasan dasarnya tetap berada pada keluarga.

“Landasan pembentukan watak dan keluarga itu adalah kaum ibu. Ibulah yang hampir sepanjang waktu hidup dengan putra dan putrinya. Ibulah yang menanamkan kerangka dasar watak manusia baru Indonesia itu,” kata Presiden.

Kepala Negara mengatakan, untuk mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera perlu dimasyarakatkan kesadaran tentang konsep ibu sejahtera.

“Untuk itu, kita harus mengingatkan masyarakat tentang kerugian perkawinan dalam usia muda, tentang usia yang paling baik untuk melahirkan anak pertama, manfaat keluarga berencana, serta peningkatan pengetahuan dan keterampilan wanita,” kata Presiden.

Pada acara ini, Presiden mencanangkan Gerakan Bina Keluarga Balita serta Kampanye Ibu Sehat. Kepala Negara pada acara ini menyerahkan beberapa penghargaan kepada para wanita yang berperan dalam meningkatkan keterampilan kaumnya. Juga diserahkan sumbangan bagi empat keluarga yang ibunya meninggal ketika menjalankan tugas PKK di Ketapang, Kalbar baru-baru ini.

Acara peringatan Hari Ibu ini juga dimeriahkan oleh acara kesenian yang dibawakan penyanyi terkenal Raflka Duri, kelompok Geronimo, serta paguyuban pelawak.

 

 

Sumber : ANTARA (21/12/1991)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIII (1991), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal.725-726.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.